"Pulang?"
"Iya. Semua orang saat ini dalam perjalanan pulang..." Suaranya terdengar berat, berbaur dengan deru angin malam yang sisa hujan. "Ada yang pulang ke rumahnya malam ini, ada yang pulang kepada keluarganya, dan suatu saat nanti, kita semua pulang kepada Tuhan. Makanya jangan terlalu sibuk ingin terlihat besar di mata manusia. Sebab pada akhirnya, yang mengantar kita ke liang kubur bukan jabatan, bukan tepuk tangan, bukan jumlah pengikut."
“Owh gitu ya, Pak.” Ucup dan Asep mengosongkan pikirannya sesaat, keduanya melamun. "Hanya amal baik dan beberapa orang yang benar-benar tulus mencintai kita."
Warung kopi itu mendadak terasa lebih hangat walau hujan turun. Ucup memandang Asep. Asep mengaduk sisa kopinya. Tukang ojek online itu kembali memakai helmnya.
"Makasih kopinya, Dek."
Motor tuanya menyala. Suaranya menderu membelah keheningan, lalu perlahan bergerak menjauh menembus genangan air. Kepergiannya meninggalkan dua mahasiswa yang berdiri mematung di pinggir jalan, terdiam menghadapi kenyataan bahwa mereka belum menemukan jawaban atas pertanyaan terbesar dalam hidupnya.
Dan mungkin, seperti kebanyakan manusia lainnya, mereka baru menyadari bahwa mereka belum sempat mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Sebuah rahasia eksistensi yang tidak akan pernah benar-benar dijawab oleh orang lain, oleh kartu identitas, oleh gelar akademik, atau oleh riuh tepuk tangan manusia. Melainkan oleh hal sederhana: Masihkah kita menjadi manusia yang ingin berbuat baik? paling tidak, berusaha berprasangka baik.
***
Kegelapan yang membentang malam ini sungguh menguras energi. Pintu rumah para warga banyak yang terbuka. Hujan mendadak berhenti kala tiba waktu Isya. Macet di jalan alternatif kian memanjang.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un..."
Speaker masjid beradu, memberi kabar duka yang menimpa kampung itu. Tiga warga meninggal dunia, dua lansia dan satu remaja. "Telah berpulang ke rahmatullah bapak... Telah berpulang ke rahmatullah ibu... Telah berpulang ke rahmatullah saudara... Beralamat di RT 02 RW 07... Al-Fatihah..." Bendera kuning dipasang.
Beberapa kendaraan dan tukang jualan sesekali melintas di jalanan yang masih basah. "Setiap malam pasti ada yang pulang lebih dulu ya, Cup?" ucap Asep pelan.
"Dan kita tidak pernah tahu kapan giliran kita." Bapak tua dengan kostum badut mengisi bangku kosong milik ojek online sebelumnya. Tulang rahang Pak Badut nampak. Kedua matanya juga sudah menghitam seharian keliling membawa kalengan untuk menampung uang pemberian mereka yang dermawan.
Di luar, beberapa warga bergegas memakai sarung, membawa payung, dan membawa sajadah. Anak-anak kecil yang tadi berlarian di jalan kini mengunci dalam genggam tangan ayahnya.
Suasana kampung berubah. Tanpa ada yang mengatur. Tanpa ada yang menyuruh. Mereka tahu harus ke mana jika petang mulai menyingsing.
"Kalau ada orang meninggal," kata Bapak Badut itu sambil memandangi jalanan. "Saya hanya mengingatkan, bahwa hidup ini cuma sebentar. Dan saya tidak menyesal hidup sebagai badut."