"Assalamu'alaikum, Bu. Pak" Ucup mengetuk pelan pintu rumahnya.
"Eh, anak lanang sudah pulang" Ibu menyambut dengan senyum dan bahagia. "Dari mana saja toh, Le?" Ibu sedikit risau karena pesan whatsapp yang dikirim tak kunjung dibalas.
"Anu Bu... banyak sih kejadian tadi" Ucup langsung ambil posisi cium tangan dan duduk di atas karpet seadanya.
Rumahnya hanya sebuah kontrakan yang tak besar. Bapaknya kerja serabutan dan Ibunya kerja sebagai asisten rumah tangga di salah satu rumah orang kaya di ujung kampung.
"Makan toh, Le..."
"Hehe iya, Bu."
Ibu sudah menyiapkan tempe goreng lengkap dengan sambalnya. Tak lupa nasi hangat yang sedari tadi menunggu kepulangan Ucup.
"Yusuf Artanto, sudah pulang, Le?" Bapak memanggil Ucup dengan nama lengkap yang tak pernah lupa disebut.
Yusuf diambil dari nama sang nabi yang terkenal ketampanannya dan budi pekerti. Tak heran bapak memberi nama Yusuf dengan harapan agar tampan dan baik budi pekerti. Serta nama Artanto diambil karena harapan bapak adalah agar Ucup menjadi "Anak yang rajin di tanah rantau." Begitulah bapak memberitahu ketika kami sedang makan bersama menikmati sepiring nasi dengan tempe yang dicocol sambal.
"Mantap, Bu. Tempenya Jos!"
"Cup. Gimana kuliah hari ini?" Bapak bertanya sembari melahap sepotong tempe yang dicocol sambal. Ia duduk bersandar di lantai, menekuk satu lututnya ke dada sembari menatap anak dan istrinya.