"Satu...dua...tiga. Ganti gaya."
"Satu... dua... tiga. Bagus nih bagus."
"Senyumnya mana, Sab?”
“Peace..."
Libur panjang setelah kelulusan membuat kita merasa bosan bahkan bimbang. Sekolah menengah kemarin sudah seperti sejarah ribuan tahun lalu. "Mudah dilupakan"
Tidak ada yang terukir darinya. Bahkan untuk seorang Ucup yang sangat hampa tanpa label kenakalan remaja. Sabrina mengajak Ucup untuk berjalan santai di sekitar Taman. Lagi-lagi harus ditegaskan bahwa Ucup dan Sabrina hanya teman SD yang kebetulan masih bertahan sampai jenjang perkuliahan.
"Pacaran?"
"Ah, yang benar saja... Kita hanya dua orang gabut yang lagi sama-sama gapunya teman."
"Tapi serasi loh kalian," kata seorang tukang cilok ketika Ucup dan Sabrina membeli dagangannya.
"Jadi berapa, kang?" Ucup merogoh sakunya.
"Jadian..."Riuh tukang cilok semakin memaksa.
Kedekatan Ucup dan Sabrina bukan dengan mengungkapkan cinta satu sama lainnya. Melainkan tukang cilok yang bersikukuh walau hanya bercanda. "Jadi sepuluh ribu aja.”
***
"Cup, hal apa yang paling kamu damba-dambakan?"
Setengah hari penuh pertemuan Ucup dan Sabrina. Kelar sudah cerita mereka berdua–Ucup bercerita tentangnya dan keluarga, begitu juga Sabrina. Hingga hati sudah sulit menampung apa arti cinta.
"Tapi kayanya ga bisa, Sab." Ucup memandang jauh pohon di seberang sana. "Nggak ada yang nggak mungkin, Cup. Coba bilang dulu," sahut Sabrina lembut.
Matanya ikut memandang ke arah barisan pohon di seberang danau, tempat lampu-lampu mulai menerangi kawasan taman. Angin sore berhembus pelan, mengayunkan dedaunan di atas kepala mereka. Burung berkicau lalu terbang pulang ke sarangnya. Paruh baya sampai remaja lainnya sudah bergegas kembali ke rumah-rumahnya.
"Aku pengen melibatkan kamu dalam hidupku, Sab.” Ucup menggantungkan kalimat akhir tanpa terusan.