"Teman baikku. Teman yang selalu ngertiin aku. Teman yang tahu makanan favoritku.Teman yang hafal nada marah dan tawaku. Teman yang rumahnya hanya berjarak beberapa puluh langkah."
Begitu jawab Sabrina setelah 2 tahun berlalu dan jika Ucup bertemu dengannya tidak ada sapaan yang terlontar satu sama lain.
Dan mungkin, hanya mungkin, teman yang terlalu lama bersama sampai lupa sejak kapan mereka mulai menjadi bagian penting dari hidup satu sama lain.
***
"Cup."
"Hm?"
"Kalau suatu hari aku pindah jauh gimana?"
Kala itu, Sendok di tangan Ucup berhenti. Angin malam berhembus pelan. Menusuk kulit dan menjadikan bulu kuduk merinding. "Ya kaya biasa aja."
"Serius?"
"Ya Enggak lah."
Sabrina matanya menyipit membentuk bulan sabit dengan sudut yang sedikit berkerut. "Yeh dasar pembohong."
"Iya." Ucup tersenyum tipis.
"Jika suatu hari nanti kita menemukan ada hal yang hilang, dan kita merasakannya. Kita baru sadar ternyata selama ini kita terlalu terbiasa memilikinya." Kata Ucup.
“Mulai dah… Puitisnya keluar meronta-ronta.” Sabrina Ia mengaduk nasi gorengnya tanpa melihat Ucup. Dan untuk beberapa saat, mereka membiarkan suara kendaraan, bunyi wajan Pak Kumis, dan bising lainnya melewati jeda.
Sebab ternyata, tidak semua hubungan harus dipenuhi kata-kata. Hubungan itu akan hidup ketika keduanya saling mendukung. Cinta itu kaya. Tak selayaknya cinta membuat kita merasa miskin.
***
Kita kembali di hari Ucup akan tidur. Setelah banyaknya peristiwa tadi dan cukup lelah untuk melanjutkan obrolan dengan siapapun, malam itu Sabrina mengirim pesan WhatsApp kepada Ucup.
"Cup, ko kamu berubah?"
"Aku mau Ucup yang dulu, yang selalu cerita kalau ada apapun"
"Bukan aku yang berubah, Sab." Batin Ucup."Tapi kamu yang memaksaku berubah," Ucup tidak menulis di layar ponselnya.