Suatu sore, setelah perkuliahan selesai, Ucup duduk sendiri di parkiran kampus. Ia mengetahui kemacetan jalan sangat padat saat ini. Ia memutuskan untuk mengambil jeda di antaranya.
Black Meong masih setia menunggu di tempat biasa. Ucup mengusap debu menempel dengan kanebo. Debu-debu siang tadi sangat memperkeruh penampilan Black Meong, belum lagi jalan becek bekas hujan semalam.
Tuntas sudah kinclong si Black Meong, lanjut memasang helm, memutar kunci dan mengengkol. Tatapannya kosong.
Entah mengapa, parkiran itu terasa lebih sepi dari biasanya. Padahal jumlah kendaraan tidak berkurang.
Barangkali memang begitu. Bukan tempatnya yang berubah. Melainkan kita saja yang belum terbiasa dengan suasana ini.
Ia menoleh sekilas. Di kejauhan, Sabrina berjalan bersama teman-temannya. Perempuan itu tertawa. Tawa yang sering ia dengar sebelumnya lekat. Kini terdengar begitu jauh.
Ucup segera mengalihkan pandangan. Mesin Black Meong akhirnya menyala. Motor tua itu melaju perlahan meninggalkan kampus.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, perjalanan pulang terasa benar-benar sunyi. Tidak ada lagi suara yang berteriak dari belakang, "Cup! Pelan-pelan! Aku belum siap!"
Kalimat sederhana yang dulu sering membuat Ucup menggeleng sambil tersenyum. Kini, yang tersisa hanya gema kenangan.
"Beberapa memang pergi tanpa kabar, dan lainnya memberi kabar lantas pergi."
"Beberapa memberi sebuah pelajaran, dan lainnya memberi sebuah penyesalan."
"Beberapa pernah diperjuangkan, dan lainnya tidak memahami jika ia sedang diperjuangkan.”
***
Dar!!!
Busetdah… Kaget anjir…
Samping gue banget setan.
Suara benturan meja memecah riuh kelas. Beberapa siswa tersentak, menoleh hampir bersamaan ke arah sumber suara.