Mereka Lulus
Dosen bertanya, "Saudara Yusuf Artanto, apakah ada yang ingin Saudara sampaikan sebelum sidang ditutup?"
Semua mengira Ucup akan mengucapkan terima kasih seperti mahasiswa lainnya. Namun, Ucup justru berdiri tegak. Ia menghela nafas panjang, merapikan kerah kemeja putihnya yang basah oleh keringat dingin, lalu mendekatkan mikrofon podium ke bibirnya."Izin bertanya... NIM 105."
Satu ruangan tertawa kecil. Penguji ketua menyunggingkan senyum, sementara dosen pembimbing menggeleng-geleng kepala, hafal betul dengan tabiat itu. Kalimat yang dulu dianggap mengganggu di ruang kelas, kini menggema sebagai sebuah perpisahan.
Ucup menurunkan mikrofonnya sedikit. Tatapannya beralih dari layar proyektor yang menampilkan slide 'Terima Kasih', lalu menatap barisan kursi penonton sahabat-sahabat lamanya yang dulu pernah dibantu olehnya.
Mereka semua sudah lulus terlebih dahulu.
"Empat tahun saya kuliah. Saya bertanya tentang demokrasi. Tentang organisasi. Tentang pekerjaan. Tentang uang. Tentang persahabatan. Tentang cinta. Tentang Tuhan."
Ruangan mulai hening.
"Tapi ternyata... pertanyaan paling sulit bukan itu." Ia berhenti. Menatap dosen. Menatap teman-temannya. "Bagaimana caranya tetap menjadi manusia yang baik ketika hidup tidak selalu baik kepada kita?"