“Petrichor," aroma hujan yang membaur dengan tanah basah, yang seolah ada untuk menemani kesendirianku di sore ini. Membawaku ingat pada kenangan masa kecil. Tubuh mungil berlarian, di tengah hujan tanpa bayangan atas beratnya sebuah kehidupan. Tubuh kecil yang pergi kemanapun langit memberikan tangisnya, tanpa tahu pedihnya masa depan. Aku, anak kecil yang tak mengenal sepi saat itu.
Teringat keindahan pikiranku yang berharap akan jemari yang menjadi lentik, sapuan wajah yang menjadi tegas, dan suara yang menjadi berat. Semakin aku mencium aroma hujan, semakin mengingatkanku akan citaku.
“Kak, lagi ngapain?” tanya adikku dengan suara yang terdengar kejauhan dari lantai bawah. Membangunkanku dari mimpi indah akan masa kecilku.
“Lagi liatin hujan, nih. Deres banget, jadi dingin. Pengen tidur, ah.” Sahutku sembari jalan ke arah pintu untuk siap menyambut adikku yang sedang menaiki tangga menuju kamarku.
Kreek…
Kubuka pintu kamarku dan melihat adikku yang perlahan naik menuju kamarku. “Kenapa?” Aku kembali bertanya lagi.