Izinkan Aku Lepas

Martha Han
Chapter #3

02. Titik Balik

Pada zaman sekarang, aku sering mendengar ungkapan bahwa “Punya anak banyak, sudah bukan zamannya. Banyak anak, banyak tanggung jawab!” atau “Orang miskin dilarang punya anak! Egois.” Melihat hidupku saat ini, aku merasa bahwa hal tersebut benar adanya. Orang tuaku tidak terlalu mampu, tapi mereka memiliki lima orang anak.

Ironisnya, hidupku dulu jauh lebih baik. Orang tuaku sudah memiliki rumah di usia yang masih muda, mereka berani menikah karena kehidupan mereka sudah settle, pekerjaan mereka baik, dan rancangan masa depannya jelas. Pada zaman itu, punya anak empat atau lima itu wajar. Namun, orang tuaku sudah berencana untuk menggagalkan kehamilannya pada saat ibu hamil Melinda.

Kehamilan Melinda adalah kehamilan yang tak terduga. Meski begitu, ibu merasa bersalah kalau harus mengorbankan Melinda. Ibu merasa bahwa empat anak sudah terlalu banyak dan takut keempat anaknya tidak mendapatkan cukup perhatian. Namun, Melinda juga anak ibu. Sehingga, ibu mengurungkan niatnya untuk menggagalkan kehamilannya. Meski aku belum memiliki anak, aku paham perasaan ibu. Tapi, kondisiku saat ini membuatku bertanya-tanya dalam hati, apakah akan lebih baik, jika tidak dilahirkan?

Tidak pernah sedikitpun aku berpikir bahwa hidup kami akan menjadi seperti saat ini. Dengan pekerjaan ayahku sebagai kontraktor pada saat aku masih kecil dan ibuku yang memiliki usaha oleh-oleh, aku tidak menyangka kami akan menjadi seperti ini. Sejak kecil, impianku adalah menjadi seperti Ibu—memiliki usaha sendiri dan menjadi perempuan yang mandiri. Tapi, harapanku perlahan pupus dan jiwaku menjadi kosong. Tujuh tahun ini menjadi tahun yang paling berat untukku dan keluargaku.

Sambil berbaring dan melihat ke langit-langit, aku termenung, mengingat ucapan saudara sepupuku sekitar dua tahun lalu. “Gue pernah iri sama lo. Keluarga lo sejahtera dan bahagia” kurang lebih begitulah isi ungkapan Renata kepadaku.

Sejahtera, pikirmu? batinku bergejolak mendengar ungkapan tersebut.

Tapi, aku tidak membalas apapun. Aku hanya terdiam sembari mencoba mengingat akan apa yang pernah terjadi pada keluargaku beberapa tahun lalu. Apakah kami terlihat bahagia? begitu pikirku seraya dikejutkan kembali oleh pernyataan Renata selanjutnya.

“Gue adalah orang yang broken home. Seperti yang lo ketahui bahwa orang tua cerai, gue terpisah dengan kakakku. Renita ikut nenek ke Jakarta, gue ikut mama ke Kalimantan, dan papa? Menikah lagi. Gue sempat iri melihatmu dengan keluarga utuh lo, berharap gue bisa merasakannya di kemudian hari. Tapi, gue udah dewasa sekarang, gue sudah bisa menerima hidup gue.” lanjut Renata dengan senyum lega tergores di wajahnya.

Aku hanya bisa tersenyum dan berkata “Gue bahagia buat lo, kak. Sekarang lo udah punya pekerjaan yang baik. Bahkan lo balik ke Jakarta dan gabung lagi sama kak Renita. Pasti tahun-tahun itu berat untuk lo” sambungku kepada Renata sembari memberikan dukunganku kepadanya.

Hal yang dia tidak tahu adalah kondisi keluargaku yang semakin memburuk. Seolah kami bertemu di tengah, dia semakin menanjak dan aku semakin menurun. Seolah kami memulai di poros yang berlawanan untuk kemudian bertemu di tengah dan menduduki poros-poros yang berlawanan.

Aku turut bahagia atas nasibnya sekarang, tapi aku juga khawatir dengan nasibku sendiri. Hal itu yang terus terngiang di pikiranku. Tidak bisakah kami mendapatkan keduanya? sekilas terpikir olehku.

 

***

Saat itu, ayahku bekerja sebagai kontraktor di sebuah kantor swasta, PT Respatih Buwana Kontraktor. Jabatannya cukup baik, yakni sebagai manajer proyek dan tenaga ahli bangunan.

Lihat selengkapnya