Pada zaman sekarang, aku sering mendengar ungkapan bahwa “Punya anak banyak, sudah bukan zamannya. Banyak anak, banyak tanggung jawab!” atau “Orang miskin dilarang punya anak! Egois.” Melihat hidupku saat ini, aku merasa bahwa hal tersebut benar adanya. Orang tuaku tidak terlalu mampu, tapi saat ini, mereka memiliki lima orang anak. Ternyat hal ini cukup berat untuk kami.
Ironisnya, hidupku dulu jauh lebih baik. Orang tuaku sudah memiliki rumah di usia yang masih muda, mereka berani menikah karena kehidupan mereka sudah cukup mapan, pekerjaan mereka baik, dan rancangan masa depannya jelas. Pada zaman itu, punya anak empat atau lima itu wajar. Namun, orang tuaku justru pernah berencana untuk menggagalkan kehamilannya pada saat ibu hamil Melinda.
Kehamilan Melinda adalah kehamilan yang tak terduga. Meski begitu, ibu merasa bersalah kalau harus mengorbankan Melinda. Ibu merasa bahwa empat anak sudah terlalu banyak dan takut keempat anaknya tidak mendapatkan cukup perhatian. Namun, Melinda juga anak ibu. Sehingga, ibu mengurungkan niatnya untuk menggagalkan kehamilannya. Meski aku belum memiliki anak, aku paham perasaan ibu. Tapi, kondisiku saat ini membuatku bertanya-tanya dalam hati, apakah akan lebih baik, jika tidak dilahirkan?
Tidak pernah sedikitpun aku berpikir bahwa hidup kami akan menjadi seperti saat ini. Dengan pekerjaan ayahku sebagai kontraktor pada saat aku masih kecil dan ibuku yang memiliki usaha oleh-oleh, aku tidak menyangka kami akan jatuh di titik terendah kehidupan.
Sejak kecil, impianku adalah menjadi seperti Ibu––menjadi perempuan yang mandiri. Tapi, harapanku perlahan pupus dan jiwaku menjadi letih. Tujuh tahun ini menjadi tahun yang paling berat untukku dan keluargaku.
Sambil berbaring dan melihat ke langit-langit, aku termenung, mengingat ucapan saudara sepupuku sekitar dua tahun lalu. “Gue pernah iri sama lo. Keluarga lo sejahtera dan bahagia.” Kurang lebih begitulah isi ungkapan Renata kepadaku.
Sejahtera, pikirmu? batinku bergejolak mendengar ungkapan tersebut.
Tapi, aku tidak membalas apapun. Aku hanya terdiam sembari mencoba mengingat akan apa yang pernah terjadi pada keluargaku beberapa tahun lalu. Apakah kami terlihat bahagia? begitu pikirku seraya dikejutkan kembali oleh pernyataan Renata selanjutnya.
“Gue adalah anak broken home. Seperti yang lo ketahui bahwa papa mama cerai, gue terpisah dengan Renita. Renita ikut nenek ke Jakarta, gue ikut mama ke Kalimantan, dan papa? Menikah lagi. Gue sempat iri melihat lo dengan keluarga utuh lo, berharap gue bisa merasakannya di kemudian hari. Tapi, gue udah dewasa sekarang, gue sudah bisa menerima hidup gue.” lanjut Renata dengan senyum lega tergores di wajahnya.
Aku hanya bisa tersenyum dan berkata, “aku bahagia buat kamu, kak. Sekarang kamu udah punya pekerjaan yang baik. Bahkan sudah balik ke Jakarta dan gabung lagi sama kak Renita. Pasti tahun-tahun itu berat untuk kalian berdua,” sambungku kepada Renata sembari memberikan dukungan kepadanya.
Hal yang dia tidak tahu adalah kondisi keluargaku yang semakin memburuk. Seolah kami bertemu di tengah, dia semakin menanjak dan aku semakin menurun. Seolah kami memulai di poros yang berlawanan untuk kemudian bertemu di tengah dan menduduki poros-poros yang berlawanan.
Aku turut bahagia atas nasibnya sekarang, tapi aku juga khawatir dengan nasibku sendiri. Hal itu yang terus terngiang di pikiranku. Tidak bisakah kami mendapatkan keduanya? sekilas terpikir olehku.