Izinkan Aku Lepas

Martha Han
Chapter #6

03. Masa Lalu yang Mengintip

Masa kini.

Sudah hampir dua bulan dari hari terakhir aku bekerja. Sebelumnya, aku bekerja di sebuah biro arsitektur sebagai seorang drafter.

Namun karena pandemi, perusahaan tempat aku bekerja dengan terpaksa harus ditutup. Aku cukup kaget dan kecewa karena aku sudah menggantungkan diri hampir tiga tahun di perusahaan tersebut, namun justru harus keluar di saat ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Jelas hal ini membuatku sangat khawatir, terutama karena aku harus membantu keluargaku.

Aku merasa bersalah karena tidak bisa menghasilkan apapun, sehingga aku memutuskan untuk membantu ibuku berjualan kue. Tidak lama, aku melihat sebuah lowongan untuk bekerja di PT Rancang Karya Arsitek. Meski aku sudah pernah mendaftar tiga tahun lalu, aku tetap ingin mencoba peruntunganku. Bagiku, yah, nothing to lose.

Sebulan setelah proses seleksi, aku tidak menyangka bahwa aku dipanggil untuk wawancara. Aku cukup panik membayangkan akan diwawancara oleh lima orang hebat dari perusahaan ini.

“Kak! Udah latihan belum?" teriak adikku yang baru saja pulang dari kampus.

“Ini lagi latihan, deg-degan banget nih," sahutku sambil membawa secarik kertas berisi runtutan pertanyaan yang mungkin akan aku terima.

“Yuk, latihan bareng!” sahut Felix sambil melepas jaketnya.

“Wih, mentang-mentang udah besar nih, mau wawancara kakaknya,” sahutku lagi.

“Iya, dong. Kan sudah mau semester tiga. Bentar lagi kerja, siapa tau aku jadi HRD,” jawabnya dengan nada sombong.

“Ya udah deh, pak HRD. Bantu kakak latihan ya. Tapi ganti baju dulu dong.” sahutku dengan semangat.

Kami semua tertawa bersama.


***

Hari telah berganti.

Telah tiba hari di saat aku harus menghadapi wawancara yang menegangkan.

Aku bertemu dengan 5 orang yang terdiri dari satu orang dari manajer departemen bernama pak Tiyok, satu orang yang merupakan calon atasan/user langsung namanya bu Lita, satu orang HRD namanya bu Ani, dan dua orang dari tim rekrutmen namanya pak Heru dan pak Allan.

Aku berdoa sebelum memulai wawancara, aku percaya kalau memang jodohku, aku akan diterima.

"Selamat siang bapak, ibu. Perkenalkan saya Melita Sutrisno." Aku menyapa dengan senyum membingkai wajahku.

Waktu tak terasa bergerak begitu cepat. Setelah menerima sekian banyak pertanyaan, aku diberikan satu pertanyaan oleh bu Lita, “apakah kualitas penting dalam sebuah kerja sama dan relasi.” Aku terdiam, lalu menjawab, “komunikasi dan kepercayaan.”

 Kemudian, bu Lita kembali bertanya “apakah kamu sanggup bekerja sama dan percaya kepada rekan kerjamu?”

Seketika raut wajahku meredup. Aku tidak pernah memiliki teman ataupun rekan kerja yang mendukungku. Aku lebih sering mendapatkan penghakiman dan pengkhianatan. Ketika duduk di bangku kuliah, aku bersahabat dengan salah satu teman yang sudah bersamaku sejak SD.

Lihat selengkapnya