Sepulang dari berjualan di taman, Melinda menanyakan perasaanku. Aku kira perasaanku akan tak menentu—ntah marah, terganggu, atau sedih. Ternyata justru lega.
Aku bilang pada Melinda dan Amanda bahwa hatiku sudah lebih baik. “Wah, hari ini senang sekali, kue Ibu tidak bersisa. Pasti Ibu akan senang mendengarnya.” sahutku dengan riang.
“Bener banget, apalagi kalau Ibu tau kakak hajar habis itu dua orang!” jawab Melinda dengan semangat.
“Eh, jangan bilang Ibu ya. Aku nggak ingin Ibu kepikiran aneh-aneh.” Lanjutku.
“Paling nggak ceritalah ke Ibu kalau kakak marah sekaligus menyatakan cinta.” Ejek Amanda.
“Eh, aku nggak menyatakan cinta ya! Aku juga sudah tidak suka dengan Randy. Setelah dilihat-lihat, kok bisa ya dulu sesuka itu?” tanyaku dengan bingung.
“Ya memang biasanya begitu sih, kak. Kalau sudah tidak suka, jadi sadar dari mimpi buruk.” Amanda menjawab dengan sedikit tertawa geli.
“Bener juga sih. Hahaha.” Sahutku sembari berjalan menuju mobil tua bapak.
Kami bersenda-gurau sepanjang perjalanan. Sungguh hari yang indah, pikirku dalam hati.
Sesampainya di rumah, aku langung bergegas untuk bertemu ibu. Tidak sabar ingin memberitahu kalau kue-kue hari ini laku keras. “Bu, Pak, kami pulang.“ Aku memasuki ruang keluarga dan berniat menyapa.
Kok sepi banget sih?” tanyaku mencari keberadaan Ibu dan Bapak. Akhirnya aku dan adik-adik memutuskan untuk langsung bersih-bersih dan beristirahat sejenak.
Tidak lama, ada suara telepon dari ruang tengah. Tidak tahu kenapa, mendadak hati ini gelisah.
“Hallo.” Sahut Melinda yang sedang menjawab telepon.
Tidak lama aku mendengar Melinda berteriak memanggil namaku dan Amanda. Sontak aku terkaget dan melompat dari kursi tempat aku duduk.
“Kak… Bapak masuk rumah sakit, kak.” Sambil panik dan bergetar, Melinda memintaku untuk segera mengemudi ke rumah sakit. Sepanjang jalan kami panik dan termenung.
Padahal hari ini hatiku terasa lebih baik, kenapa seolah dunia tidak ingin hatiku tenang? Kenapa seolah dunia tidak suka melihat aku bahagia? Pikirku dalam hati.
Tidak lama, kami sampai di rumah sakit, Felix dan Ferdinand langsung menjemput di lobi.
“Kenapa nggak telpon HP kakak, sih?” tanyaku pada mereka.
“Sudah panik kak, semua HP kami tertinggal. Kecuali punya ibu, tapi batrenya habis dan aku hanya hapal nomor rumah. Aku akhirnya meminta tolong suster untuk bantu telpon.” Jelas Felix sambil terburu-buru berjalan diikuti oleh aku, Amanda, dan Melinda.
“Kami sudah coba telpon tiap tiga puluh menit sekali. Syukurlah telpon ke-3, Melinda angkat.” Jelas Ferdinand.