Tidak terasa, sudah hampir dua tahun aku bekerja di perusahaan ini. Aku sangat bersyukur karena diberi kesempatan menjadi bagian dari perusahaan sebesar ini.
Meski belum genap dua tahun dan belum mendapatkan promosi, gaji yang kuterima selama ini sudah cukup untuk membantu Bapak dan Ibu membayar kontrakan rumah. Bahkan, aku masih bisa menabung dan membantu Bapak membiayai uang semester Melinda, yang kini telah memasuki semester empat.
Tidak hanya aku, Amanda sudah lulus kurang lebih satu setengah tahun yang lalu dan tidak lama dari itu, dia langsung bekerja di salah satu perusahaan desain interior di Bandung. Aku sangat bangga padanya. Meski di sisi lain aku cukup kasihan melihat kehidupannya.
Aku ingin dia bisa lebih menikmati hidup setelah bekerja, tetapi dia justru bersikeras membantuku, Bapak, dan Ibu untuk kebutuhan di rumah.
Setiap kali aku meminta dia untuk memikirkan kebutuhannya sendiri, dia selalu berkata kepadaku “Nggak masalah, kak. Sebentar lagi kita semua akan sukses!” Semangatnya yang membuka pikiranku.
Sebelumnya, aku hanya berharap untuk bisa bertahan. Namun, dia membuatku bermimpi lebih besar. Semoga saja, kataku dalam hati setiap kali mendengarkan semangat itu.
Sedangkan Felix dan Ferdinand akan wisuda dua bulan lagi. Aku sangat bangga pada mereka, bahkan ketika kuliah, mereka berjuang dengan berjualan kue-kue ibu dan bekerja sampingan sebagai Event Organizer demi bisa membantu biaya perkuliahan mereka sendiri.
Tidak terasa, kehidupanku akhir-akhir ini sangatlah tenang seperti badai sudah berlalu. Keluargaku sehat, aku menyukai pekerjaanku, kebutuhan rumah dapat terpenuhi dengan baik.
Terkadang aku seperti menanti, “masalah apa yang akan datang setelah badai ini?”
Ya, kehidupan yang keras bertubi-tubi membuatku sulit percaya bahwa aku baik-baik saja.
***
Tiba-tiba bu Lita datang ke pantry dan mendapatiku yang sedang terdiam. "Melita, ngelamun aja sih? Kamu lagi sakit?", sontak bu Lita yang membuat keheningan siang ini terpecah.
"Oh, maaf bu. Saya hanya sedang berpikir," sahutku dengan keraguan.
"Pekerjaan jangan dipikirin mulu dong. Saatnya istirahat, kamu harus istirahat. Sudah makan belum?" tanya bu Lita kepadaku dengan nada ramah seperti biasa.
"Oh, sudah kok bu. Ibu sudah makan siang?" jawabku dengan keraguan karena sekali lagi aku berbohong. Aku bahkan tidak bernapsu untuk makan.
"Ibu juga sudah. Tapi, Ibu ada kue nih. Buat kamu ya Mel."
"Wah... terima kasih ya, bu Lita." Aku menerima kue itu.
Yaudah, Ibu tinggal dulu. Kamu istirahat loh. Masih ada 20 menit lagi.” Begitulah bu Lita, atasanku yang selalu memperhatikanku.
Sebagai orang yang susah percaya pada orang lain karena pengalaman-pengalamanku, aku sempat meragukan kebaikannya. Tapi karena beliau, perlahan aku percaya bahwa masih ada manusia yang tulus, dan aku bahagia. Sudut bibirku tertarik pelan, membentuk senyum yang bahkan tak kusadari.
Sekembalinya dari pantry, bu Lita memanggilku untuk masuk ke ruangannya. Dari luar ruangan bu Lita, terlihat bayang-bayang seorang laki-laki yang tegap dan gagah dengan kemeja berwarna hitam.
Masuklah aku ke dalam ruangan dan dengan ramah bu Lita memperkenalkan seorang arsitek yang akan masuk ke dalam timku untuk menjadi koordinator proyek. Padahal aku menginginkan posisi ini, kenapa dia harus datang untuk mengambil posisi itu, gusarku dalam hati.
Namanya pak Alex, usianya hanya terpaut 2 tahun dariku. Badannya tegap, raut wajahnya tegas dengan rambut hitam tersisir ke belakang, dan sedikit poni di salah satu sisinya. Hanya dengan hitungan minggu, keberadaannya menarik kaum hawa untuk mendekat.
Suatu ketika, aku sedang duduk di sudut meja dengan sebuah pertanyaan, “kenapa bisa orang angkuh semacam ini banyak yang suka. Mereka nggak tau apa, betapa kejamnya manusia ini ke bawahannya?” gumamku sambil melihat ke arahnya yang sedang makan siang bersama kedua rekan kerja kami lainnya, Erika dan Roni.
Tiba-tiba pak Alex menengok cepat ke arahku, membuatku mati kutu karena kepergok sedang melihat ke arahnya. Dengan gugup, aku memalingkan wajahku. Bersyukur Monika datang ke mejaku untuk makan bersamaku.
“Mel, capek banget loh gue!” seru Monika sembari menghentakkan tubuhnya ke kursi dengan posisi terduduk.
“Kenapa sih Mon? meeting lagi ya hari ini?” tanyaku kepada Monika. Ia adalah rekan kerja yang paling dekat denganku.
“Iya, kesel ih! Pak Alex marah-marah mulu karena laporannya masih banyak yang salah,” dengan dahi berkerut dan tangan yang menutupi bibirnya, Monika berbisik kepadaku.
“Heeh, sudah nggak kaget sih. Kan emang begitu. Padahal beliau baru masuk tim 1 bulan, tapi rasanya seperti 1 tahun.” sahutku dengan lantang.
“Apanya yang 1 tahun, Mel?” sahut pak Alex sambil berjalan menuju sudut pantry untuk mengambil minum.
Seketika aku terdiam sambil melihat Monika menutup mulutnya dengan kaget. Kami berdua hanya bisa duduk membeku dan berharap pak Alex tidak mendengarkan dengan seksama.
“Apanya yang 1 tahun, Mel?” tanyanya lagi setelah kembali dari pantry dengan membawa segelas kopi di tangan kirinya.
Pak Alex tiba-tiba menghampiri meja kami dan menunggu jawaban dariku.
“Oh, proyek perumahan yang ada di Jakarta Barat, pak. Baru 1 bulan, tapi seperti sudah saya kerjakan 1 tahun.” Aku menjawab dengan sedikit rasa panik.
Aku melihat wajah Monika terkaget dan seolah berbicara dengan bahasa bibir kepadaku. “Loh, kan emang udah hampir 1 tahun proyeknya. Lo ngimpi ya, Mel?”
Seketika pembuluh darahku naik ke ujung kepala. Aku asal bicara sampai tidak tahu apa yang aku bicarakan.
“Pak, saya tinggal dulu ya. Saya harus menyiapkan laporan untuk meeting lanjutan nanti,” kata Monika sambil berpamitan dan meninggalkanku sendirian.
Tiba-tiba pak Alex duduk tepat di hadapanku. Rasa nyeri menggerogoti tubuhku, ntah apa yang akan dia sampaikan. “Maaf pak, saya tidak bermaksud…”
Belum selesai aku menyampaikan kalimat, pak Alex menimpa kalimatku, “proyek Rumah Sakit Pelita Jiwa sudah sampai mana konsepnya?” tanyanya.