Izinkan Aku Lepas

Martha Han
Chapter #10

06. Suatu Kemunduran

Tak lama setelah menyelesaikan makananku, aku meninggalkan kantor dan kembali ke rumah.

Sesampainya di rumah, aku mendengar ada keributan dari dalam rumah. Aku segera masuk ke rungan, meletakkan tabung gambar dan tasku. “Ada apa?” Aku bertanya dan mencoba memahami akan apa yang sedang terjadi.

"Ini nih! Manusia sok jago!" Ferdinand menunjuk wajah Felix dengan kesal.

"Apa lo? Emang gue jago, nggak kayak lo!" balas Felix, tak kalah emosi.

"Sudah! Kalian ini bertengkar terus." Melinda segera berdiri di antara mereka. "Kasihan Bapak sampai menangis."

Mendengar ucapan Melinda, pandanganku langsung beralih ke Bapak. Dadaku seketika sesak.

Air mata Bapak mengalir tanpa henti, sementara tatapannya tertuju pada Felix dan Ferdinand yang masih saling menatap tajam.

"Pak..." Aku segera menghampirinya. "Bapak kenapa? Sebenarnya ada apa?"

Felix dan Ferdinand langsung menundukkan kepala. Keduanya menghampiri Bapak tanpa berani menatap wajahnya.

"Maaf ya, Pak," ucap Ferdinand. Ia berlutut, menggenggam tangan Bapak yang terus bergetar. Air mata Bapak mengalir tanpa suara, entah sudah berapa lama ditahannya.

"Maaf ya, Pak," ucap Felix lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh isak yang tertahan.

Kemudian Bapak memeluk Felix dan Ferdinand. Si kembar ini kemudian merasa bersalah dan ikut menangis.

Setelah beberapa kali mengalami stroke, Bapak menjadi jauh lebih perasa. Hal-hal kecil yang dulu mampu Bapak hadapi dengan tenang kini mudah membuatnya menangis. Bahkan saat Amanda berpamitan untuk bekerja di Bandung, Bapak menangis tersedu-sedu. Ia terus memeluk Amanda sambil berulang kali berkata, "Hati-hati di sana, ya. Jangan lupa makan. Kalau capek, pulang saja." Seolah-olah ia takut itu menjadi terakhir kalinya melihat putrinya pergi.


***

Aku menuju kamar Melinda, segera setelah mandi. “Ada apa sih tadi?” tanyaku dengan nada penasaran.

“Biasalah kak, berawal dari Ferdinand tanya soal sesuatu, aku pun lupa apaan. Felix jawab agak ketus. Kemudian mereka adu mulut,” jelas Melinda.

“Astaga… Kirain kenapa,” kataku kepada Melinda.

“Tapi, belakangan Felix memang sensitif banget. Dia kaya lampiasin amarah ke semua orang. Bahkan hal sepela aja dia cepat banget kesel.” Melinda kembali menjelaskan.

Ada masalah apa, ya, dengan Felix? pikirku.

"Ya sudah. Nanti Kakak coba bicara sama dia. Makasih ya, Mel." Aku mengangguk pelan, lalu melangkah keluar dari kamar Melinda. Kini tujuanku hanya satu, mencari Felix dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tok… Tok… 

"Siapa?" sahut Felix ketus dari balik pintu.

 "Kakak, Lix,” jawabku.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Felix berdiri di hadapanku, lalu bergeser memberi jalan agar aku masuk.

"Kenapa, Kak?" tanyanya. Raut wajahnya tampak sedikit kesal, seolah sudah tahu alasan kedatanganku.

Aku duduk di tepi kasurnya. "Kamu ada masalah apa, Felix?"

"Nggak ada." Felix menjawab dengan datar.

Aku menghela napas pelan. "Aku kenal kamu. Kalau lagi banyak pikiran, kamu pasti jadi gampang marah. Kakak nggak akan marah. Cerita aja."

 Felix menggeleng. "Nggak apa-apa, Kak. Udah ah, aku mau tidur." Nadanya sedikit kesal.

 Aku menatapnya beberapa detik.Tuh, kan. Kalau nggak ada apa-apa, nggak mungkin kamu kelihatan kesel cuma karena ditanya begini.”

 Aku bangkit dari dudukku. "Kalau kamu nggak mau cerita, Kakak cari tau sendiri. Kalau nanti Kakak tau kamu lagi ada masalah, Kakak bakal bilang ke Bapak sama Ibu."

 Felix langsung mengembuskan napas panjang. "Jangan, kak..." 

Aku menghentikan langkah. Beberapa detik berlalu tanpa suara.

"Aku... sama Ferdinand lagi pusing soal biaya wisuda." Felix menjelaskan dengan kepala tertunduk. 

Aku kembali duduk. "Memangnya kenapa?"

"Kami udah kumpulin uang sendiri. Ambil job EO hampir tiap akhir pekan, nabung dari hasil kerja... tapi tetap belum cukup."

"Kurangnya berapa?" Aku kembali bertanya.

Felix menundukkan kepala. "Satu juta."

"Kalian berdua?" Aku kembali bertanya.

Lihat selengkapnya