Izinkan Aku Lepas

Martha Han
Chapter #11

07. Langkah Baru

Hari Rabu akhirnya tiba. Pukul delapan pagi, aku sudah berada di Bandar Udara Soekarno-Hatta dengan sebuah koper kecil dan tas jinjing di tangan. Ini adalah pertama kalinya aku ditugaskan keluar kota sejak bekerja di PT Rancang Karya Arsitek.

Entah aku harus merasa senang atau gugup karena di tugasku yang pertama ini, aku berangkat dengan atasan yang membuatku cukup takut.

Sesampainya di ruang tunggu, Andi dan Devi sudah lebih dulu duduk. Tak lama kemudian, pak Alex datang dengan langkah tenangnya. Kemeja abu-abu gelap yang dikenakannya membuat penampilannya tetap rapi meski perjalanan masih panjang.

"Pagi, pak," sapa kami hampir bersamaan.

"Pagi." Hanya satu kata. Ya, memang seperti itulah pak Alex. Singkat. Padat. Sulit ditebak.

Perjalanan menuju Semarang berlangsung tanpa banyak percakapan. Sebagian besar waktu kuhabiskan memandangi awan dari balik jendela pesawat, mencoba mengusir berbagai pikiran yang masih tersisa sejak kemarin.

Setelah mendarat, kami langsung menuju hotel yang letaknya tidak jauh dari lokasi proyek. Aku satu kamar dengan Devi, sedangkan pak Alex sekamar dengan Andi.

"Aku mandi dulu ya, Mel," ujar Devi sambil mengambil pakaian dari koper.

"Iya." Aku hanya mengangguk pelan.

Belum sempat beristirahat lama, pukul dua siang kami sudah berangkat menuju lokasi pembangunan mal yang akan menjadi proyek berikutnya.

Begitu tiba, pak Alex langsung berdiskusi dengan pihak klien mengenai progres pembangunan. Andi dan Devi sibuk membuka gambar kerja, sementara aku berdiri beberapa langkah di belakang mereka.

"Melita." Pak Alex menghampiriku dengan langkah tenang.

Aku menoleh. "Iya, pak?"

"Coba diskusikan konsep ini dengan pak Nunung. Saya ingin dengar pendapatmu mengenai penyesuaian desain fasad." Perintahnya kepadaku.

Aku sempat terdiam. "Saya... pak?"

"Iya." Hanya itu.

Aku mengangguk pelan sebelum menghampiri pak Nunung. Entah kenapa, setiap kali pak Alex memberikan tugas baru, rasanya selalu seperti sedang diuji.

Hari mulai gelap ketika seluruh agenda selesai. Tubuhku terasa lelah, tetapi ada sedikit rasa puas. Banyak hal baru yang kupelajari hari itu.

"Malam ini, kita makan di restoran hotel saja ya," ucap pak Alex sebelum kami berpisah menuju kamar masing-masing.

"Baik, pak." Kami menjawab hampir serentak.

Aku baru saja selesai mandi ketika ponsel Devi berdering.

Ia keluar menuju balkon kamar sambil mengangkat telepon.

Awalnya aku sama sekali tidak berniat mendengarkan. Namun suara Devi terdengar cukup jelas dari balik pintu kaca yang sedikit terbuka.

...iya, aku juga heran.

Aku berhenti mengeringkan rambut.

Harusnya kan proyek ini aku sama Andi aja. Ngapain sih Melita ikut?

Dadaku mendadak terasa tidak nyaman.

Aneh aja. Baru sekali diajak proyek gede, langsung nempel terus sama pak Alex. Devi terkekeh pelan. Carmuk banget menurutku.

Tanganku perlahan berhenti bergerak. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jadi, selama ini begitu ya penilaian orang lain terhadapku?

Aku mengembuskan napas pelan, lalu kembali berpura-pura mengeringkan rambut ketika Devi masuk ke kamar.

"Eh, udah siap?" Devi bertanya dengan wajah datar dan sedikit senyuman di bibirnya. Seolah tidak terjadi apa-apa.

"Iya." Aku tersenyum kecil.

Restoran hotel malam itu cukup ramai. Andi tampak duduk paling tegang. Aku bahkan yakin ia sudah menyiapkan jawaban kalau-kalau pak Alex tiba-tiba membahas revisi gambar.

Namun...

"Semarang pertama kali?" tanya pak Alex.

"Iya, pak," jawab Andi.

"Malamnya coba makan lumpia." Pak Alex kembali berbicara kepada Andi.

Aku menatap beliau sekilas. Rasanya... suasana seperti ini pernah kurasakan. Saat makan siang berdua beberapa waktu lalu.

Pak Alex ternyata sangat berbeda ketika berada di luar kantor. Ia lebih banyak mendengarkan. Sesekali bertanya tentang hobi kami, asal daerah, hingga tempat-tempat yang pernah kami kunjungi.

Tidak ada pembahasan revisi. Tidak ada nada dingin. Tidak ada tatapan yang membuat orang gugup.

Aneh. Kenapa beliau bisa sangat berbeda?

Selesai makan, kami kembali menuju kamar.

"Dev, aku keluar bentar ya." Aku berkata kepada Devi.

"Hah? Mau ke mana?" Devi seketika duduk di kasurnya.

"Jalan sebentar," jawabku.

Udara malam Semarang terasa hangat. Aku berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya menemukan sebuah bangku menghadap taman kecil di samping hotel.

Lampu-lampu kota terlihat berkelap-kelip dari kejauhan. Aku menatapnya kosong. Ucapan Devi terus terngiang. Carmuk banget... Aku tersenyum pahit.

Padahal, aku sama sekali tidak meminta ikut proyek ini. Aku hanya menjalankan tugas.

Apa benar kehadiranku membuat mereka tidak nyaman? Tanpa kusadari, seseorang berjalan mendekat. Pria itu berhenti beberapa meter dariku. Tidak langsung menyapa. Hanya memperhatikanku beberapa saat.

Lalu... ia duduk di bangku sebelah. Aku yang baru sadar langsung menoleh.

"Eh..." Aku buru-buru berdiri. "Pak Alex."

Beliau mengangkat satu tangan. "Duduk aja."

"Oh... iya, pak." Aku kembali duduk dengan canggung.

Beberapa detik berlalu. Tidak ada yang berbicara. Hanya suara kendaraan dari kejauhan yang sesekali terdengar.

"Maaf ya." Pak Alex memotong kecanggungan ini.

Aku menoleh. "Ya, pak?"

"Kayaknya saya malah ngagetin kamu." Katanya lagi.

Aku tersenyum kecil. "Nggak kok, pak."

Beliau menahan tawanya. “Saya kira… kamu takut hantu."

Aku mengernyit. "Hah?"

"Waktu itu." Beliau menoleh ke arahku. "Di kantor."

"Kamu teriak waktu lihat saya." Ia melanjutkan kalimatnya.

Butuh beberapa detik sampai akhirnya aku mengingat kejadian itu. "Oh!"

Aku spontan menutup menunduk malu. "Aduh... pak."

"Itu malu banget." Tawa kecil lolos dari bibirku. "Kirain beneran hantu."

"Jadi saya mirip hantu?" Pak Alex bertanya dengan nada serius.

"Bukan gitu, pak!" Aku langsung menggeleng cepat.

Lihat selengkapnya