Seminggu berlalu begitu cepat. Aku kembali disibukkan dengan pekerjaan kantor, sementara Amanda mulai mengirim lamaran ke berbagai perusahaan, berharap ada satu kesempatan yang datang menghampirinya.
Di rumah, Bapak dan Ibu tampak jauh lebih bersemangat. Mereka sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk wisuda si kembar yang tinggal menghitung hari.
Melinda?
Seperti biasa, ia menghabiskan sebagian besar waktunya di depan meja belajar. Sesekali terdengar keluhannya karena tugas kuliah yang tak kunjung selesai, tetapi melihatnya masih bisa mengeluh tentang tugas terasa melegakan. Setidaknya, hidupnya masih berjalan sebagaimana mahasiswa pada umumnya.
Tidak terasa, tinggal dua hari lagi menuju wisuda si kembar. Sejak pagi hingga malam, rumah tidak pernah benar-benar tenang. Selalu saja ada yang mereka ributkan, mulai dari atribut wisuda hingga hal-hal sepele yang sebenarnya tidak penting.
"Lix! Toga aku mana?" Ferdinand mengoceh sembari mencari ke segala sudut rumah.
"Mana aku tahu! Bukannya kemarin kamu yang pegang?" Felix hanya sekilas melirik. Kemudian ia kembali sibuk dengan game yang sedang ia mainkan.
"Kan habis dipinjam buat foto!" Langkah Ferdinand terhenti di hadapan Felix yang tidak terlihat peduli.
"Ya cari sendiri lah!" Tangan Felix masih terus sibuk dengan ponselnya.
Ada kalanya Felix lupa menyimpan selempang wisudanya. Di lain waktu, Ferdinand panik karena topinya entah tertinggal di suatu tempat. Melihat mereka mondar-mandir sambil saling menyalahkan, aku hanya bisa menggeleng sambil menahan tawa.
"Kalian ini benar-benar..." gumamku. "Dua hari lagi wisuda, malah masih ribut terus."
"Namanya juga persiapan, kak," sahut Ferdinand santai.
"Persiapan apanya? Itu mah panik karena kalian berdua sama-sama ceroboh," balas Amanda yang sejak beberapa hari terakhir lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.
Seketika Felix menunjuk Ferdinand. "Yang ceroboh dia!"
"Lah, kemarin siapa yang nyari sepatu sampai bongkar lemari satu rumah?" Amanda menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Itu... beda kasus." Felix menjawab santai.
Tawa kecil memenuhi ruang keluarga. Entah sejak kapan terakhir kali rumah kami seramai ini.
Di tengah segala masalah yang datang silih berganti, momen-momen sederhana seperti ini terasa begitu berharga.
Tidak terasa, hari yang dinantikan akhirnya tiba.
Sejak subuh rumah sudah dipenuhi kesibukan. Suara langkah kaki bersahutan di ruang keluarga, pintu kamar yang dibuka dan ditutup bergantian, hingga teriakan panik si kembar yang kembali lupa meletakkan atribut wisuda mereka.
"Topiku mana?" Felix bertanya kepada Ferdinand. Lagi-lagi mereka memperdebatkan hal yang seharusnya sudah disapkan sebelumnya.
"Kan semalam aku taruh di meja!" Tambah Felix.
"Itu punyaku, bukan punyamu!" sahut Ferdinand.
Amanda yang baru saja keluar dari dapur hanya menggeleng pelan sambil terkekeh. Keributan mereka terdengar sama persis seperti saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Bedanya, hari ini keduanya akan menutup satu babak penting dalam hidup mereka.
Setelah memastikan toga, medali, dan seluruh perlengkapan telah lengkap, mereka berangkat menuju kampus.
Halaman universitas telah dipenuhi lautan toga hitam. Di setiap sudut, keluarga sibuk mengabadikan momen. Ada yang merapikan kerah toga anaknya, ada yang memeluk erat sambil menahan air mata, tak sedikit pula yang sudah mulai sibuk mencari latar terbaik untuk berfoto.
Beberapa mahasiswa saling menyapa, bertukar pelukan, hingga tertawa mengenang perjuangan selama bertahun-tahun yang akhirnya berujung di hari itu.
Tak lama kemudian, panitia mulai mengarahkan seluruh wisudawan memasuki gedung utama. Alunan musik orkestra menggema memenuhi ruangan ketika prosesi akademik dimulai. Para dosen dan jajaran pimpinan universitas berjalan memasuki aula, disusul ratusan wisudawan yang melangkah berbaris dengan wajah penuh harap.
Setelah menyanyikan lagu kebangsaan dan hymne universitas, rektor memberikan pidato singkat mengenai perjalanan panjang yang telah mereka lalui. Tepuk tangan beberapa kali memenuhi ruangan ketika nama-nama mahasiswa berprestasi disebutkan.
Satu per satu nama wisudawan kemudian dipanggil. Ketika nama si kembar terdengar melalui pengeras suara, keluarga mereka spontan berdiri. Aku, Amanda, dan Melinda tak henti-hentinya bertepuk tangan, sementara kedua orang tuanya hanya mampu tersenyum bangga.
Mereka berjalan menuju panggung, menerima map kelulusan, berjabat tangan dengan rektor, lalu menghadap kamera untuk mengabadikan momen yang telah mereka perjuangkan selama bertahun-tahun.
Begitu seluruh nama selesai dipanggil, prosesi dilanjutkan dengan pemindahan tali toga ke sisi kiri sebagai simbol resmi kelulusan. Tepuk tangan bergema sekali lagi memenuhi aula. Beberapa mahasiswa langsung saling berpelukan. Ada yang menangis lega, ada yang tertawa tanpa henti, dan ada pula yang hanya memandangi ijazah di tangannya dengan senyum yang sulit dijelaskan.
Prosesi resmi akhirnya ditutup dengan doa bersama sebelum seluruh wisudawan dipersilakan keluar menuju halaman kampus.
Begitu pintu aula terbuka, suasana berubah jauh lebih riuh. Suara kamera yang terus berbunyi, panggilan nama dari berbagai arah, hingga pelukan hangat dari keluarga dan sahabat memenuhi hampir setiap sudut kampus. Buket bunga berpindah tangan, balon-balon kelulusan beterbangan, sementara senyum bahagia seolah tak pernah lepas dari wajah para wisudawan.
Hari itu bukan sekadar tentang kelulusan. Hari itu menjadi penanda bahwa satu perjalanan telah selesai, sekaligus awal dari kehidupan baru yang menanti mereka di depan.
Seselesainya prosesi, aku dan Amanda segera mengajak Bapak, Ibu, si kembar, serta Melinda makan siang di sebuah restoran hidangan laut yang sudah kami pesan jauh-jauh hari.
Suasananya hangat, ramai oleh tawa keluarga lain yang juga tengah merayakan hari bahagia mereka. Begitu seluruh hidangan tersaji memenuhi meja, Ferdinand menoleh ke arahku. Tatapannya dipenuhi rasa tak enak hati.
“Kak… kenapa repot-repot? Ini pasti mahal.” Ferdinand memegang pundakku.
Aku hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. “Ih… kakak sudah siapkan ya. Tenang aja! Lagian ini nggak cuma dari kakak. Ada bapak, ibu, dan Amanda juga yang siapkan, jadi kamu nggak usah khawatir.” Aku tersenyum kepada Ferdinand yang wajahnya tampak tidak karuan.
Mendengar itu, Felix yang sedari tadi lebih banyak diam ikut mengangkat kepalanya. Kedua pipinya memerah, sementara matanya mulai dipenuhi genangan bening yang berusaha ia tahan. “Bapak, ibu, Kak Melita, Kak Amanda, makasih ya.” Wajah Felix memerah, matanya berkaca-kaca.
Sebelum suasana berubah semakin haru, Melinda berdeham pelan, lalu menyilangkan tangan di depan dadanya dengan wajah pura-pura kesal.
“Loh, kok nggak makasih sama aku sih? Kan aku bantu cariin tempatnya,” kata Melinda sembari menyilangkan tangan di depan dadanya.
Sontak seluruh meja dipenuhi tawa.
Syukurlah, celetukan Melinda berhasil mencairkan suasana yang mulai diselimuti keharuan. Hari ini bukan hari untuk meratapi apa pun. Hari ini adalah hari untuk merayakan setiap langkah yang telah mereka perjuangkan selama bertahun-tahun.
Kalaupun ada air mata yang jatuh, biarlah itu menjadi air mata kebahagiaan. Sebab setelah segala lelah, pengorbanan, dan perjuangan yang mereka lalui, akhirnya mereka bisa duduk bersama di meja itu sebagai sebuah keluarga dengan pencapaiannya selama ini.
“Yuk, kita makan. Baunya udah bikin laper nih,” Amanda menambahkan. Matanya menyisir seluruh hidangan yang ada di atas meja.
“Kita berdoa dulu, ya.” Bapak kemudian memimpin doa, mengucap syukur atas hari yang penuh sukacita ini sebelum kami mulai menyantap hidangan yang telah tersaji di hadapan kami.
Kami semua bersenda gurau. Felix menjadi yang paling bersemangat menceritakan setiap prosesi wisuda yang menurutnya begitu melelahkan, sementara Ferdinand sesekali menimpali dan menambahkan cerita dari sudut pandangnya sendiri.
Amanda dan Melinda hanya tersenyum sambil mendengarkan. Tangan mereka tak berhenti membuka cangkang kerang hijau yang tersaji di hadapan kami, sesekali ikut tertawa menanggapi celoteh si kembar.
Sedangkan aku... aku hanya memandangi mereka dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirku. Dadaku terasa hangat, dipenuhi rasa lega melihat keluarga kami akhirnya bisa menikmati momen sederhana seperti ini.
Meski begitu, di sudut hatiku, terselip sedikit ketakutan. Aku takut hari yang begitu membahagiakan ini akan berlalu terlalu cepat.
***
Dua hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, akhir pekan telah usai dan hari kembali berputar menuju Senin.
Sejak pagi, aku sudah bersiap menghadapi jadwal yang cukup padat. Hari ini, ada beberapa rapat penting bersama pak Alex yang harus kuhadiri. Beruntung, seluruh bahan presentasi dan dokumen pendukung telah kupersiapkan sejak malam sebelumnya, sehingga pagi itu aku hanya perlu memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
Di sisi lain, Amanda juga memiliki agenda penting hari ini, ia dijadwalkan mengikuti wawancara kerja di salah satu perusahaan start-up di Jakarta Selatan.
Karena tujuan kami searah, kami memutuskan untuk berangkat bersama.
Siangnya, setelah wawancaranya selesai dan sebagian besar pekerjaanku untuk pagi hari telah selesai, Amanda menyempatkan diri datang ke gedung kantorku. Kami berjanji untuk makan siang bersama sebelum kembali melanjutkan aktivitas masing-masing.
“Gimana wawancara hari ini?” tanyaku kepada Amanda.
“Yah.. sejauh ini kayaknya sih aman, kak. Tapi… nggak tau juga. Nggak berharap banyak.” Amanda menjawab dengan santai.
“Kalau jodoh, pasti lolos. Semoga jodoh ya, dek!” Aku menyemangatinya. “Kamu, nggak mau coba lamar di kantor kakak?”
“Kemarin aku sempat buka website-nya, sih, tapi belum ada lowongan.” Amanda menjawab dengan bibir yang melengkung ke bawah.
“Ya udah, coba kirim CV kamu ke kakak. Nanti kakak kasih ke atasan kakak. Siapa tahu mereka lagi butuh orang atau bisa nyimpan CV kamu dulu.” Aku menjawab santai sembari memakan makan siangku.