Pagi ini aku sudah bersiap sejak pukul enam. Hari ini jadwal kontrol rutin Bapak di rumah sakit.
Sejak kondisi Bapak membaik beberapa bulan terakhir, dokter menjadwalkan pemeriksaan berkala untuk memastikan proses pemulihannya berjalan dengan baik.
Karena Ferdinand sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota dan Felix tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, akulah yang mengantar Bapak bersama Ibu.
"Pak, jangan lupa hasil laboratoriumnya dibawa. Sama kartu kontrolnya juga." Ibu berkata sambil mondar-mandir memastikan tidak ada barang yang tertinggal.
"Iya... iya... Bapak nggak pikun kok." Bapak tersenyum kecil.
Aku hanya terkekeh pelan.
Setelah meninggalkan Bapak dan Ibu di Rumah Sakit, aku bergegas menuju kantor.
Hari ini, aku sudah izin karena harus mengantar orang tua ke Rumah Sakit. Karena aku tidak pernah bolos atau pun izin sebelumnya, pak Alex memberikan izin dengan sangat mudah.
Syukurlah. Hasil pemeriksaan hari ini cukup melegakan.
Tekanan darah bapak stabil, kadar gulanya jauh lebih baik dibanding beberapa bulan lalu, dan dokter mengatakan proses pemulihannya berjalan dengan sangat baik. Bapak hanya diminta tetap menjaga pola makan dan rutin berolahraga ringan. Aku mengembuskan napas lega.
Malam harinya kami kembali berkumpul di meja makan. Meski Ferdinand belum bisa pulang karena masih berada di luar kota, suasana rumah tetap terasa hangat.
Felix bercerita tentang nasabah pertamanya yang membuatnya gugup seharian. Amanda ikut menimpali dengan kisah-kisah lucu di kantor barunya.
Sesekali Bapak tertawa sampai membuat Ibu beberapa kali mengingatkan agar beliau tidak makan terlalu cepat.
"Eh iya." Melinda tiba-tiba bersuara. "Aku bulan depan mulai KKN."
"Wah..." Amanda langsung tersenyum. "Di mana?"
Melinda menyebutkan lokasi KKN-nya. Obrolan malam itu mengalir begitu saja. Tidak ada pembicaraan tentang tagihan, rumah sakit, atau kekurangan uang seperti beberapa bulan yang lalu. Yang ada hanya tawa sederhana.
Dan bagiku...
Itu sudah lebih dari cukup.
Setelah makan malam selesai, kami berpamitan masuk ke kamar masing-masing.
Aku pun masih ada beberapa laporan yang harus kuselesaikan sebelum besok pagi.
Tanpa terasa, jarum jam terus bergerak.
Tok… Tok…
Aku menoleh ke arah pintu. "Iya, Bu?"
Pintu perlahan terbuka. Ruangan yang semula gelap mendadak dipenuhi cahaya lilin kecil.
HAPPY BIRTHDAY!
Aku tersentak kaget. Di depan pintu berdiri Bapak, Ibu, Amanda, Felix, Melinda, dan wajah Ferdinand yang muncul dari layar ponsel melalui panggilan video.
Mereka membawa sebuah kue ulang tahun sederhana.
Mataku langsung memanas. "Ya ampun..."
"Buruan ditiup dulu, Kak!" seru Felix.
"Jangan kelamaan nanti lilinnya habis sendiri." Bapak ikut bercanda.
Aku tersenyum sambil menutup mata sejenak. Dalam diam, aku mengucapkan satu doa. Tuhan... semoga keluargaku selalu sehat.
Perlahan aku meniup lilin. Tepuk tangan memenuhi kamar kecilku.
"Happy Birthday, kak!" ujar Ferdinand dari balik layar ponsel. "Maaf ya belum bisa pulang."
"Nggak apa-apa." Aku menjawab dengan perasaan haru.
Melinda langsung memelukku erat. "Semoga tahun ini Kak Melita punya pacar."
Aku spontan tertawa. "Doain aja ada yang mau." Semua ikut tertawa.
Setelah beberapa saat bercengkerama, satu per satu mereka keluar dari kamarku. Hanya ibu yang masih berdiri di sana. Beliau menutup pintu perlahan. Kemudian berbalik dan menggenggam kedua tanganku.
"Melita..." Suara ibu mulai bergetar. "Terima kasih ya, nak."
Aku mengernyit.
"Ibu tahu... selama ini kamu yang paling banyak berjuang buat keluarga." Air mata Ibu perlahan jatuh. "Maaf ya, nak... Ibu belum bisa jadi ibu yang baik."
"Bu..." Aku memotong dengan nada lembut.
"Di usia kamu sekarang, banyak perempuan sudah menikah, punya anak, punya keluarga sendiri. Tapi kamu..." Suara ibu terhenti. “…masih sibuk mengurus Bapak sama Ibu."
Aku langsung menggeleng. "Nggak kok, Bu." Aku tersenyum, berusaha menenangkan beliau. "Memang aku yang belum mau. Lagian... belum ada juga yang deketin."
Ibu malah semakin menangis.
"Nak... terima kasih ya." Ibu berusaha menahan tangisnya. "Sekarang... sudah waktunya kamu mulai memikirkan masa depanmu sendiri."
"Doakan Bapak sama Ibu bisa menebus semuanya." Ibu menambahkan kalimat yang membuat dadaku merasa nyeri.
Aku langsung memeluk beliau. "Ibu..."
"Terima kasih ya sudah jadi Ibu yang baik buat Melita. Ibu nggak pernah memaksa Melita harus jadi seperti apa. Ibu selalu percaya sama Melita. Kalaupun sekarang kita belum benar-benar berhasil, bukan karena kita nggak berusaha. Keadaan saja yang belum sepenuhnya berpihak kepada kita." Aku mengusap pelan punggung ibu.
"Tapi aku percaya. Suatu hari nanti semuanya akan jauh lebih baik. Jadi… jangan pernah merasa gagal ya, Bu. Melita sayang sama Bapak dan Ibu." Air mataku perlahan mengalir melalui pipiku. Pelukan Ibu pun menjadi semakin erat.
Malam itu...
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Aku merasa menjadi seorang anak.
Bukan seseorang yang harus selalu kuat.