Hari-hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, minggu berganti bulan. Hari ini adalah hari keberangkatan Melinda untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata.
"Pakai jaketnya, Lin. Di sana anginnya pasti lebih dingin." Ibu memperingatkan Melinda sembari mondar-mandir untuk memastikan tidak ada barang Melinda yang tertinggal.
"Iya, Bu," jawab Melinda.
"Obat maag jangan lupa." Ibu kembali mengingatkan
"Iya..." Muka Melinda terlihat pasrah.
"Payung juga lho Mel," tambahnya.
"Iya, Bu..." jawabnya lagi.
Aku terkekeh melihat wajah pasrah Melinda.
"Ibu, nanti kopernya penuh isinya obat semua." Melinda menoleh ke arah Ibu.
"Biarin. Daripada kamu sakit."
Felix yang sedang memakai sepatu ikut menimpali. "Kalau masih muat, masukin rice cooker sekalian."
"Hahaha!" Ferdinand langsung tertawa.
"Biar sekalian buka warung." Tambah Felix.
"Eh! Kalian berdua nih!" Melinda mengambil bantal sofa lalu melemparkannya ke arah Felix.
Semua tertawa melihat tingkah mereka. Suasana rumah pagi itu terasa begitu hangat.
Sesampainya di kampus, halaman sudah dipenuhi mahasiswa yang membawa koper dan tas besar. Sebagian sibuk berfoto bersama keluarga, sebagian lagi saling berpamitan dengan teman-temannya.
“Melinda!” Beberapa temannya melambaikan tangan.
"Bentar ya." Melinda berlari kecil menghampiri mereka sebelum kembali lagi ke arah kami. Ia kemudian memeluk ibu lebih dulu.
"Jaga kesehatan ya." Ibu mengelus kepala Melinda.
"Iya, Bu." Jawab Melinda.
Lalu Bapak. "Jaga diri lho."
"Iya, Pak."
Setelah itu ia menghampiriku. "Kak..."
Aku tersenyum. "Hm?"
"Doain ya." Kata Melinda kepadaku.
Aku mengangguk. "Pasti dong."
Ia langsung memelukku erat. "Semoga KKN-nya lancar."
"Semoga ketemu jodoh juga." Ferdinand menimpali.
Aku menoleh ke arah Felix dan Ferdinand yang langsung tertawa puas. Melinda memutar bola matanya.
“Kak Ferdinand!”
Kami semua kembali tertawa.
Tak lama kemudian panitia mulai memanggil seluruh peserta. "Peserta KKN dimohon segera berkumpul."
Melinda melambaikan tangan. "Dah… semuanya!"
"Hati-hati ya!" Kami membalas lambaian tangannya hingga sosoknya perlahan menghilang di antara kerumunan mahasiswa lain.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih sepi. Aku melirik kursi belakang mobil. Biasanya Melinda selalu menjadi orang yang paling banyak bercerita.
Sekarang kursi itu kosong. Tanpa kusadari, keluarga kami perlahan mulai berubah. Felix telah memiliki pekerjaannya sendiri. Ferdinand semakin sering bepergian ke luar kota. Amanda sibuk dengan pekerjaan barunya. Kini Melinda pun mulai menjalani fase baru dalam hidupnya.
Sementara aku...
Masih berada di tempat yang sama. Mungkin benar. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk bertumbuh. Dan aku percaya, waktuku juga akan segera tiba.
***
Aku kembali ke rumah bersama Bapak, Ibu, Felix, dan Ferdinand. Berbeda dengan pagi tadi yang dipenuhi kesibukan, sore itu rumah terasa jauh lebih tenang. Bapak langsung menuju ruang keluarga untuk beristirahat, sedangkan Ibu masuk ke dapur untuk menyiapkan teh hangat.
"Aku bantu ya, Bu," kataku sambil mengikuti ibu.
"Nggak usah. Kamu pasti capek habis lembur semalam, paginya langsung antar Melinda."
“Sama dong dengan Ibu, sama-sama capek makanya aku bantu aja ya hehe.” Aku tersenyum dan mengambil sekotak gula dari tangan Ibu.
Felix dan Ferdinand sudah lebih dulu duduk di sofa. Ntah apa yang mereka perbincangkan. Tidak lama, aku meletakkan tiga cangkir teh di meja. Sedangkan Ibu, menuju kamar untuk memberikan secangkir teh kepada Bapak.
“Wih… tumben-tumben nih kak.” Felix mengambil cangkir sembari tersenyum.
Suasana kembali hening beberapa saat. Tatapan Felix kemudian mengarah kepadaku. Ia meletakkan cangkirnya dan mulai berbicara.
"Ehm… Kakak pernah kepikiran nggak kepikiran Ibu buka usaha lagi?"
Aku menoleh. "Maksudnya?"
Felix menggaruk tengkuknya pelan. "Ya... toko kecil gitu. Bukan toko besar ya."
Aku mengangguk, “Hm.. aku pernah sih kepikiran mau buat toko kue kecil-kecilan buat Ibu, tapi… duitku belum cukup hehehe. Kenapa?”
"Nah, sekarang kan kita berempat sudah bekerja, bisa dong kita patungan." Felix menjelaskan dan menoleh ke arah Ferdinand.
“Ide yang bagus, tuh.” Ferdinand menimpali.
Felix mengangguk mantap. "Iya kan, kita bisa buatin toko kue kecil-kecilan seperti ide kak Lita."
“Boleh sih, ide menarik. Tapi yang bantu siapa? Ini aja kadang kita keteteran dan bergiliran bantu.” Aku menambahkan.
“Hmm… masih kita sih kak, kue kering aja. Jadi malamnya kita bantu Ibu buat kue. Pagi kita antar ke toko,” jelas Felix.
"Coba kita hitung dulu." Ferdinand kemudian membuka aplikasi catatan. "Kalau aku bisa sisihin dua juta."
Felix mengangguk. "Aku juga sekitar segitu."
Aku ikut berpikir. "Kalau aku mungkin bisa bantu tiga setengah juta juta."
"Gimana kalau kita coba cari dulu tempatnya, kita perkirakan harganya. Kalau memang agak mahal dari yang ada saat ini, kita nabung dulu sampai terkumpul.” Ferdinand memberikan masukan.
“Bisa, gitu aja. Kita coba cari-cari dulu. Tapi kasih target ya. Tiga bulan sudah harus sewa. Jadi kita bisa nabung dulu tuh selama tiga bulan untuk tambah-tambah,” jelasku.
“Ide bagus!” Felix bersemangat. “Ini baru kita, kita ajak kak Amanda juga.”
Tak lama kemudian Ibu datang ke ruang tamu. “Lagi pada ngapain? Serius sekali.”
Aku menoleh, cukup kaget. “Oh, nggak Bu. Bahas kerjaan aja. Kok nggak jadi tidur, Bu?” tanyaku.
Ibu menjawab dan hanya tersenyum tanpa curiga.
Malam harinya, tepat sebelum tidur, ponselku kembali berbunyi. Felix membuat grup baru.
Tim Misi Rahasia
Aku terkekeh pelan melihat nama grup itu. Anggotanya hanya berlima. Aku, Amanda, Felix, Ferdinand, dan Melinda.
Tak lama kemudian Felix langsung mengirim pesan.
Felix
Mulai sekarang kalau mau bahas toko buat ibu, kita ngobrol di sini aja ya.
Ferdinand
Setuju!
Melinda
Hah? Toko apa ini?
Baru juga ditinggal KKN, udah punya misi baru.
Amanda
Kok aku nggak tau apapun ya? -.-
Felix kemudian menjelaskan rencana mereka sejak awal.
Tak butuh waktu lama. Amanda langsung membalas.
Amanda
Aku ikut patungan ya.
Melinda
Aku belum kerja 😭
Aku minta duit ibu aja deh hehehe.
Ferdinand
Eh.. ngawur!
Jangan bilang ibu lho ya!
Melita
Kamu bantu doa aja, berdoa nggak keceplosan hahaha.
Felix
Itu mah tugas kita kak. Tapi untung dia lagi KKN haha.
Aku tersenyum sendiri membaca percakapan mereka. Entah sejak kapan, adik-adikku yang dulu selalu bergantung padaku kini mulai berdiri di atas kaki mereka sendiri.
Dan untuk pertama kalinya...
Aku merasa tidak lagi memikul semuanya sendirian.
Hari-hari berikutnya, grup itu hampir tak pernah sepi.
Felix beberapa kali mengirimkan tautan ruko kecil yang ia temukan. Ferdinand sesekali membandingkan harga sewanya dengan daerah lain.
Amanda ikut mencari informasi mengenai peralatan dapur bekas yang masih layak pakai agar biaya awal bisa ditekan. Sementara Melinda, meski sedang sibuk menjalani KKN, tetap aktif memberikan ide-ide promosi yang membuat kami tak jarang tertawa membaca pesannya.
Perlahan, sebuah mimpi sederhana mulai terbentuk. Semua ini untuk satu tujuan yang sama, kami ingin melihat Ibu kembali tersenyum, melakukan hal yang paling ia sukai—membuat kue untuk banyak orang.
***
Dua bulan berlalu begitu cepat.