Izinkan Aku Lepas

Martha Han
Chapter #17

12. Luka Terbuka

Hari-hari kemudian berjalan dengan baik. Tidak banyak hal yang berubah.

Bapak tetap mengajar, Ibu mulai sibuk dengan toko kuenya, Felix dan Ferdinand mulai semakin sibuk, Melinda mulai mempersiapkan diri untuk tugas akhirnya, dan Amanda tetap menjalani hubungannya dengan Alex.

Aku pun tetap berusaha menjalani hidupku seperti biasa.

Aku juga berusaha menjaga jarak. Bukan karena aku marah kepada Alex. Bukan juga karena aku membenci Amanda.

Aku hanya ingin memberi kesempatan kepada diriku sendiri untuk melupakan. Namun, ternyata melupakan seseorang tidak semudah menghindarinya.

Semakin aku berusaha tidak memikirkan Alex, semakin sering wajahnya muncul di kepalaku. Semakin aku berusaha menjaga jarak, semakin aku menyadari betapa seringnya kami bertemu.

Di kantor.

Di ruang pertemuan.

Di lorong.

Bahkan dalam percakapan-percakapan sederhana.

"Melita."

Aku menoleh.

Alex berdiri beberapa langkah di depanku.

"Ya, Pak?"

"Dokumen yang kemarin sudah kamu kirim?" tanyanya.

"Sudah." Aku menjawab dengan singkat.

"Baik." Dia mengangguk. "Terima kasih."

"Sama-sama, pak."

Percakapan itu hanya berlangsung beberapa detik. Namun, entah kenapa, setelah Alex pergi, aku masih berdiri di tempat yang sama.

Aku menghela napas.

Bahkan percakapan sesederhana itu masih bisa membuat jantungku berdebar. Aku menundukkan kepala. Aku benar-benar tidak mengerti. Aku tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengan Alex.

Tidak pernah ada janji di antara kami.

Tidak pernah ada pengakuan yang terlontarkan.

Tidak pernah ada sesuatu yang bisa disebut sebagai hubungan di antara kami.

Bahkan, mungkin...

Alex tidak pernah melihatku lebih dari sekadar rekan kerja.

Lalu kenapa melupakannya terasa begitu sulit?


***

Hari-hari terus berjalan. Aku dan Amanda perlahan kembali seperti biasa.

Tidak ada lagi kecanggungan di antara kami. Setidaknya, aku berusaha untuk tidak membiarkan hal itu memengaruhi hubungan kami.

Aku tetap mendengarkan ceritanya tentang Alex. Tetap tersenyum ketika ia menceritakan hal-hal kecil tentang hubungan mereka.

Dan tetap berusaha menjadi kakak yang baik. Hingga akhirnya, tanggal 2 Februari tiba.

Hari ulang tahun Amanda.

Malam itu, kami semua berkumpul untuk makan malam bersama.

Bapak dan Ibu sudah datang lebih dulu. Felix dan Ferdinand juga sudah berada di sana.

Aku duduk di samping Melinda, sementara Amanda duduk bersama Alex.

Tidak lama kemudian, Erik datang. "Maaf terlambat."

"Nggak apa-apa," kata Amanda.

Erik kemudian menghampiri Bapak dan Ibu.

"Pak, Bu, saya Erik."

"Oh, ini Erik?" Ibu langsung tersenyum.

Amanda tersenyum tipis. "Iya, Bu."

"Yang kemarin ikut nonton?"

Erik mengangguk. "Iya."

Suasana malam itu terasa hangat.

Kami makan bersama, berbincang, dan sesekali saling melempar candaan.

Aku tersenyum melihat Amanda. Dia terlihat bahagia. Dan aku benar-benar bahagia untuknya.

Sungguh… aku ingin ia bahagia.

Aku ingin hubungan mereka berjalan baik. Namun, tentu saja, perasaan tidak selalu bisa mengikuti apa yang kita inginkan. Sesekali, pandanganku jatuh kepada Alex. Dan setiap kali melihatnya, aku masih merasakan sesuatu yang tidak seharusnya.

Aku masih menyukainya.

Meskipun aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk melupakan.

Di sisi lain, Erik juga beberapa kali menghubungiku melalui media sosial.

Awalnya hanya percakapan sederhana seperti menanyakan pekerjaan, kemudian mengirimkan sesuatu yang menurutnya lucu, atau sekadar bertanya apakah aku sudah makan. Aku selalu berusaha membalasnya dengan baik.

Aku tahu dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Namun, entah kenapa, ada sedikit rasa kesal setiap kali melihat namanya muncul di layar ponselku. Mungkin karena dia datang di waktu yang tidak tepat.

Di saat aku masih menyimpan perasaan untuk orang lain.

Lihat selengkapnya