Izinkan Aku Lepas

Martha Han
Chapter #16

11. Titik Buta

Hari-hari kembali berjalan seperti biasanya. Pagi hari, aku kembali duduk di meja kerjaku. Layar komputer sudah dipenuhi daftar pekerjaan yang harus kuselesaikan minggu ini. Rasanya, setelah libur akhir tahun, semua proyek kembali berjalan bersamaan.

Aku menarik napas panjang. Hari ini, aku memutuskan satu hal. Aku harus kembali melihat pak Alex sebagai atasanku. Bukan sebagai pria yang pernah membuatku berharap. Aku harus menjaga batas.

Bukan karena membencinya. Melainkan karena aku ingin menghargai perasaanku sendiri. Aku tidak ingin terus menyukai seseorang yang sudah memiliki tempat di hati adikku.

"Mel, nanti jam sepuluh kita bahas revisi gambar ya." Suara pak Alex membuyarkan lamunanku.

Aku segera berdiri.

"Baik, pak." Jawabanku singkat.

Seperti biasa. Aku berusaha bersikap senormal mungkin. Namun kali ini, aku menghindari menatap matanya terlalu lama. Aku hanya mencatat semua instruksi yang ia sampaikan, kemudian kembali ke mejaku.

Mungkin, beginilah cara terbaik. Menjaga jarak tanpa mengurangi rasa hormat.

Hari demi hari berlalu.

Perasaanku memang belum benar-benar hilang. Namun setidaknya, aku mulai belajar hidup berdampingan dengannya. Sampai suatu siang, ponselku bergetar.

Amanda.

Kak, makan siang yuk.

Aku tersenyum. Tak lama kemudian sebuah alamat restoran masuk. Aku segera mengiyakan. Restoran itu tidak terlalu ramai.

Begitu masuk, aku langsung menemukan Amanda yang sedang melambaikan tangan.

"Kak! Di sini!"

Aku berjalan mendekat. Namun langkahku sedikit terhenti. Di sana sudah ada Erik.

Dan...

Pak Alex.

"Oh..." Aku tersenyum kecil. "Lengkap juga."

Amanda langsung berdiri. "Kak, duduk sini."

Aku mengangguk pelan.

"Melita." Alex menyapaku lebih dulu.

"Siang, pak." Kami saling tersenyum singkat.

Tak lama kemudian, obrolan mengalir begitu saja. Sebagian besar membahas pekerjaan. Erik sesekali bertanya tentang proyek yang sedang kami kerjakan. "Aku dengar lagi banyak proyek ya?"

Aku mengangguk. "Iya. Awal tahun memang lumayan padat."

Alex ikut menambahkan. "Target tahun ini juga lebih tinggi."

Erik mengangguk-angguk. Kemudian ia menatapku bergantian dengan Alex.

"Tunggu bentar.” Erik langsung menoleh ke Amanda. "Baru sadar, bosnya kakak kamu... pacar kamu?"

Amanda tertawa. "Iya."

Erik menepuk dahinya. "Ya ampun. Ini namanya apa coba? Jodoh banget. Pacaran sama orang yang ternyata bos kakaknya sendiri."

Amanda ikut tertawa. "Makanya aku juga kaget waktu tahu."

Alex hanya tersenyum tipis. "Kebetulan."

Aku ikut tersenyum kecil. "Iya… kebetulan."

Meski dalam hati, aku berharap semua ini hanyalah sebuah kebetulan yang tidak pernah terjadi.

Makan siang berakhir sekitar satu jam kemudian.

Kami berjalan keluar restoran bersama.

"Melita."

Aku menoleh. "Iya, pak?"

"Kamu ke sini naik apa?"

"Motor, pak." Aku menjawab singkat.

Alex mengangguk. "Oke. Saya antar Amanda dulu ke kantor. Nanti ketemu di kantor."

“Baik, pak."

Amanda melambaikan tangan. "Duluan ya, kak."

"Hati-hati." Aku membalas lambaian tangannya.

Kulihat Amanda naik ke kursi penumpang mobil Alex. Beberapa detik kemudian, mobil itu perlahan melaju meninggalkanku.

Aku berdiri diam di samping motorku.

Entah... Harus berapa kali aku harus mengalami perasaan seperti ini.

Sesak.

Bukan karena aku kehilangan seseorang yang pernah kumiliki. Melainkan karena aku harus merelakan seseorang yang bahkan belum sempat menjadi milikku.

Aku mengenakan helm perlahan. Lalu menyalakan mesin motor. Perjalanan menuju kantor terasa begitu sunyi.

Aku tahu... hari ini bukan yang terakhir––Besok, lusa, minggu depan. Aku akan kembali melihat mereka bersama.

Dan setiap kali itu terjadi, aku harus kembali mengingatkan diriku sendiri. Bahwa beberapa perasaan memang cukup disimpan. Tanpa harus diperjuangkan.


***

Beberapa hari setelah makan siang bersama Amanda, Alex, dan Erik, kehidupanku kembali berjalan seperti biasa.

Atau setidaknya, aku berusaha membuatnya terlihat biasa.

Aku tetap datang ke kantor tepat waktu. Tetap menyelesaikan pekerjaan. Tetap menghadiri meeting bersama pak Alex tanpa menunjukkan perubahan apa pun.

Namun, aku mulai menjaga jarak.

Tidak terlalu banyak berbicara di luar pekerjaan. Tidak lagi mencari alasan untuk berada di ruangannya lebih lama. Tidak menunggu-nunggu pesan darinya.

Aku tetap menghormati pak Alex sebagai atasanku. Aku tetap menjalankan semua pekerjaanku secara profesional. Hanya saja, aku tidak ingin lagi memberi kesempatan kepada perasaanku untuk tumbuh lebih jauh.

Aku tahu, perasaan itu tidak akan hilang hanya dalam satu atau dua hari. Namun, setidaknya aku bisa berhenti menyiramnya.

Aku pikir, perlahan-lahan semuanya akan membaik.

Bzz…Bzz…

Amanda

Kak, malam ini nonton, yuk.

Aku yang sedang duduk di meja kerja langsung tersenyum.

Melita

Nonton apa?

Amanda

Film baru. Katanya bagus.

Melita

Berdua?

Beberapa detik kemudian, Amanda membalas.

Amanda

Ya… Kurang lebih.

Melita

Kurang lebih? Maksudnya?

Aku mengernyitkan dahi.

Amanda tidak langsung membalas. Aku menatap layar ponselku dengan curiga.

Bzz…Bzz…

Amanda

Kak, nanti aku ke sana ya, kakak nggak usah jemput. Soalnya aku ada perlu dulu sama Alex.

Entah mengapa, membaca chatnya membuat dadaku terasa nyeri. Tapi aku harus bisa menjaga diri.

Malamnya, aku menunggu Amanda di lobi kantor. Tiba-tiba, Amanda muncul dengan Alex. Aku sudah curiga, namun aku tidak ingin ambil pusing.

“Maaf lama ya, kak.” Amanda memecah lamunanku.

“Nggak papa. Halo pak.” Aku menoleh dan berdiri untuk menyapa pak Alex.

“Halo Mel. Sorry lama.” Katanya.

Hah? Lama? Jangan-jangan dia ikut.

Belum sempat aku bertanya, Amanda berkata, “Kita nonton berempat ya kak. Sama Erik juga hehe. Kita tunggu dia dulu.”

"Berempat?" Aku memastikan kembali.

Amanda tersenyum kecil. "Iya. Sama Erik."

Aku menatapnya beberapa detik. "Kenapa nggak bilang dari tadi?"

Amanda hanya tertawa kecil. "Kalau aku bilang, Kakak pasti nggak mau ikut."

"Nah, berarti memang seharusnya bilang."

Amanda tertawa, kemudian menggandeng lenganku. "Sudahlah, kak. Sekali-sekali."

Aku menghela napas.

Sebenarnya aku ingin mengomel. Namun, melihat wajah Amanda yang terlihat begitu bersemangat, aku tidak tega. Pak Alex juga ada di sini, aku tidak nyaman menjadikan ini sebagai masalah. Aku tidak ingin membuat suasana menjadi canggung.

"Ya sudah."

Amanda langsung tersenyum lebar. "Nah, gitu dong."

Aku melirik pak Alex yang berdiri di sampingnya dan kembali duduk di kursi lobi.

Tidak lama kemudian, Erik muncul dari arah pintu utama. "Maaf, aku terlambat."

"Nggak apa-apa," jawab Amanda.

Erik kemudian menoleh kepadaku. "Hai, Melita."

"Hai." Aku tersenyum.

Lihat selengkapnya