Awalnya, aku hanya mencari informasi.
Aku membuka berbagai situs universitas. Mencari program studi yang sesuai dengan latar belakangku. Mencari informasi tentang persyaratan pendaftaran.
Mencari beasiswa.
Mencatat deadline.
Membaca pengalaman orang-orang yang pernah melanjutkan pendidikan di Luar Negeri.
Pada awalnya, semua terasa begitu jauh.
Seperti sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang lain.
Namun, semakin banyak informasi yang kubaca, semakin aku menyadari bahwa mungkin hal itu tidak mustahil.
Aku hanya perlu mencoba.
Aku kemudian menghadiri beberapa pameran pendidikan dan beasiswa, berbicara dengan perwakilan universitas, dan bertanya tentang program studi, mencatat persyaratan yang harus dipenuhi.
Hampir selalu, ada satu persyaratan yang muncul.
Kemampuan bahasa Inggris.
Aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti tes. Hasilnya keluar beberapa waktu kemudian.
Aku menatap angka di layar komputer.
TOEFL: 480.
Aku menghela napas panjang. "Yah..."
Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku terkejut. Namun, angka itu jelas masih jauh dari target yang kubutuhkan.
Aku kemudian teringat pada salah satu fasilitas yang diberikan oleh kantor.
Pelatihan untuk karyawan.
Aku membuka kembali informasi yang pernah diberikan oleh bagian HR. Ternyata, biaya pelatihan tertentu dapat diajukan untuk reimbursement. Aku menatap layar komputer. Kemudian tersenyum kecil. "Sayang kalau nggak dipakai."
Beberapa hari kemudian, aku mengajukan pelatihan bahasa Inggris khususnya pelatihan IELTS.
Kalau tesnya menggunakan IELTS, maka akan lebih banyak pilihan kampus dan negaranya. Begitu pikirku.
Aku tidak mengatakan kepada siapa pun bahwa sebenarnya akulah yang meminta pelatihan itu. Ketika Ibu bertanya, aku hanya mengatakan bahwa kantor sedang memberikan pelatihan.
Hal itu tidak sepenuhnya salah.
Aku hanya tidak menjelaskan bahwa aku sendiri yang mengajukannya.
Kelas berlangsung setiap hari setelah jam kerja, tepatnya pada pukul tujuh malam, dan hanya berlangsung selama satu jam.
Awalnya, rasanya melelahkan. Setelah bekerja seharian, aku harus kembali duduk di dalam kelas. Namun, perlahan aku mulai terbiasa.
Aku belajar grammar, mengerjakan latihan listening, berbicara dalam bahasa Inggris, dan berulang kali menulis esai.
Aku bahkan mulai menghabiskan waktu di akhir pekan untuk belajar sendiri.
"Kenapa tiba-tiba ikut kursus?" tanya Amanda suatu malam.
Aku menoleh. "Hah?"
"Alex bilang kakak ikut pelatihan bahasa Inggris."
Aku terdiam sebentar ketika mendengar nama itu.
Alex.
Namun, anehnya, kali ini aku tidak merasa sesak seperti sebelumnya. Aku terlalu sIbuk dengan fokusku sendiri.
Tanpa sadar, aku mulai melupakannya perlahan.
"Ya, pengen aja."
Amanda mengerutkan dahi. "Kenapa?"
"Karena dapat fasilitas dari kantor." Aku mengangkat bahu. "Sayang kalau nggak dipakai."
Amanda mengangguk. "Oh... Semangat ya kak!"
Amanda kemudian tersenyum sumringah.
"Makasih yaa." Aku tersenyum kepadanya.
Percakapan itu berakhir begitu saja. Tidak ada yang terlalu memikirkannya, dan aku kembali fokus pada apa yang ingin kulakukan.