Waktu berganti hari, hari berganti minggu, tidak ada yang berubah dari hari di mana keluarga Sutrisno makan bersama untuk acara pendadaran Melinda.
Aku masih terlibat dengan pak Alex di beberapa proyek.
Tok…Tok…
“Permisi, pak Alex.” Aku mengetuk pintu kantornya.
“Masuk.” Jawaban singkat terdengar dari balik pintu.
Aku melangkahkan kakiku ke dalam. Saat itu, aku mengerti bahwa masih ada perasaan-perasaan yang teritinggal. Namun, rasanya berbeda.
Beban berat perlahan menghilang dari pundakku.
Aku selangkah lebih jauh untuk menyukainya, dan aku bangga pada diriku sendiri.
“Berikut adalah laporan akhir untuk Universitas Tri Nusa Dharma.” Aku menyerahkan dokumen kepada pak Alex.
“Oh, baik. Terima kasih Melita.” Ia mengambil laporan itu perlahan.
“Mari pak.” Aku berbalik untuk kembali ke ruanganku.
“Mel, jangan lupa meeting dua hari lagi ya sama orang kampus.”
“Baik. Siap pak.” Aku mengangguk kecil, lalu kembali ke mejaku.
Begitu duduk, aku langsung membuka laptop dan mulai memeriksa beberapa email yang masuk. Satu per satu kubaca, hingga sebuah nama membuatku berhenti.
Seorang Profesor dari salah satu universitas di Australia.
Aku membuka email tersebut dengan sedikit rasa penasaran. Namun, semakin jauh aku membacanya, semakin lebar senyum yang tanpa sadar terukir di wajahku.
Profesor itu ternyata tertarik dengan proposal yang kukirimkan beberapa waktu lalu. Ia ingin mengadakan pertemuan untuk membicarakan proposal tersebut lebih lanjut dan memintaku memilih waktu yang paling memungkinkan untuk melakukan pertemuan secara daring.
Aku hampir tidak percaya.
Benarkah ini?
Aku membaca email itu sekali lagi, memastikan bahwa aku tidak salah memahami isinya.
Tidak lama kemudian, aku langsung membalas email tersebut.
Dear Professor...
Aku mengetik beberapa pilihan waktu yang memungkinkan, kemudian membaca kembali email tersebut sebelum akhirnya mengirimkannya.
Begitu email itu terkirim, aku menyandarkan tubuh ke kursi.
Aku tersenyum. Aku benar-benar bersemangat.
Kesempatan ini mungkin saja menjadi langkah pertama menuju sesuatu yang selama ini kuimpikan.
Beberapa jam kemudian, sebuah email balasan kembali masuk. Aku segera membukanya. Hari dan waktu pertemuan telah disepakati.
Aku menatap layar laptop selama beberapa detik. Pertemuan itu akan berlangsung tiga hari lagi. Aku benar-benar tidak sabar.
Hari kerja akhirnya berakhir.
Setelah membereskan barang-barangku, aku segera pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku langsung menemukan Ibu yang sedang berada di ruang makan. Ibu menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka.
“Sudah pulang?” tanya Ibu.
“Iya, Bu.”
Tanpa sadar, aku memandanginya cukup lama.
Bersamaan dengan semangat yang aku bawa dari kantor, ada sesuatu yang lain yang perlahan muncul. Sesuatu yang membuat napasku sedikit tersengal.
Bagaimana kalau aku beneran pergi?
Pikiranku melayang jauh.
Itu artinya, aku meninggalkan Ibu.
“Kenapa wajahmu kelihatan sedih begitu?” tanya Ibu, memotong lamunanku.
Aku sedikit terdiam. “Sedih?”
“Iya. Ada apa?”
Aku segera menggeleng. “Nggak ada apa-apa, Bu. Cuma capek.”
Ibu masih menatapku sejenak, seolah tidak sepenuhnya percaya. “Benar?”
Aku tersenyum kecil. “Iya.”
Ibu akhirnya menghela napas pelan.
“Ya sudah. Sudah makan?”