Izinkan Aku Lepas

Martha Han
Chapter #20

15. Melepas Langkah

Seminggu berlalu, dan aku belum juga mendapatkan kabar––ntah kabar baik, atau kabar buruk.

Hari-hariku tetap berjalan seperti biasa. Aku menghabiskan sebagian besar waktuku untuk bekerja dan sesekali membantu Ibu di toko. Tidak ada sesuatu yang benar-benar berbeda.

Hingga suatu hari, sebuah email masuk ke ponselku.

Aku mendapatkan rekomendasi dari Profesor John yang sebelumnya kutemui.

Dan aku diterima untuk mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan magister di Australia.

Seketika tubuhku kaku, mematung.

Untuk beberapa saat, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya menutup mulutku karena tidak percaya atas apa yang sedang aku baca.

Waktu di sekitarku seolah terhenti–orang-orang, udara, semua seolah berhenti.

Ada rasa bangga dan kebahagiaan.

Ada rasa lelah yang tiba-tiba terasa terbayarkan.

Namun, di balik semua itu, ada juga kebingungan yang perlahan merayap di dalam dadaku.

Bagaimana caraku bilang kepada Bapak dan Ibu?

Bagaimana aku mengatakannya di kantor?

Apa yang harus kulakukan terlebih dahulu?

Aku tidak tahu harus mulai dari mana.

Pikiranku seketika menjadi terlalu berisik.

Hari itu, sebisa mungkin aku berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaanku. Namun, sesekali pikiranku kembali melayang pada surat elektronik di ponselku.

Waktu terus berjalan, hingga siang berganti malam.

Dan akhirnya, tiba waktunya bagiku untuk memberitahu keluargaku.

“Aku pulang.” Aku menyapa Bapak, Ibu, dan adik-adik yang sudah lebih dulu berada di rumah.

“Akhirnya pulang juga,” kata Melinda.

“Lama banget kak hari ini?” Felix bertanya.

“Aku mampir dulu, beli martabak hehehe. Sudah lama nggak makan,” aku menjawab.

“Makan… makan…” Ferdinand segera duduk di meja makan diikuti Amanda di belakangnya.

“Asik… acara apa nih?” tanyanya.

Aku kemudian menggaruk tengkukku, “Hmm.. semua. Aku daftar program master dan diterima.

Astaga…

Keren banget kak.

Di kampus mana?

Selamat!!!

Semua suara itu hampir berpadu di udara.

“Di Australia. Kurang lebih tiga bulan lagi, aku akan berangkat ke Australia.”

Hening…

Seketika, semua yang tadinya bersorak, menjadi diam.

Ibu mematung.

Aku tidak tahu harus merespon keheningan ini seperti apa. Hingga Ibu duduk pelan-pelan dan mulai menangis.

Aku tidak tahu harus bagaimana. Perlahan aku berjongkok di hadapan Ibu, kedua tanganku menggenggam tangannya.

“Terlalu dadakan, Melita.” Ibu memecah tangisnya,

“Ibu bangga… sama Melita…” kalimatnya terbata-bata.

“Tapi terlalu… dadakan Melita.” Ibu kembali terisak.

Melihat Ibu menangis membuat dadaku terasa sesak. Tanpa kusadari, air mata mulai menggenang di mataku.

“Maaf ya, Bu. Melita nggak pikir panjang.” Hanya itu yang dapat kukatakan.

Aku menundukkan kepala.

Lihat selengkapnya