PENDAHULUAN
Pagar yang Dibangun dari Ketakutan
Di Karangwuni, orang-orang tua selalu buru-buru menutup jendela ketika hujan pertama mulai turun. Air bukan yang mereka takutkan. Yang membuat tangan mereka gemetar adalah bunyi tipis di sela petir, seperti kuku panjang sedang menggores langit. menertawakan kebiasaan itu. Bagi mereka, hujan tetap saja hujan. Tanah akan berbau basah, parit meluap, lalu para ibu berteriak menyuruh mereka pulang. Selama pintu rumah terkunci dan api tungku belum padam, mereka merasa tidak ada yang perlu ditakuti.
Orang-orang tua tidak pernah ikut tertawa. Mereka tahu pintu kayu hanya bisa menahan angin dan air, bukan segala sesuatu yang mungkin datang bersama gelap.
Sebelum Karangwuni memiliki sawah, lumbung, dan jalan tanah, dunia belum mengenal batas seperti sekarang. Manusia masih berjalan di hutan yang sama dengan Bunian. Siluman Harimau turun dari gunung untuk berburu di lembah. Naga Laut menguasai jalur air, Bidadari Alas menjaga tempat yang tak boleh disentuh kapak, Raksasa Watu tidur di bawah bukit, sementara Bangsa Bayang tinggal di wilayah yang tidak pernah disinari matahari.
Awalnya, mereka hanya hidup dengan cara yang berbeda. Masalah muncul ketika perbedaan itu mulai dianggap sebagai ancaman. Kecurigaan tumbuh di setiap wilayah, dan tidak butuh waktu lama sampai senjata ikut berbicara.
Perang berlangsung terlalu lama. Pada akhirnya, tak satu pun bangsa masih ingat siapa yang menyerang lebih dahulu. Masing-masing hanya mengingat orang-orang yang mati, lalu memakai kematian itu sebagai alasan untuk membalas. Desa dibakar, sungai berubah warna, dan gunung dipahat menjadi benteng. Manusia kehilangan paling banyak karena tubuh mereka lebih mudah dilukai dan wilayah mereka paling sulit dipertahankan.