Bab 1 — Desa di Bawah Langit Retak
Pagi di Karangwuni biasanya datang bersama kokok ayam, bunyi alu dari dapur warga, dan teriakan para petani yang saling memanggil sebelum turun ke sawah. Pagi itu, dari belakang lumbung milik Paman Wira, terdengar bunyi lain yang tidak seharusnya ada: seseorang sedang mengunyah. Kebo Lintang berhenti, memeriksa sekeliling, lalu mendekati tumpukan jerami di samping lumbung. Sepasang kaki menjulur santai dari baliknya.
“Jabang.”
Tak ada sahutan. Kebo menyingkirkan jerami yang menutupi bagian atas tumpukan. Jabang Guntur sedang berbaring di sana dengan kedua tangan di belakang kepala. Mulutnya penuh nasi jagung, sedangkan bungkusan daun pisang tergeletak di atas perutnya.
“Kalau kau mau berpura-pura mati, setidaknya berhenti mengunyah,” kata Kebo.
Jabang membuka sebelah mata. “Orang mati juga bisa lapar.”
“Orang mati tidak mencuri bekal orang.”
“Aku tidak mencuri.”
Kebo menunjuk bungkusan daun pisang itu. “Itu bekalku.”
Jabang melirik bungkusan di perutnya dengan wajah polos, seperti benda itu baru saja muncul di sana.
“Berarti bekalmu tersesat.”
“Masuk ke mulutmu?”
“Mungkin dia mencari tempat yang lebih baik.”
Kebo merebut bungkusan itu. Isinya tinggal sepotong tempe dan beberapa butir nasi yang menempel pada daun.
Ia melirik Jabang dengan kesal. “Paman Wira mencarimu dari tadi.”
Jabang segera menutup mata lagi.
“Katakan aku tidak ada.”
“Kalau tidak ada, siapa yang menghabiskan bekalku?”
“Roh penunggu lumbung.”
Kebo mengangkat kakinya, lalu menendang pelan tumpukan jerami. Jabang kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah. Jerami menempel di rambut serta pakaiannya. Jabang bangkit sambil mengusap pinggang.
“Begitu caramu memperlakukan orang yang belum sarapan?”
“Kau baru saja menghabiskan sarapanku.”
“Itu makanan pembuka.”
Kebo hanya menggeleng. Dari kecil ia sudah terbiasa mendengar alasan Jabang. Rasanya sekarang sudah tidak banyak yang bisa mengejutkannya. Jabang sebenarnya bukan orang jahat. Hanya saja, setiap kali ada pekerjaan, keluhannya langsung muncul. Kalau ada makanan, semua penyakit itu biasanya sembuh sendiri.
Hari itu, para pemuda desa diminta membantu memperbaiki atap lumbung. Musim hujan akan segera datang. Jika atap tidak diperbaiki, padi yang disimpan warga bisa rusak. Semua pemuda sudah berkumpul sejak matahari belum tinggi, kecuali Jabang yang mengaku sakit pinggang meskipun semalam masih sempat mengejar ayam panggang di rumah Madun.
“Kau harus ikut denganku,” kata Kebo.
“Pinggangku sakit.”
“Tadi kau bisa memanjat pagar untuk masuk ke sini.”
“Setelah memanjat pagar, pinggangku sakit.”
Kebo hendak menarik lengannya ketika suara seorang anak perempuan terdengar dari arah sawah.
“Tolong!”
Mereka menoleh bersamaan. Sari berlari di atas pematang sambil mengangkat ujung kainnya. Napas anak itu tersengal-sengal. Wajahnya pucat, dan beberapa kali ia hampir terjatuh karena terus menoleh ke belakang. Jabang yang tadi mengeluh sakit langsung berdiri tegak.
“Sari?”
Anak itu berlari menghampirinya, lalu bersembunyi di belakang tubuh Jabang.
“Di sawah ada orang.”
Pandangan Kebo beralih ke sawah yang mulai menguning. Beberapa petani masih bekerja di sana. Tidak ada orang asing yang terlihat.
“Orang siapa?” tanya Kebo.
Sari menggeleng cepat. “Bukan orang.”
Jabang berjongkok agar wajahnya sejajar dengan wajah anak itu.
“Kalau bukan orang, apa dia ayam?”