Bab 2 — Anak Malas Bernama Jabang
Panggilan itu terdengar lagi dari batas Hutan Wulung. Jabang masih berdiri di tengah pematang. Kakinya terasa berat, seolah bayangannya menahan tubuhnya dari bawah. Ia mencoba mengangkat sebelah kaki, tetapi hanya berhasil menggeser tumit sedikit. Di sampingnya, Kebo memegang kayu dengan kedua tangan. Wajahnya pucat, tetapi ia tidak meninggalkan Jabang.
“Dia mengenal namamu,” bisik Kebo.
“Mungkin aku terkenal.”
“Sekarang bukan waktunya membanggakan diri.”
“Aku tidak sedang bangga.”
Jabang menatap sosok hitam di bawah pohon. Bentuknya tidak jelas. Bagian kepalanya terlalu panjang, sedangkan kedua lengannya hampir menyentuh tanah. Tidak terlihat mata, mulut, ataupun hidung pada wajahnya. Jabang tetap merasa makhluk itu sedang memperhatikannya. Bayangan di bawah kakinya terus merayap menuju hutan. Semakin panjang bayangan itu, semakin berat tubuh Jabang.
Kebo mengangkat kayu, lalu menghantamkannya ke tanah, tepat pada bagian bayangan yang memanjang. Tidak terjadi apa-apa.
“Kau sedang memukul tanah?” tanya Jabang.
“Aku sedang berusaha menolongmu.”
“Kalau begitu, usahamu tidak meyakinkan.”
Kebo mengangkat kayu itu lagi dan memukulkannya lebih keras. Tanah di pematang pecah. Saat itu juga, bayangan Jabang bergetar seperti permukaan air yang terkena batu. Beban pada kedua kaki Jabang berkurang.
“Sekali lagi!” serunya.
Kebo kembali menghantam tanah. Bayangan itu terputus sesaat. Jabang tidak menunggu lebih lama. Ia menarik kakinya, berbalik, lalu berlari menuju desa. Kebo ikut berlari di belakangnya sambil membawa kayu.
“Katamu jangan lari duluan!” teriak Kebo.
“Aku sudah menunggumu dua pukulan!”
“Itu bukan menunggu!”
Mereka berlari melewati pematang sempit. Jabang beberapa kali hampir jatuh karena tanah masih licin oleh embun. Ia tidak berani menoleh, tetapi suara dari arah hutan tetap mengejarnya.
“Jabang Guntur.”
Suara itu terdengar lebih dekat. Jabang mempercepat langkah. Di depannya, jalan menuju permukiman terlihat kosong. Paman Wira dan warga masih berada di sekitar lumbung. Tak ada yang menyadari apa yang sedang terjadi di sawah. Kebo berteriak memanggil mereka. Paman Wira menoleh. Begitu melihat Jabang dan Kebo berlari, ia segera meletakkan tali yang dibawanya.
“Ada apa?”
Jabang melompati parit kecil di ujung sawah. Kakinya mendarat tidak seimbang. Ia hampir jatuh jika Paman Wira tidak menangkap lengannya. Kebo tiba tak lama kemudian. Ia membungkuk sambil mengatur napas.
“Di hutan,” katanya. “Ada sesuatu.”
Beberapa warga yang mendengar langsung mendekat. Madun muncul paling depan dengan palu masih berada di tangannya.
“Roh tanpa kepala?” tanyanya.
Kebo menggeleng.
“Berarti kepalanya ada?”
“Diam dulu, Dun,” kata Paman Wira.
Jabang melepaskan diri dari pegangan pamannya. Perhatiannya beralih ke sawah. Sosok hitam tadi sudah tidak terlihat. Hanya barisan pohon dan padi yang bergerak lagi tertiup angin. Garis hitam di langit pun menghilang. Semua yang mereka lihat lenyap tanpa bekas.
“Apa yang kalian temukan?” tanya Paman Wira.
Kebo menjelaskan mengenai bekas hitam di tanah, sosok di bawah pohon, serta bayangan Jabang yang bergerak sendiri. Ia juga mengatakan bahwa makhluk itu memanggil nama Jabang. Semakin lama Kebo bercerita, semakin banyak warga yang berkumpul. Beberapa orang menatap Jabang dengan rasa ingin tahu. Sebagian lagi mulai berbisik.
“Kenapa makhluk itu memanggil namamu?” tanya seorang petani.
Jabang mengusap keringat di dahinya. “Kalau aku tahu, tadi akan kutanyakan.”
“Kau bicara dengannya?”
“Aku bahkan tidak bisa bicara dengan kakiku sendiri. Keduanya menolak diajak lari.”
Madun mengangkat palu di tangannya. “Mungkin ada roh hutan yang ingin menjadikan Jabang pengantin.”
Warga yang tadi tegang mulai tertawa kecil.
Jabang memperhatikan Madun. “Kenapa aku?”
“Karena roh itu tidak punya banyak pilihan.”
Tawa warga terdengar lebih keras. Ketegangan sedikit berkurang, tetapi Paman Wira tidak ikut tertawa. Ia memperhatikan sawah dan Hutan Wulung dengan wajah serius.
“Bawa kami ke tempat itu,” katanya.
Kebo menggeleng cepat. “Sekarang?”