Jabang Guntur : Pagar Terakhir Manusia

A.A.Pusung
Chapter #4

Bab 3 — Jejak Cakar di Sawah

Bab 3 — Jejak Cakar di Sawah

Jabang tidak langsung menunjukkan daun hitam itu kepada Paman Wira. Ia menyelipkannya ke balik pakaian, lalu kembali bekerja sambil bersikap biasa saja. Sesekali Kebo memandangnya dengan curiga, tetapi Jabang selalu berpura-pura sibuk setiap kali sahabatnya mendekat. Menjelang sore, atap lumbung akhirnya selesai diperbaiki. Para pemuda turun satu per satu. Paman Wira memeriksa hasil pekerjaan mereka, lalu berhenti di bagian yang dipasang Jabang. Bilah bambunya miring. Paku pada salah satu sisinya juga tidak tertanam sempurna.

“Ini bagianmu?” tanya Paman Wira.

Jabang mendongak. “Kalau hasilnya bagus, berarti bagianku.”

“Bilahnya miring.”

“Mungkin lumbungnya yang tidak lurus.”

Paman Wira menatapnya cukup lama.

Jabang mengambil palu tanpa diminta. “Baiklah. Aku perbaiki.”

Beberapa pemuda tertawa. Kebo ikut tersenyum, tetapi pandangannya tetap tertuju pada pakaian Jabang. Ia sempat melihat sahabatnya menyembunyikan sesuatu setelah memegang daun tadi. Kebo tidak bertanya di depan warga. Ia menunggu hingga pekerjaan selesai dan mereka meninggalkan lumbung. Jabang berjalan menuju rumah sambil membawa dua singkong rebus yang berhasil diselamatkannya dari tempat makan. Baru beberapa langkah, Kebo menarik bagian belakang pakaiannya.

“Berikan.”

Jabang menoleh. “Apa?”

“Benda yang kau sembunyikan.”

“Aku tidak menyembunyikan apa-apa.”

Kebo mengulurkan tangan. “Jabang.”

“Aku hanya punya singkong.”

“Daun itu.”

“Sudah hancur.”

“Kenapa tidak kau berikan kepada Paman Wira?”

Jabang melanjutkan langkah. Kebo mengikutinya dari samping.

“Karena itu cuma daun.”

“Daun biasa tidak berubah hitam dalam tanganmu.”

“Sekarang banyak tumbuhan aneh.”

“Dan tidak semua tumbuhan aneh berbisik kepadamu.”

Langkah Jabang berhenti.

Ia memperhatikan Kebo. “Kau mendengarnya?”

Kebo menggeleng. “Tidak. Tapi wajahmu terlihat seperti orang yang mendengar sesuatu.”

“Wajahku memang selalu menarik perhatian.”

“Apa yang dikatakannya?”

Jabang sempat berpikir untuk kembali berbohong. Kebo mengenalnya terlalu lama. Kalau ia mengatakan tidak ada apa-apa, sahabatnya hanya akan terus mengikuti sampai mendapatkan jawaban.

“Pagar pertama telah terbuka,” jawab Jabang pelan.

Kebo tidak langsung menanggapi. Ia menoleh ke arah Hutan Wulung yang tampak gelap di bawah cahaya sore.

“Pagar apa?”

“Aku benar-benar tidak tahu.”

“Suara itu berasal dari hutan?”

“Mungkin.”

“Mungkin?”

Jabang mengeluarkan daun yang sudah menghitam dari balik pakaiannya. Permukaannya kini kering dan mudah hancur. Tujuh garis tipis masih terlihat, meskipun satu garis telah terputus. Kebo hendak mengambilnya, tetapi Jabang menutup telapak tangannya.

“Jangan disentuh.”

“Kenapa?”

“Dingin.”

“Kau menyimpannya di balik pakaian?”

Lihat selengkapnya