Jabang Guntur : Pagar Terakhir Manusia

A.A.Pusung
Chapter #5

Bab 4 — Malam Tanpa Jangkrik

Bab 4 — Malam Tanpa Jangkrik

Paman Wira memeriksa tiga goresan di dinding rumah Sari tanpa menyentuhnya. Bekas itu membelah anyaman bambu dari atas ke bawah. Potongannya bersih, seakan dibuat oleh cakar yang sangat tajam. Tidak ada jejak kaki besar di halaman rumah. Tanah di bawah dinding hanya menyimpan bekas sandal warga yang datang karena mendengar keributan. Bayangan kecil yang tadi bergerak sudah menghilang.

“Apa kau melihat sesuatu?” tanya Paman Wira kepada Sari.

Anak itu menggeleng. Ia berdiri di belakang neneknya sambil memegang ujung kain perempuan tua itu.

“Aku masuk rumah setelah Kak Jabang pergi ke sawah. Waktu keluar, dindingnya sudah seperti itu.”

“Kau mendengar suara?”

“Seperti ada orang menggaruk dari luar.”

Paman Wira mencermati bekas cakar sekali lagi. Ukurannya hampir sama dengan cakar makhluk Harimau yang mereka temui di pematang. Perkataan Sari membuat Jabang teringat tangan kecil yang bergerak di bawah goresan. Ia tidak yakin dua hal itu berasal dari makhluk yang sama.

“Harimau tadi mungkin sudah masuk desa sebelum kita mengikutinya,” kata salah seorang warga.

“Kalau benar, kenapa tidak ada yang melihat?” sahut warga lain.

“Dia bukan harimau biasa.”

Bisik-bisik mulai menyebar. Sebagian warga menduga makhluk dari bukit telah mengincar Sari. Sebagian lagi menghubungkan goresan itu dengan bayangan di sawah. Madun datang membawa kentongan kecil, tombak bambu, dan tali yang dililitkan di pinggang. Entah untuk apa.

“Aku sudah mengatakannya sejak pagi,” katanya. “Ada roh tanpa kepala yang mencari anak kecil.”

“Jejaknya cakar,” kata Kebo.

“Berarti roh itu membawa harimau.”

“Dun,” tegur Paman Wira.

Madun langsung diam. Paman Wira meminta beberapa warga mengganti bagian dinding yang rusak sebelum malam. Sari dan neneknya untuk sementara dipindahkan ke rumah keluarga yang berada dekat lumbung. Rumah itu lebih dekat dengan pusat desa dan mudah diawasi. Ia juga memerintahkan semua anak masuk rumah sebelum matahari tenggelam. Tak ada yang boleh pergi ke sawah ataupun mendekati Hutan Wulung.

“Malam ini kita berjaga,” katanya. “Bagi kelompok menjadi tiga. Satu menjaga sisi utara, satu di dekat lumbung, dan satu lagi di jalan menuju sawah.”

Pandangannya berhenti pada Jabang dan Kebo.

“Kalian ikut kelompokku.”

Jabang menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”

“Kau melihat bayangan dan makhluk Harimau.”

“Justru karena sudah melihat, seharusnya aku diberi waktu untuk memulihkan pikiran.”

“Kau bisa memulihkannya sambil menjaga.”

Jabang hendak beralasan lagi, tetapi Paman Wira sudah berbalik mengatur warga.

Kebo menepuk bahunya. “Setidaknya malam ini kau tidak perlu memperbaiki lumbung.”

“Aku lebih memilih lumbung.”

“Kau tadi mengeluh saat memperbaikinya.”

“Itu sebelum aku diminta menjaga desa dari makhluk bercakar.”

Menjelang petang, Karangwuni berubah lebih sepi daripada biasanya. Pintu-pintu rumah ditutup lebih awal. Ternak dikumpulkan di kandang tengah, dekat rumah Paman Wira. Beberapa obor dipasang di persimpangan jalan, sementara tumpukan jerami yang mudah terbakar dijauhkan dari lumbung. Para perempuan menyiapkan air, kain, dan obat luka. Tidak ada yang tahu apakah serangan benar-benar akan terjadi. Semua orang tetap bergerak seperti sedang mempersiapkan diri menghadapi sesuatu yang tidak mereka pahami.

Jabang membantu mengangkat tempayan air ke dekat lumbung. Setiap selesai membawa satu tempayan, ia mengambil makanan dari dapur umum. Pada tempayan ketiga, Nyi Kembang memukul punggung tangannya dengan sendok kayu.

“Kalau kau terus makan, persediaan kita habis sebelum musuh datang.”

“Aku sedang mengumpulkan tenaga.”

“Tenagamu dipakai untuk apa?”

“Untuk makan lagi.”

Nyi Kembang mengangkat sendoknya. Jabang segera menjauh.

Kebo yang membawa dua ember air hanya menggeleng. “Kau masih bisa memikirkan makanan?”

“Kalau aku berhenti makan setiap kali ada masalah, tubuhku akan mengira dunia berakhir.”

“Dunia mungkin memang sedang bermasalah.”

“Itulah sebabnya aku harus makan selagi masih ada kesempatan.”

Jabang sempat beberapa kali melirik langit. Retakan hitam sudah tidak terlihat. Matahari tenggelam di belakang bukit seperti biasa, dan sesaat Karangwuni tampak sama seperti malam-malam lain. Seusai makan, Jabang duduk di belakang lumbung dan mengeluarkan daun hitam dari balik pakaian. Tepi daun itu sudah hancur, tetapi lingkaran tujuh garis masih terlihat. Salah satunya terputus menjadi celah kecil. Ucapan makhluk Harimau kembali teringat olehnya. Manusia mati. Belum.

“Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu.”

Jabang terkejut dan hampir menjatuhkan daun itu. Kebo berdiri di belakangnya.

“Kalau ingin mengagetkanku, setidaknya batuk dulu.”

“Kalau aku batuk, kau akan menyembunyikannya lagi.”

Lihat selengkapnya