Bab 5 — Serangan Pertama
Makhluk itu keluar dari retakan dengan kedua tangan lebih dahulu. Jari-jarinya panjang dan kurus, mencengkeram tanah seperti akar hitam. Kepalanya muncul setelah itu, diikuti tubuh yang tipis dan membungkuk. Tidak ada mata pada wajahnya. Hanya sebuah lubang panjang di tempat mulut seharusnya berada. Tubuhnya tidak benar-benar padat. Asap hitam bergerak di bawah kulitnya, keluar dari bahu dan punggung, lalu kembali menyatu dengan bayangan di tanah. Kebo mundur satu langkah.
“Itu yang kau lihat di sawah?”
“Yang di sawah lebih tinggi,” jawab Jabang.
“Berarti ini anaknya?”
“Kalau benar, jangan menunggu induknya turun.”
Makhluk itu membuka mulut. Suara melengking keluar dari dalam tubuhnya, membuat telinga Jabang berdenging. Dari retakan lain, tangan-tangan hitam mulai bermunculan. Paman Wira mengangkat tombak.
“Jangan biarkan mereka keluar!”
Para lelaki desa bergerak bersamaan. Tombak, bambu runcing, dan parang diarahkan kepada makhluk pertama. Ujung tombak Paman Wira menembus dadanya, tetapi tidak ada darah yang keluar. Tubuh makhluk itu pecah menjadi asap. Sesaat, Paman Wira mengira serangannya berhasil. Asap itu justru berputar mengelilingi tombak, lalu kembali membentuk tubuh di belakangnya.
“Paman!” teriak Jabang.
Paman Wira berbalik, tetapi cakar hitam sudah mengarah ke wajahnya. Jabang menghantam lengan makhluk itu menggunakan kayu. Serangannya membuat cakar itu berbelok dan hanya merobek bahu pakaian Paman Wira. Makhluk Bayang menoleh kepada Jabang. Lubang pada wajahnya melebar.
Jabang mengangkat kayu di depan dada. “Kalau mau marah, marahlah kepadanya. Aku cuma ikut campur.”
Makhluk itu menerjang. Jabang mengayunkan kayu sekuat tenaga. Kayu itu melewati tubuh lawannya seperti menghantam asap. Keseimbangannya hilang dan ia jatuh ke depan. Kebo menarik kakinya sebelum cakar makhluk itu mengenai punggungnya.
“Katamu mau bicara baik-baik!”
“Dia tidak suka diajak bicara!”
Makhluk Bayang bergerak kembali. Kebo menusukkan tombaknya, tetapi hasilnya sama. Ujung tombak menembus tubuh tanpa meninggalkan luka. Paman Wira mengambil obor dari salah seorang warga. Ia mengayunkannya ke arah makhluk itu. Api menyentuh asap hitam. Makhluk itu menjerit dan mundur.
“Api!” seru Paman Wira. “Gunakan api!”
Warga segera mengambil obor dari depan rumah. Beberapa orang melilitkan kain pada bambu, menyiramnya dengan minyak, lalu menyalakannya dengan bara dari dapur. Makhluk-makhluk Bayang yang hendak keluar kembali tersentak oleh cahaya dan bergerak ke bagian desa yang lebih gelap. Sementara itu, sosok tinggi di atas lumbung tetap berdiri di samping tombak hitam. Ia tidak ikut menyerang. Kedua tangannya terangkat seperti sedang menarik sesuatu dari bawah tanah. Retakan di sekeliling lumbung terus melebar.
“Jabang!” teriak Paman Wira. “Bawa anak-anak dan orang tua ke rumah batu!”
Rumah batu berada di bagian selatan desa. Bangunannya kecil, tetapi dindingnya lebih kuat daripada rumah-rumah lain. Biasanya tempat itu digunakan untuk menyimpan alat pertanian dan persediaan saat musim hujan. Jabang hendak membantah karena ingin tetap membantu, tetapi Paman Wira sudah kembali menghadapi makhluk Bayang.
Kebo menepuk lengannya. “Ayo!”
Mereka berlari menuju rumah warga. Pintu-pintu sudah terbuka. Para perempuan membawa anak-anak, sementara lelaki yang cukup kuat membantu penjagaan. Madun masih berdiri di dekat kentongan besar. Kentongan itu terus berbunyi sendiri.
Tok. Tok. Tok.
Madun memegangi talinya agar tidak bergerak, tetapi batang kayu besar itu justru bergoyang semakin keras.
“Berhenti!” teriaknya.
Kentongan itu tentu tidak mendengarkan.
“Kau sedang memarahi kayu?” tanya Jabang.
“Benda ini kerasukan!”
“Kalau begitu, lepaskan!”
Madun melepaskan tali. Kentongan berayun dan menghantam dahinya. Ia terjatuh sambil memegangi kepala. Kebo menariknya berdiri.
“Bantu bawa anak-anak!”
Mereka bergerak dari satu rumah ke rumah lain. Jabang menggendong seorang anak kecil, sedangkan tangannya yang lain menuntun seorang perempuan tua. Kebo membawa dua karung persediaan sambil menjaga tiga anak yang berjalan di depannya. Di tengah kekacauan, Jabang melirik Sari. Anak itu menunggu di ambang rumah tempat ia mengungsi. Neneknya sedang membantu seorang perempuan yang terjatuh. Bayangan kecil merayap dari bawah dinding, mendekati kaki Sari.
“Sari, lari!”
Anak itu menoleh. Bayangan itu mencengkeram pergelangan kakinya. Sari jatuh. Tubuhnya ditarik pelan menuju kolong rumah. Jabang menyerahkan anak yang digendongnya kepada Kebo, lalu berlari. Ia menangkap kedua tangan Sari sebelum tubuh anak itu masuk lebih jauh. Bayangan hitam keluar dari bawah rumah dan melilit kakinya. Jabang menarik sekuat tenaga.
“Sari, jangan lepaskan tanganku!”
“Ada yang memegang kakiku!”
“Aku tahu!”
“Lepaskan sandalnya!” teriak Kebo.
Sari menendang-nendang hingga sandalnya terlepas. Cengkeraman bayangan ikut tergelincir. Jabang menarik anak itu menjauh, kemudian berguling di atas tanah bersamanya. Bayangan itu menyeret sandal Sari ke bawah rumah. Lubang hitam pada tanah menutup sesaat kemudian. Jabang bangkit sambil menggendong Sari.
“Aku suka sandal itu,” kata anak itu dengan suara gemetar.
“Nanti Kebo membelikan yang baru.”
Kebo yang baru tiba langsung menoleh. “Kenapa aku?”