Jabang Guntur : Pagar Terakhir Manusia

A.A.Pusung
Chapter #7

Bab 6 — Cakar di Tengah Api

Bab 6 — Cakar di Tengah Api

Makhluk Harimau itu mendarat di tengah jalan dengan empat kaki. Tanah pecah di bawah cakarnya. Tubuhnya besar, ditutupi bulu hitam kecokelatan dengan garis-garis pucat di bagian punggung. Saat berdiri tegak pada dua kaki, tingginya melewati kepala orang dewasa. Tiga Harimau lain keluar dari kegelapan dan mengikuti pemimpinnya. Mereka mengenakan pelindung dada dari kulit serta tulang. Tak satu pun membawa senjata. Cakar di kedua tangan sudah lebih dari cukup. Warga yang sedang menyelamatkan karung padi langsung berpencar.

Salah satu Harimau menerkam lelaki yang berdiri paling dekat. Cakarnya menyambar punggung karung dan merobeknya. Padi tumpah ke tanah, sedangkan lelaki itu terjatuh sambil menutupi kepala. Makhluk itu mengangkat tangan untuk menyerang lagi. Paman Wira melempar tombaknya. Ujung tombak mengenai bahu Harimau, tetapi hanya menembus pelindung kulit. Makhluk itu berbalik dan menggeram.

“Menjauh darinya!” teriak Paman Wira.

Dua warga menarik lelaki yang terjatuh. Paman Wira mengambil obor dari tanah, lalu maju melindungi mereka. Jabang menoleh ke belakang. Lumbung terbakar. Di sekitar retakan, makhluk Bayang masih bergerak. Dari utara, pasukan Harimau mulai memasuki desa.

“Seharusnya tadi kita tetap memperbaiki atap,” katanya.

Kebo mengangkat tombak. “Atapnya sudah tidak ada.”

“Itu sebabnya aku menyesal.”

Harimau yang terkena lemparan tombak bergerak mendekati Paman Wira. Asap tipis keluar dari bahunya, tetapi luka itu tidak cukup untuk menghentikannya. Di sisi lain, dua makhluk Bayang keluar dari retakan dan menyerang Harimau yang baru tiba. Salah satu Bayang mengayunkan cakar hitam. Harimau itu menangkis, lalu menerkam tubuh lawannya. Cakarnya menembus asap tanpa menemukan daging. Makhluk Bayang muncul kembali di belakangnya dan melukai punggung Harimau itu. Raungan kemarahan mengguncang halaman.

Pasukan Harimau membalas. Rumah, pagar, dan persediaan desa hancur setiap kali kedua kelompok itu bertabrakan. Jabang melihat seorang perempuan berusaha mengambil anaknya yang bersembunyi di balik gerobak. Seekor Harimau dan makhluk Bayang sedang bertarung di jalan yang harus dilewatinya. Ia langsung berlari.

“Kebo, ikut aku!”

“Kita mau ke mana?”

“Mengambil anak itu.”

“Kita bahkan belum tahu cara menyelamatkan diri sendiri.”

“Itu bisa dipikirkan nanti.”

Jabang menyalakan ujung tali yang masih dibawanya. Telapak tangannya terasa perih karena luka bakar, tetapi ia tetap memutarnya hingga api membentuk lingkaran. Kebo berlari di belakang sambil membawa obor. Mereka mendekati gerobak dari samping. Harimau yang sedang bertarung menoleh, lalu menggeram kepada mereka.

“Jangan marah,” kata Jabang. “Kami cuma lewat.”

Makhluk itu menerjang. Jabang melempar tali berapi ke depan. Harimau itu berhenti sesaat untuk menghindari nyala api. Kebo memanfaatkan kesempatan itu untuk mendorong gerobak ke samping. Seorang anak laki-laki bersembunyi di bawahnya sambil menutup telinga. Kebo menariknya keluar.

“Bawa dia kepada ibunya!” teriak Jabang.

“Lalu kau?”

“Aku akan menyusul!”

Harimau tadi mengitari api. Jabang mundur sambil menjaga tali tetap berputar. Ia tahu api tidak menakuti makhluk itu seperti menakuti Bangsa Bayang. Nyala itu hanya membuatnya berhati-hati. Makhluk Bayang yang menjadi lawannya muncul dari belakang Jabang. Hawa dingin menyentuh tengkuknya. Ia menjatuhkan diri tepat ketika cakar hitam menyambar. Serangan itu melewati kepalanya dan mengenai dada Harimau. Harimau itu meraung, kemudian menghantam tubuh Bayang sampai pecah menjadi asap. Jabang merangkak menjauh.

“Kalian lanjutkan saja,” katanya. “Anggap aku tidak ada.”

Makhluk Harimau memandangnya. Darah hitam menetes dari luka di dadanya. Jabang sempat mengira makhluk itu akan memburunya. Asap Bayang kembali berkumpul di belakang. Harimau itu berbalik dan menerkam lawannya lagi. Jabang menggunakan kesempatan itu untuk berlari menuju Kebo. Anak yang diselamatkan sudah berada dalam pelukan ibunya.

“Semua warga harus keluar dari bagian tengah desa,” kata Paman Wira saat mereka kembali. “Bawa mereka ke rumah batu. Jangan biarkan siapa pun mendekati lumbung.”

“Bagaimana dengan kalian?” tanya Kebo.

“Kami menahan mereka.”

Paman Wira mengangkat parang yang diambilnya dari tanah. Darah mengalir dari luka di bahunya. Meski begitu, ia tetap berdiri di antara warga dan para penyerang. Jabang menatap luka itu.

“Paman juga harus pergi.”

“Belum.”

“Kalau Paman mati, siapa yang akan menyuruhku bekerja?”

“Karena itu, jangan biarkan aku mati.”

Paman Wira mendorong bahunya. “Pergi.”

Jabang dan Kebo berlari menuju sisi selatan desa. Mereka mengetuk pintu setiap rumah yang dilewati, memastikan tidak ada warga yang tertinggal. Di salah satu rumah, Nyi Kembang sedang mengobati seorang lelaki yang terluka. Cakaran panjang membelah lengannya.

“Kita harus membawanya ke rumah batu,” kata Jabang.

“Dia tidak bisa berjalan,” jawab Nyi Kembang.

Jabang dan Kebo saling melirik. Mereka mengangkat lelaki itu, masing-masing menopang satu sisi tubuhnya. Nyi Kembang berjalan di belakang sambil membawa kotak obat. Baru beberapa langkah, bayangan rumah di sebelah mereka bergerak. Sebuah tangan hitam keluar dari dinding. Kebo menunduk, membuat cakar itu lewat di atas kepalanya. Jabang menendang pintu rumah sampai terbuka. Cahaya api dari dalam menyentuh tangan Bayang dan memaksanya kembali ke dinding.

“Masuk!” teriak Jabang.

Mereka membawa lelaki terluka melewati rumah itu dan keluar melalui pintu belakang. Jalan menuju rumah batu terhalang oleh kandang yang roboh. Ternak berlarian tanpa arah. Beberapa kambing masuk ke kebun, sedangkan seekor kerbau menarik tiang kandangnya dan menyeretnya sepanjang jalan.

Kebo menunjuk hewan itu. “Kita bisa memakai kerbaunya.”

“Untuk apa?”

“Menarik gerobak.”

Lihat selengkapnya