Bab 7
Anak Kecil yang Diseret Kabut
“Sari!”
Jabang berlari menuju sisi timur desa dengan obor di tangan. Cahaya api memperlihatkan jejak kaki kecil di antara abu dan tanah basah. Di sampingnya, kabut hitam bergerak tipis seperti ular yang sedang mencari jalan menuju sawah. Jeritan Sari terdengar lagi.
“Kak Jabang!”
Suara itu berasal dari balik rumah-rumah yang belum terbakar. Jabang mempercepat langkah. Punggungnya masih sakit setelah dilempar makhluk Harimau, sedangkan telapak tangan kanannya terasa perih setiap kali menggenggam obor. Ia tetap berlari.
Paman Wira menyusul lalu menangkap bahunya.
“Jangan pergi sendiri.”
“Sari dibawa ke sawah.”
“Kita belum tahu berapa banyak Bayang di sana.”
“Kalau nunggu terus, dia keburu jauh.”
Paman Wira memperhatikan kabut yang bergerak keluar desa. Wajahnya mengeras, tetapi tangannya masih menahan Jabang.
“Kita harus menghancurkan tombak Sangkara. Kalau tidak, lebih banyak makhluk akan keluar.”
“Aku nggak mau diam.”
“Kalau begitu, lepaskan.”
Jabang menatap pamannya. Tidak ada candaan dalam suaranya. Paman Wira akhirnya melepaskan pegangan.
“Jangan sendiri. Bawa Kebo.”
“Aku ikut,” kata Kebo.
Ia berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Lengan kirinya sudah dibalut kain, tetapi darah masih merembes pada bagian bawahnya.
Jabang menggeleng. “Tanganmu masih berdarah.”
“Lukanya di tangan, bukan di kaki.”
“Kalau nanti ketemu Harimau?”
“Aku akan berlari lebih cepat darimu.”
“Itu sih gampang.”
Kebo mengambil tombak pendek dari tanah. Paman Wira ingin melarangnya, tetapi suara runtuhan dari arah lumbung memaksanya menoleh. Retakan di bawah bangunan terus melebar. Bayangan-bayangan mulai keluar lagi dari dalam tanah.
Paman Wira memanggil dua penjaga dengan isyarat tangan. Sebelum mereka sempat mendekat, jeritan Sari terdengar lagi—lebih jauh.
Jabang langsung berlari. Kebo menyusul di belakangnya.
Mereka melewati rumah Bu Ratri, kandang yang roboh, dan pagar bambu yang sudah menjadi arang. Jejak Sari mengarah ke jalan kecil menuju persawahan. Beberapa jejaknya tidak utuh, seolah Sari diseret sambil berusaha melawan.
Di dekat parit, Jabang menemukan sandal Sari. Hanya sebelah. Ia mengambilnya tanpa berhenti terlalu lama.
“Sandalnya sampai sini,” katanya.
Kebo mengangkat tombak. “Aku tahu.”
Mereka menuruni jalan tanah. Api dari desa masih terlihat di belakang, menerangi langit Karangwuni dengan warna merah. Semakin jauh mereka berjalan, semakin tipis cahaya itu. Malam di depan terasa makin gelap.
Jabang mengangkat obor lebih tinggi.
“Sari!”
Tidak terdengar jawaban. Hanya suara padi yang bergesekan meski angin tidak bergerak.
Kebo mendekat.
“Jejaknya hilang.”
Jabang mencermati tanah. Bekas kaki Sari berhenti di ujung pematang. Kabut hitam yang tadi mereka ikuti juga menghilang.
Di sebelah kanan terbentang persawahan. Di sebelah kiri terdapat kebun singkong yang mengarah ke kaki bukit.
“Kita berpencar,” kata Kebo.
“Jangan.”
“Kalau kita terus bareng, jejaknya bisa hilang.”
“Kalau berpencar, Bayang tinggal ambil salah satu.”
Kebo memeriksa luka di tangannya.
“Berarti kau.”
“Maksudku kau.”
Suara tangisan terdengar dari tengah sawah.
Jabang menoleh.
Seorang anak perempuan berlari di antara padi. Rambutnya terurai dan pakaiannya mirip dengan yang dikenakan Sari.
“Itu dia!”
Kebo hendak bergerak, tetapi Jabang menahan dadanya.
Anak itu berlari tanpa benar-benar menyentuh tanah. Kakinya hanya beberapa jengkal di atas lumpur, dan tubuhnya tidak memiliki bayangan meski terkena cahaya obor.
“Itu bukan Sari,” bisik Jabang.
Sosok anak itu berhenti. Kepalanya menoleh pelan. Wajahnya tertutup rambut, tetapi suara tangisnya berubah menjadi tawa kecil.
Dari sisi lain sawah, muncul anak kedua.
Lalu anak ketiga.
Ketiganya mengenakan pakaian yang sama. Mereka berdiri mengelilingi Jabang dan Kebo dari kejauhan.
“Mana yang asli?” tanya Kebo.
“Nggak tahu. Jangan dekat-dekat.”
Salah satu anak mengangkat tangan dan menunjuk ke arah hutan.
“Kak Jabang,” panggilnya dengan suara Sari.
Anak lain ikut memanggil.
“Kak Jabang.”
Suara mereka terdengar bersamaan dari arah berbeda.
Kebo memegang tombak dengan satu tangan.
“Kau punya rencana?”
“Ada.”
“Apa?”
“Jangan dengar.”
“Itu bukan rencana.”
“Ya. Sekarang cuma itu.”
Jabang memejamkan mata. Ia berusaha mengabaikan suara-suara itu dan mendengarkan hal lain.
Di antara panggilan palsu itu, terdengar suara kecil yang berbeda: seseorang terisak sambil menahan napas dari arah kebun singkong.