Jabang Guntur : Pagar Terakhir Manusia

A.A.Pusung
Chapter #8

Bab 7 — Anak Kecil yang Diseret Kabut

Bab 7 — Anak Kecil yang Diseret Kabut

“Sari!”

Jabang berlari menuju sisi timur desa dengan obor di tangan. Cahaya api memperlihatkan jejak kaki kecil di antara abu dan tanah basah. Di sampingnya, kabut hitam bergerak tipis seperti ular yang sedang mencari jalan menuju sawah. Jeritan Sari terdengar lagi.

“Kak Jabang!”

Suara itu berasal dari balik rumah-rumah yang belum terbakar. Jabang mempercepat langkah. Punggungnya masih sakit setelah dilempar makhluk Harimau, sedangkan telapak tangan kanannya terasa perih setiap kali menggenggam obor. Ia tetap berlari. Paman Wira menyusul dan menangkap bahunya.

“Jangan pergi sendirian.”

“Sari dibawa ke sawah.”

“Kita belum tahu berapa banyak Bayang di sana.”

“Kalau menunggu, kita hanya akan menemukan jejaknya.”

Paman Wira memperhatikan kabut yang bergerak keluar desa. Wajahnya mengeras, tetapi tangannya masih menahan Jabang.

“Kita harus menghancurkan tombak Sangkara. Kalau tidak, lebih banyak makhluk akan keluar.”

“Kalau kita membiarkan Sari, dia akan dibawa masuk ke retakan.”

“Aku tidak bilang kita membiarkannya.”

“Kalau begitu, lepaskan.”

Jabang menatap pamannya. Tidak ada candaan dalam suaranya. Paman Wira akhirnya melepaskan pegangan.

“Bawa dua orang bersamamu.”

“Aku ikut,” kata Kebo.

Ia berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Lengan kirinya sudah dibalut kain, tetapi darah masih merembes pada bagian bawahnya.

Jabang menggeleng. “Kau terluka.”

“Lukanya di tangan, bukan di kaki.”

“Kalau kita bertemu Harimau lagi?”

“Aku akan berlari lebih cepat darimu.”

“Itu tidak sulit.”

Kebo mengambil tombak pendek dari tanah. Paman Wira ingin melarangnya, tetapi suara runtuhan dari arah lumbung memaksanya menoleh. Retakan di bawah bangunan terus melebar. Bayangan-bayangan mulai keluar lagi dari dalam tanah. Paman Wira memanggil dua penjaga. Sebelum keduanya mendekat, jeritan Sari terdengar lagi—lebih jauh. Jabang langsung berlari. Kebo menyusul di belakangnya.

Mereka melewati rumah Bu Ratri, kandang yang roboh, dan pagar bambu yang sudah menjadi arang. Jejak Sari mengarah ke jalan kecil menuju persawahan. Beberapa bekas kakinya tidak sempurna, seakan anak itu diseret sambil berusaha melawan. Di dekat parit, Jabang menemukan sandal Sari. Hanya sebelah. Ia mengambilnya tanpa berhenti terlalu lama.

“Dia lewat sini,” katanya.

Kebo mengangkat tombak. “Aku tahu.”

Mereka menuruni jalan tanah. Api dari desa masih terlihat di belakang, menerangi langit Karangwuni dengan warna merah. Semakin jauh mereka berjalan, semakin tipis cahaya itu. Malam di depan terasa jauh lebih gelap. Jabang mengangkat obor lebih tinggi.

“Sari!”

Tidak terdengar jawaban. Hanya suara padi yang bergesekan meski angin tidak bergerak.

Kebo mendekat. “Jejaknya hilang.”

Jabang mencermati tanah. Bekas kaki Sari berhenti di ujung pematang. Kabut hitam yang tadi mereka ikuti juga menghilang. Di sebelah kanan terbentang persawahan. Di sebelah kiri terdapat kebun singkong yang mengarah ke kaki bukit.

“Kita berpencar,” kata Kebo.

“Tidak.”

“Kalau tetap bersama, kita bisa kehilangan jejaknya.”

“Kalau berpencar, Bayang tinggal memilih siapa yang lebih mudah dimakan.”

Kebo memeriksa luka di tangannya. “Berarti kau.”

“Maksudku kau.”

Suara tangisan terdengar dari tengah sawah. Jabang menoleh. Seorang anak perempuan berlari di antara padi. Rambutnya terurai dan pakaiannya mirip dengan yang dikenakan Sari.

“Itu dia!”

Kebo hendak bergerak, tetapi Jabang menahan dadanya. Anak itu berlari tanpa benar-benar menjejak tanah. Kakinya hanya beberapa jengkal di atas lumpur, dan tubuhnya tidak memiliki bayangan meski terkena cahaya obor.

“Itu bukan Sari,” bisik Jabang.

Sosok anak itu berhenti. Kepalanya menoleh pelan. Wajahnya tertutup rambut, tetapi suara tangisnya berubah menjadi tawa kecil. Dari sisi lain sawah, muncul anak kedua. Lalu anak ketiga. Ketiganya mengenakan pakaian yang sama. Mereka berdiri mengelilingi Jabang dan Kebo dari kejauhan.

“Mana yang asli?” tanya Kebo.

“Mungkin tidak ada.”

Salah satu anak mengangkat tangan dan menunjuk ke arah hutan.

Lihat selengkapnya