Bab 8 — Kematian Jabang
Tombak hitam itu menembus dada Jabang. Tubuhnya terdorong ke belakang, lalu bertabrakan dengan Kebo. Mereka jatuh bersama di atas pematang. Sari terlempar ke samping, tetapi tidak terkena ujung senjata. Sejenak, Jabang tidak merasakan apa-apa. Ia hanya mendengar suara guntur yang bergulung di atas Karangwuni. Langit tetap bersih tanpa awan. Retakan hitam terlihat di antara bintang, memanjang seperti luka yang baru saja dibuka.
Kemudian rasa sakit datang.
Panas menyebar dari dadanya, diikuti hawa dingin yang menjalar sampai ujung jari. Jabang mencoba menarik napas, tetapi tubuhnya seperti menolak udara yang masuk. Kebo berada di bawahnya. Sahabatnya menatap ujung tombak yang menembus tubuh Jabang dengan mata membesar.
“Jabang?”
Jabang mendongak. Sangkara berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Panglima Bayang itu masih memegang bagian belakang tombak. Penutup wajahnya menghadap Jabang. Jabang memegang batang tombak dengan kedua tangan. Telapak kanannya yang terluka kembali berdarah. Ia berusaha mendorong tubuhnya menjauh, tetapi tombak itu tertanam terlalu dalam.
“Sari,” katanya.
Suaranya hampir tidak terdengar. Kebo segera menyadari maksudnya. Ia merangkak keluar dari bawah tubuh Jabang, kemudian menarik Sari ke belakang. Anak itu menolak.
“Kak Jabang!”
“Bawa dia pergi,” kata Jabang.
Kebo menggeleng keras. “Kita bawa kau bersama.”
“Jangan bodoh.”
“Kau yang bodoh!”
Sangkara menarik tombaknya. Rasa sakit tajam merobek dada Jabang. Tubuhnya terangkat sedikit sebelum senjata itu terlepas. Darah mengalir deras dari luka dan membasahi pakaiannya. Jabang jatuh bertumpu pada kedua lutut. Sangkara mengangkat tombak untuk serangan berikutnya. Kebo menghadang di antara Sangkara, Jabang, dan Sari. Ia hanya memiliki tombak pendek yang patah pada ujungnya. Lengan kirinya terluka, dadanya masih sakit akibat pukulan Sangkara, tetapi ia tetap mengangkat senjata itu.
“Kalau mau mengambil mereka, lewati aku.”
Sangkara memiringkan kepala.
“Manusia yang tidak memiliki kekuatan selalu menyukai kematian sia-sia.”
Kebo menggenggam senjatanya lebih kuat. “Setidaknya kami bisa memilihnya.”
Kabut hitam bergerak di sekitar kaki Sangkara. Sosok-sosok kecil mulai muncul di antara tanaman padi. Jabang menekan luka di dadanya. Setiap kali jantungnya berdetak, darah keluar melalui sela-sela jarinya. Ia tahu tidak bisa bertahan lama. Kebo dan Sari masih terlalu dekat.
Jabang meraih sepotong kayu dari pematang, lalu memaksakan diri berdiri. Kedua kakinya gemetar. Pandangannya sempat gelap, tetapi ia tetap berjalan melewati Kebo.
“Jabang, mundur,” kata Kebo.
“Aku belum selesai.”
“Kau bahkan hampir tidak bisa berdiri.”
“Berarti dia akan malu kalau kalah.”
Jabang tersenyum tipis. Darah mengalir dari sudut bibirnya.
Kebo memegang lengannya. “Jangan.”
Jabang menoleh kepada sahabatnya. Malam itu, ketakutan terlihat jelas di wajah Kebo. Tidak ada lagi kemarahan atau candaan yang bisa menutupinya. Jabang ingin mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Namun, kali ini ia tidak sanggup mengatakannya.
“Bawa Sari pulang,” katanya.
“Aku tidak meninggalkanmu.”
“Kalau kau tetap di sini, siapa yang akan membelikan sandalnya?”
Sari menangis sambil menggenggam sandal sebelah yang tadi ditemukan Jabang.
“Kak Jabang ikut pulang.”
Jabang melirik anak itu. “Tentu.”
“Kakak bohong.”
Jabang terdiam sesaat. Ia kemudian mengambil sandal dari tangan Sari dan menyelipkannya ke sabuk Kebo.
“Kalau begitu, marahi aku nanti.”
Sangkara bergerak maju. Jabang mendorong Kebo dan Sari ke belakang.
“Pergi!”
Kebo masih ingin bertahan. Beberapa makhluk Bayang mulai merayap dari sawah. Kebo akhirnya menggendong Sari dengan satu tangan. Anak itu meronta dan terus memanggil nama Jabang. Kebo berlari menuju desa sambil beberapa kali menoleh.
Jabang berdiri sendirian di atas pematang.
Sangkara tidak langsung mengejar mereka. Perhatiannya tertuju pada darah Jabang yang jatuh ke tanah. Setiap tetes yang menyentuh pematang mengeluarkan asap tipis.
“Alam Antara sudah menyentuhmu sebelum malam ini,” kata Sangkara.
Jabang menopang tubuhnya dengan kayu. “Banyak sekali yang mengatakan begitu. Sayangnya, tidak ada yang mau menjelaskan.”
“Namamu pernah dipanggil dari seberang.”
“Kalau begitu, mereka salah orang.”
Sangkara mengangkat tombak.
“Setelah tubuhmu mati, aku akan mencari jawabannya di dalam jiwamu.”
Jabang mengembuskan napas pendek. Rasa sakit membuat dadanya seolah terbakar dari dalam.
“Kalau ingin masuk ke kepalaku, kau akan kecewa. Isinya cuma makanan.”
Sangkara menyerang. Jabang memiringkan tubuh. Ujung tombak melewati bahunya dan merobek pakaian. Ia menghantam batang senjata menggunakan kayu, lalu menendang kaki Sangkara. Tendangannya tidak cukup kuat untuk menjatuhkan panglima itu. Setidaknya Sangkara sempat mundur setengah langkah. Jabang tersenyum.
“Masih bisa.”
Sangkara menghantamkan gagang tombak ke perutnya. Jabang terlempar dari pematang dan jatuh ke lumpur sawah. Darah dari dadanya bercampur air. Ia mencoba bangkit, tetapi tangan kirinya terpeleset. Bayangan di dalam air bergerak mendekatinya. Puluhan tangan hitam muncul dari lumpur dan mencengkeram kedua kakinya. Jabang menusukkan kayu ke salah satu tangan. Tidak ada hasil. Tubuhnya mulai ditarik lebih dalam.
Dari kejauhan, cahaya obor bergerak menuju sawah. Paman Wira dan beberapa warga datang.
“Jabang!”
Paman Wira berlari paling depan. Bahunya masih terluka, tetapi ia membawa obor di satu tangan dan parang di tangan lain. Nyi Kembang, Madun, serta tiga penjaga mengikuti di belakang. Sangkara menoleh kepada mereka.