Jabang Guntur : Pagar Terakhir Manusia

A.A.Pusung
Chapter #9

Bab 8 — Kematian Jabang

Bab 8

Kematian Jabang

Tombak hitam itu menembus dada Jabang.

Tubuhnya terdorong ke belakang dan menabrak Kebo. Mereka jatuh bersama di atas pematang. Sari terlempar ke samping, tetapi tidak terkena ujung senjata.

Sesaat, Jabang tidak merasakan sakit apa pun.

Ia hanya mendengar suara guntur yang bergulung di atas Karangwuni. Langit tetap bersih tanpa awan. Retakan hitam terlihat di antara bintang, memanjang seperti luka yang baru saja dibuka.

Kemudian rasa sakit datang.

Panas menyebar dari dadanya, diikuti hawa dingin yang menjalar sampai ujung jari. Jabang mencoba menarik napas, tetapi tubuhnya seperti menolak udara yang masuk.

Kebo berada di bawah tubuhnya. Sahabatnya menatap ujung tombak yang menembus tubuh Jabang dengan mata membesar.

“Jabang?”

Jabang mendongak.

Sangkara berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Panglima Bayang itu masih memegang bagian belakang tombak. Penutup wajahnya menghadap Jabang.

Jabang memegang batang tombak dengan kedua tangan. Telapak kanannya yang terluka kembali berdarah. Ia berusaha mendorong tubuhnya menjauh, tetapi tombak itu tertanam terlalu dalam.

“Sari,” katanya.

Suaranya hampir tidak terdengar.

Kebo langsung mengerti. Ia merangkak keluar dari bawah tubuh Jabang lalu menarik Sari ke belakang.

Anak itu menolak.

“Kak Jabang!”

“Bawa Sari pergi.”

Kebo menggeleng keras.

“Kita pulang bareng.”

“Jangan bodoh.”

“Kau juga bodoh!”

Sangkara menarik tombaknya.

Rasa sakit tajam merobek dada Jabang. Tubuhnya terangkat sedikit sebelum senjata itu terlepas. Darah mengalir dari luka dan membasahi pakaiannya.

Jabang jatuh bertumpu pada kedua lutut.

Sangkara mengangkat tombak untuk serangan berikutnya.

Kebo menghadang di antara Sangkara, Jabang, dan Sari. Tombak pendek di tangannya juga sudah patah di ujung. Lengan kirinya terluka, dadanya masih sakit akibat pukulan Sangkara, tetapi ia tetap mengangkat senjata itu.

“Mau mereka? Lewat aku dulu.”

Sangkara memiringkan kepala.

“Manusia yang tidak memiliki kekuatan selalu menyukai kematian sia-sia.”

Kebo menggenggam tombak itu lebih erat.

“Ya sudah. Setidaknya kami bisa milih.”

Kabut hitam bergerak di sekitar kaki Sangkara. Sosok-sosok kecil mulai muncul di antara tanaman padi.

Jabang menekan luka di dadanya. Setiap jantungnya berdetak, darah merembes di sela-sela jarinya.

Ia tahu waktunya tidak banyak.

Kebo dan Sari masih terlalu dekat.

Jabang meraih sepotong kayu dari pematang, lalu memaksakan diri berdiri. Kedua kakinya gemetar. Pandangannya sempat gelap, tetapi ia tetap berjalan melewati Kebo.

“Jabang, mundur,” kata Kebo.

“Belum.”

“Kau bahkan hampir tidak bisa berdiri.”

“Masa dia kalah sama orang kayak aku?”

Jabang tersenyum tipis. Darah mengalir dari sudut bibirnya.

Kebo memegang lengannya.

“Jangan.”

Jabang menoleh kepada sahabatnya.

Malam itu, wajah Kebo benar-benar ketakutan. Tidak ada lagi candaan yang bisa menutupi rasa takut itu.

Jabang ingin bilang semuanya akan baik-baik saja.

Kali ini ia tidak sanggup mengatakannya.

“Bawa Sari pulang,” katanya.

“Aku tidak meninggalkanmu.”

“Kalau kau tetap di sini, siapa yang beliin sandalnya?”

Sari menangis sambil menggenggam sandal sebelah yang tadi ditemukan Jabang.

“Kak Jabang ikut pulang.”

Jabang melirik anak itu.

“Tentu.”

“Kakak bohong.”

Jabang terdiam sesaat.

Ia kemudian mengambil sandal dari tangan Sari dan menyelipkannya ke sabuk Kebo.

“Kalau begitu, marahi aku nanti.”

Sangkara bergerak maju.

Jabang mendorong Kebo dan Sari ke belakang.

“Pergi!”

Kebo masih ingin bertahan. Beberapa makhluk Bayang mulai merayap dari sawah.

Akhirnya Kebo menggendong Sari dengan satu tangan. Anak itu meronta dan terus memanggil nama Jabang.

Kebo berlari menuju desa sambil beberapa kali menoleh.

Jabang berdiri sendirian di atas pematang.

Sangkara tidak langsung mengejar mereka.

Perhatiannya tertuju pada darah Jabang yang jatuh ke tanah. Setiap tetes yang menyentuh pematang mengeluarkan asap tipis.

“Alam Antara sudah menyentuhmu sebelum malam ini,” kata Sangkara.

Jabang menopang tubuhnya dengan kayu.

“Dari tadi semua ngomong soal itu. Nggak ada yang jelasin.”

“Namamu pernah dipanggil dari seberang.”

“Kalau begitu, mereka salah orang.”

Sangkara mengangkat tombak.

“Setelah tubuhmu mati, aku akan mencari jawabannya di dalam jiwamu.”

Jabang mengembuskan napas pendek. Rasa sakit membuat dadanya seolah terbakar dari dalam.

“Kalau masuk ke kepalaku, paling isinya makanan.”

Sangkara menyerang.

Jabang memiringkan tubuh. Ujung tombak melewati bahunya dan merobek pakaian.

Ia menghantam batang senjata menggunakan kayu, lalu menendang kaki Sangkara.

Tendangannya tidak cukup kuat untuk menjatuhkan panglima itu. Sangkara setidaknya mundur setengah langkah.

Jabang tersenyum.

“Masih bisa.”

Sangkara menghantamkan gagang tombak ke perutnya.

Jabang terlempar dari pematang dan jatuh ke lumpur sawah. Darah dari dadanya bercampur air.

Ia mencoba bangkit, tetapi tangan kirinya terpeleset.

Bayangan di dalam air bergerak mendekatinya.

Puluhan tangan hitam muncul dari lumpur dan mencengkeram kedua kakinya.

Jabang menusukkan kayu ke salah satu tangan.

Tidak ada hasil.

Tubuhnya mulai ditarik lebih dalam.

Dari kejauhan, cahaya obor bergerak menuju sawah.

Lihat selengkapnya