Jabang Guntur : Pagar Terakhir Manusia

A.A.Pusung
Chapter #10

Bab 9 — Alam Antara

Bab 9

Alam Antara

Jabang berdiri mematung di atas tanah putih. Kalimat dari sosok di hadapannya masih terngiang di kepalanya: orang hidup tidak seharusnya berada di tempat ini.

Masalahnya, Jabang bukan lagi orang hidup.

Jabang menyentuh dada yang ditembus tombak. Pakaiannya masih utuh, tanpa luka atau darah. Rasa sakit yang tadi merobek tubuhnya juga sudah hilang. Ia menekan dadanya lebih keras, tetapi tetap tidak menemukan detak jantung. Tangannya kemudian berpindah ke leher, mencari denyut seperti yang biasa dilakukan Nyi Kembang saat memeriksa orang sakit.

Tetap tidak ada apa-apa.

“Ini pasti mimpi,” gumamnya.

Sosok di kejauhan masih mengangkat tangan.

“Orang mati juga sering mengatakan begitu.”

Jabang memandangnya.

“Kalau ini mimpi, berarti kau ikut nongol di mimpiku.”

“Mimpi apaan begini?”

“Nah, itu dia.”

Sosok itu menurunkan tangan, lalu mengikuti rombongan lain. Tubuhnya perlahan menyatu dengan kabut.

“Tunggu!” teriak Jabang. “Ini tempat apa?”

Sosok itu tidak berhenti. Jabang berlari mengejarnya. Tanah di bawah kakinya terasa padat, tetapi setiap langkahnya tidak menimbulkan suara. Ia tidak tahu apakah dirinya benar-benar bergerak atau justru tanah putih itu yang bergeser.

Rombongan di depan semakin jauh.

“Kalau nggak mau ngomong, jalan pulangnya mana?”

Sosok terakhir dalam rombongan menoleh. Jabang dapat melihat wajahnya: seorang lelaki tua dengan luka di bagian kepala. Matanya tampak lelah, tetapi tidak menakutkan.

“Orang mati nggak punya jalan pulang.”

Setelah mengatakannya, tubuh lelaki itu berubah menjadi kabut. Semua sosok di hadapan Jabang menghilang. Ia kembali sendirian.

“Bagus. Sepi, nggak ada makanan, orang-orangnya juga susah diajak ngomong.”

Jabang berbalik, berharap menemukan sesuatu yang berbeda di belakangnya. Pemandangan tetap sama. Tanah putih terbentang tanpa pohon, rumah, bukit, ataupun langit. Ia berjalan tanpa mengetahui arah. Beberapa kali Jabang memanggil nama Kebo, Paman Wira, dan Sari. Tidak ada satu pun jawaban. Semakin lama ia berjalan, semakin sulit baginya mengingat dari mana ia datang. Tidak ada matahari atau bayangan yang dapat dijadikan petunjuk.

Jabang akhirnya berhenti.

“Kalau memang aku mati, setidaknya beri tempat duduk.”

Tanah di belakangnya bergerak. Sebuah batu muncul perlahan dari permukaan putih. Jabang menatapnya dengan curiga. Ia menyentuh batu itu, lalu segera menarik tangannya. Tidak terjadi apa-apa.

“Jangan-jangan tempat ini bisa dengar semua yang kukatakan.”

Kabut bergerak di sampingnya. Sebuah tikar usang muncul di atas tanah. Jabang mengamati tikar itu, kemudian melihat lagi batu.

“Kalau bisa, makanan sekalian.”

Tidak ada makanan yang muncul.

“Berarti tempat ini cuma suka ngasih barang aneh.”

Ia memilih duduk di atas batu. Tubuhnya memang tidak lagi merasakan sakit, tetapi pikirannya dipenuhi kejadian terakhir. Tombak Sangkara. Sari yang berada di belakangnya. Kebo yang menolak pergi. Paman Wira yang memintanya membuka mata.

Jabang menundukkan kepala. Ia bahkan belum sempat memastikan mereka selamat. Ia juga tidak tahu apa yang terjadi di Karangwuni setelah retakan tertutup. Pasukan Sangkara mungkin sudah pergi, tetapi beberapa rumah terbakar dan lumbung runtuh. Warga kehilangan persediaan. Kebo terluka.

Jabang mengepalkan tangan.

“Aku tidak bisa mati sekarang.”

Suara guntur terdengar dari kejauhan. Tanah putih bergetar pelan.

Jabang berdiri.

“Kalau itu jawabannya, aku nggak ngerti.”

Guntur terdengar lagi, lebih dekat. Kabut di depannya terbelah. Di baliknya muncul genangan air yang sangat luas, tetapi dangkal. Permukaannya bening seperti kaca. Jabang mendekat. Ketika berdiri di tepi genangan, ia tidak melihat pantulan dirinya. Permukaan air justru memperlihatkan Desa Karangwuni.

Warga berkumpul di sekitar lumbung yang sudah menjadi arang. Beberapa rumah masih mengeluarkan asap. Orang-orang yang terluka dibaringkan di dekat rumah batu, sedangkan Nyi Kembang berpindah dari satu korban ke korban lain.

Di tengah halaman, tubuh Jabang terbujur di atas tikar. Kain bersih menutupi dadanya. Kedua tangannya diletakkan di atas perut. Wajahnya sudah dibersihkan dari lumpur dan darah.

Jabang berlutut di tepi air.

“Itu aku.”

Ia menyentuh permukaan air. Gambar itu bergetar, tetapi tidak menghilang. Paman Wira duduk di samping tubuh Jabang. Lelaki itu tidak menangis. Ia hanya memperhatikan wajah keponakannya sambil memegang tombak pendek yang patah.

Nyi Kembang mendekat dan mengatakan sesuatu. Jabang tidak bisa mendengar semua perkataannya, tetapi ia melihat Paman Wira mengangguk pelan. Beberapa warga kemudian mengangkat tubuh Jabang.

“Mau dibawa ke mana?”

Gambar pada air mengikuti mereka. Tubuhnya dibawa menuju rumah Paman Wira. Di sepanjang jalan, warga menundukkan kepala. Seseorang membunyikan kentongan dengan irama lambat, berbeda dari tanda bahaya. Madun yang memukul kentongan itu. Lelaki itu tidak berbicara dan tidak menambahkan cerita apa pun.

“Jangan bawa aku pulang seperti itu,” kata Jabang.

Tentu saja tidak ada yang mendengarnya.

Kebo berjalan di sebelah tubuhnya. Lengan kirinya masih terbalut kain. Wajahnya penuh abu dan darah kering. Ia tidak ikut mengangkat tubuh Jabang, tetapi tidak pernah menjauh. Sari berjalan sambil memegang tangan neneknya. Anak itu hanya mengenakan satu sandal.

Jabang menepuk-nepuk permukaan air.

“Aku masih di sini!”

Permukaan air bergetar.

“Kebo!”

Sahabatnya tidak menoleh. Jabang memasukkan kedua tangan ke air, berusaha meraih Kebo dalam gambaran itu. Tangannya hanya menyentuh permukaan dingin.

“Aku belum selesai!”

Lihat selengkapnya