Bab 10
Sang Penunggu Guntur
Cahaya putih itu lenyap secepat kemunculannya. Jabang kembali berdiri di antara kuburan tanpa nama. Bayangan tembok raksasa dan makhluk yang tadi berusaha keluar dari retakannya sudah lenyap. Lelaki tua di hadapannya masih memegang tongkat hitam. Cahaya biru bergerak di sepanjang ukiran tongkat itu, lalu padam. Jabang menoleh ke sekeliling.
“Tadi itu apa?”
“Pagar Jagat.”
“Pagar itu mengelilingi dunia?”
“Tidak seluruh dunia. Hanya wilayah yang ingin dipisahkan oleh para leluhur.”
“Dipisahkan dari apa?”
Lelaki tua itu menatap Jabang.
“Banyak sekali pertanyaanmu.”
“Aku baru mati. Ya jelas banyak tanya.”
“Kematian tidak membuatmu lebih istimewa daripada roh lain.”
“Lalu kenapa kau menungguku selama ratusan tahun?”
Lelaki tua itu tidak langsung menjawab. Ia berjalan melewati Jabang menuju salah satu makam. Batu nisannya sudah retak. Nisan itu tidak memiliki nama. Dengan ujung tongkat, lelaki itu menyentuh tanah di depan makam. Kabut putih keluar dari sela-sela tanah. Di dalam kabut muncul gambaran Karangwuni.
Desa itu terlihat dari atas. Api di beberapa rumah sudah padam, tetapi asap masih memenuhi udara. Warga membawa orang-orang yang terluka menuju rumah batu. Di tengah semua itu, tubuh Jabang terbujur di rumah Paman Wira.
“Desaku,” kata Jabang.
“Tubuhmu.”
Jabang mendekati gambaran itu.
“Kembalikan aku.”
“Tubuh itu sudah mati.”
“Kau tadi mengatakan sudah menungguku.”
“Aku menunggu jiwamu, bukan tubuhmu.”
“Untuk apa?”
Lelaki tua itu mengetukkan tongkat ke tanah. Gambaran Karangwuni pecah, lalu berubah kembali menjadi kabut.
“Kalau begitu, namamu siapa?”
“Aku tidak lagi memakai nama manusia.”
“Masa kau nggak punya nama?”
“Nama mengikat seseorang pada kehidupan yang pernah dijalaninya.”
“Berarti dulu kau manusia?”
Lelaki tua itu kembali memandanginya. Cahaya putih di kedua matanya bergetar semakin cepat.
“Dahulu.”
“Dahulu kapan?”
“Sebelum kerajaan manusia membangun dinding. Sebelum ras lain menutup jalan. Sebelum sejarah dipelintir menjadi cerita para pemenang.”
Jabang belum memahami semua yang dikatakan lelaki tua itu.
“Apa yang harus kupanggil?”
“Sebagian roh memanggilku Penunggu Guntur.”
Jabang mencermati bekas sambaran pada kedua lengannya.
“Namanya aneh.”
“Aku tidak berada di sini untuk menyenangkanmu.”
“Itu sudah terlihat.”
Sang Penunggu Guntur berbalik dan berjalan menuju pohon hangus. Ia duduk di antara akar yang menonjol dari tanah. Jabang mengikutinya.
“Kalau kau tidak bisa mengembalikan tubuhku, kenapa memanggilku?”
“Aku tidak memanggilmu malam ini.”
“Lalu kapan?”
“Dua puluh tahun lalu.”
Langkah Jabang berhenti. Usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Dua puluh tahun lalu, ia masih seorang anak kecil.
“Aku tidak pernah datang ke tempat ini.”
“Tubuhmu tidak pernah sampai ke sini. Jiwamu yang menyentuh batasnya.”
Jabang mencoba mengingat masa kecil. Ada bagian dari masa kecilnya yang sudah kabur, terutama tentang ibunya. Ia masih mengingat suara dan wajah perempuan itu, tetapi tahun-tahun sebelum kematiannya nyaris hilang.
“Dua puluh tahun lalu, apa yang terjadi?”
“Kau hampir mati.”
“Kenapa?”
“Petir.”
Jabang menatap dengan dahi berkerut.
“Aku tidak pernah disambar petir.”
“Bukan tubuhmu.”
Penunggu Guntur mengangkat satu tangan. Udara di sekeliling mereka bergetar. Sebuah kenangan muncul di antara kabut. Gambarnya tidak jelas, seperti permukaan air yang terkena hujan. Jabang melihat seorang anak laki-laki terbaring di dalam rumah sederhana. Tubuhnya gemetar dan kulitnya sangat pucat. Seorang perempuan memeluknya sambil menangis.
Jabang mengenali perempuan itu. Ibunya.
Ia mendekati kenangan itu.
“Apa yang terjadi kepadaku?”
“Demam membuat napasmu terhenti.”
Dalam gambaran itu, ibu Jabang berteriak meminta pertolongan. Paman Wira yang masih lebih muda berlari masuk bersama Nyi Kembang. Mereka mencoba menyadarkan anak itu, tetapi tubuh kecil itu tidak bergerak. Kemudian terdengar guntur. Cahaya putih menyambar atap rumah tanpa membakarnya. Tubuh anak itu tersentak dan mulai bernapas lagi.
Kenangan menghilang.
Jabang berdiri dalam diam. Ia tidak pernah mendengar cerita itu. Paman Wira hanya mengatakan bahwa Jabang pernah sakit parah saat kecil, lalu berhasil sembuh.
“Ibuku tahu?” tanyanya.
“Dia melihat cahaya itu.”
“Kenapa tidak pernah mengatakan apa-apa?”
“Karena manusia takut kepada kejadian yang tidak mereka pahami.”
Jabang menatap kedua telapak tangannya.
“Jadi sejak itu aku punya kekuatan?”
“Tidak.”
“Lalu petir apa yang menyambarku?”
“Guntur Jagat.”
Nama itu membuat tanah di bawah mereka bergetar. Sang Penunggu berdiri, lalu menancapkan tongkatnya di depan Jabang.
“Guntur Jagat bukan petir dari langit. Ia adalah denyut yang menjaga sumpah lama tetap terikat pada Pagar Jagat. Saat jiwamu hampir terlepas, denyut itu memilihmu sebagai tempat singgah.”
“Kenapa aku?”