Jabang Guntur : Pagar Terakhir Manusia

A.A.Pusung
Chapter #12

BAB 11 Pilihan Orang Mati

Pintu batu di hadapan Jabang terbuka semakin lebar.

Dari baliknya, Desa Karangwuni terlihat utuh. Tidak ada rumah terbakar, lumbung yang runtuh, ataupun jejak pertarungan. Jalan-jalannya bersih, sawah kembali menguning, dan asap tipis mengepul dari dapur warga.

Tidak terdengar suara apa pun.

Tidak ada ayam berkokok, suara lesung, atau anak-anak berlarian. Angin menggerakkan daun dan rumput tanpa menimbulkan bunyi.

Desa itu seperti kenangan yang sudah kehilangan kehidupan.

Jabang menoleh kepada Sang Penunggu Guntur.

“Apa ini Karangwuni?”

“Karangwuni yang masih tersimpan dalam ingatan orang-orang mati.”

“Apakah mereka tinggal di sana?”

“Sebagian hanya melintas. Sebagian tidak mampu meninggalkannya.”

Jabang mengarahkan pandangan ke desa. Beberapa sosok berjalan di antara rumah-rumah. Pakaian mereka berasal dari masa yang berbeda. Ada yang mengenakan kain sederhana seperti warga Karangwuni sekarang, tetapi ada pula yang membawa peralatan berburu tua atau memakai pelindung tubuh yang sudah tidak pernah dilihatnya.

“Masuklah,” kata Sang Penunggu.

“Kau tidak ikut?”

“Yang itu kau pilih sendiri.”

“Kalau ada sesuatu yang mencoba memakanku?”

Sang Penunggu hanya memandanginya.

Jabang mengembuskan napas pelan.

“Benar. Aku sudah mati.”

Ia melangkah melewati pintu batu.

Begitu kakinya menyentuh jalan desa, pintu di belakangnya tertutup. Sang Penunggu dan tanah kuburan menghilang.

Jabang berdiri sendiri di persimpangan Karangwuni.

Meski bentuk desa itu sangat dikenalnya, letak beberapa bangunan berbeda. Rumah Paman Wira berdiri di tempat yang benar, tetapi lumbung berada lebih dekat dengan sawah. Di sisi utara terdapat bangunan panjang dari kayu yang tidak pernah ada ketika Jabang masih hidup.

Seorang perempuan tua sedang menyapu halaman bangunan itu.

Ujung sapunya tidak menyentuh tanah. Debu juga tidak bergerak, tetapi perempuan itu terus mengayunkannya seperti sedang melakukan pekerjaan yang sudah dikerjakan ribuan kali.

Jabang mendekat.

“Nek.”

Perempuan itu tidak menoleh.

“Nenek bisa mendengarku?”

Sapunya berhenti. Perempuan tua itu mengangkat wajah. Tidak ada luka pada tubuhnya, tetapi warna kulitnya pucat dan hampir menyatu dengan kabut.

“Kau baru datang,” katanya.

“Kelihatan sekali?”

“Yang baru mati biasanya masih mencari jalan pulang.”

Jabang mengamati sapu di tangannya.

“Nenek sedang apa?”

“Membersihkan rumah.”

“Rumah ini kosong.”

“Anak dan cucuku pernah tinggal di sini.”

“Mereka ada di Alam Antara?”

Perempuan itu menggeleng.

“Mereka masih hidup ketika aku pergi. Sekarang mungkin sudah menyusul, tetapi aku tidak lagi mengenali wajah mereka.”

Ia menoleh ke bangunan panjang itu. Bentuk rumahnya mulai memudar, terutama pada bagian atap.

“Kenapa Nenek masih menunggu?”

“Dulu aku takut mereka tidak dapat hidup tanpaku. Aku ingin memastikan rumah tetap berdiri dan makanan mereka cukup.”

Perempuan itu tersenyum kecil.

“Setelah lama menunggu, aku melihat mereka mempunyai anak, menua, lalu meninggalkan tempat ini. Tidak ada lagi yang membutuhkan rumah itu.”

Ia melepaskan sapunya. Benda itu berubah menjadi serpihan cahaya.

“Sekarang Nenek mau ke mana?” tanya Jabang.

“Ke tempat yang tidak meminta kita mengingat.”

Sebuah jalan putih muncul di depan perempuan itu. Di ujung jalan terdapat cahaya yang tidak menyilaukan mata.

Perempuan tua itu melangkah ke sana tanpa ragu.

“Apa Nenek tidak takut kehilangan semuanya?”

Ia menoleh untuk terakhir kali.

“Aku tidak kehilangan mereka. Aku cuma sudah selesai menjaga.”

Tubuhnya semakin terang, kemudian menghilang bersama jalan putih.

Jabang berhenti di muka rumah kosong itu.

Ia memikirkan Paman Wira, Kebo, dan Sari. Kalau mereka sudah aman tanpa dirinya, mungkin Jabang juga bisa pergi.

Tapi ia belum melihat mereka aman.

Jabang melanjutkan perjalanan.

Di dekat sumur desa, seorang lelaki duduk sambil mengasah parang. Gerakannya kasar dan berulang-ulang. Bilah parang itu sudah sangat tipis, tetapi lelaki itu tidak berhenti.

Bekas luka besar membelah wajah dan lehernya. Di sampingnya tergeletak pelindung tubuh yang dibuat dari kulit hewan.

Jabang berhenti dalam jarak aman.

“Parangnya sudah cukup tajam.”

Lelaki itu mengangkat wajah.

“Belum cukup untuk membelah cakar mereka.”

“Cakar siapa?”

“Makhluk dari gunung.”

Lelaki itu mengarahkan pandangan ke sisi utara desa.

“Mereka datang ketika pagar belum berdiri kuat. Membakar rumah dan membawa manusia seperti ternak. Aku mati sebelum sempat menyelamatkan keluargaku.”

Jabang memperhatikan bekas luka di lehernya.

“Berapa lama kau berada di sini?”

Lelaki itu kembali mengasah parang.

“Sampai mereka membayarnya.”

“Siapa yang harus membayar?”

Lihat selengkapnya