BAB 11
Pilihan Orang Mati
Pintu batu di hadapan Jabang terbuka semakin lebar. Dari baliknya, Desa Karangwuni terlihat utuh. Tidak ada rumah terbakar, lumbung yang runtuh, ataupun jejak pertarungan. Jalan-jalannya bersih, sawah kembali menguning, dan asap tipis mengepul dari dapur warga. Tidak terdengar suara apa pun. Tidak ada ayam berkokok, lesung ditumbuk, atau anak-anak berlarian. Angin menggerakkan daun dan rumput tanpa menimbulkan bunyi. Desa itu seperti kenangan yang sudah kehilangan kehidupan. Jabang menoleh kepada Sang Penunggu Guntur.
“Apa ini Karangwuni?”
“Karangwuni yang disimpan oleh orang-orang mati.”
“Apakah mereka tinggal di sana?”
“Sebagian hanya melintas. Sebagian tidak mampu meninggalkannya.”
Jabang kembali melihat ke arah desa. Beberapa sosok berjalan di antara rumah-rumah. Pakaian mereka berasal dari masa yang berbeda. Ada yang mengenakan kain sederhana seperti warga Karangwuni sekarang, tetapi ada pula yang membawa peralatan berburu tua atau memakai pelindung tubuh yang sudah tidak pernah dilihatnya.
“Masuklah,” kata Sang Penunggu.
“Kau tidak ikut?”
“Pilihan orang mati harus dilihat oleh orang mati.”
“Kalau ada sesuatu yang mencoba memakanku?”
Sang Penunggu menatapnya datar.
Jabang mengembuskan napas pelan. “Benar. Aku sudah mati.”
Ia melangkah melewati pintu batu. Begitu kakinya menyentuh jalan desa, pintu di belakangnya tertutup. Sang Penunggu dan tanah kuburan menghilang dari pandangan. Jabang berdiri sendiri di persimpangan Karangwuni. Meski bentuk desa itu sangat dikenalnya, letak beberapa bangunan berbeda. Rumah Paman Wira berdiri di tempat yang benar, tetapi lumbung berada lebih dekat dengan sawah. Di sisi utara terdapat bangunan panjang dari kayu yang tidak pernah ada pada masa Jabang hidup. Seorang perempuan tua sedang menyapu halaman bangunan itu.
Ujung sapunya tidak menyentuh tanah. Debu juga tidak bergerak, tetapi perempuan itu terus mengayunkannya seolah pekerjaannya tidak pernah selesai. Jabang mendekat.
“Nek.”
Perempuan itu tidak menoleh.
“Nenek bisa mendengarku?”
Sapunya berhenti. Perempuan tua itu mengangkat wajah. Tidak ada luka pada tubuhnya, tetapi warna kulitnya pucat dan hampir menyatu dengan kabut.
“Kau baru datang,” katanya.
“Kelihatan sekali?”
“Yang baru mati biasanya masih mencari jalan pulang.”
Jabang melihat sapu di tangannya. “Nenek sedang apa?”
“Membersihkan rumah.”
“Rumah ini kosong.”
“Anak dan cucuku pernah tinggal di sini.”
“Mereka ada di Alam Antara?”
Perempuan itu menggeleng. “Mereka masih hidup ketika aku pergi. Sekarang mungkin sudah menyusul, tetapi aku tidak lagi mengenali wajah mereka.”
Ia memandangi bangunan panjang itu. Bentuk rumah itu mulai memudar, terutama pada bagian atap.
“Kenapa Nenek masih menunggu?”
“Dulu aku takut mereka tidak dapat hidup tanpaku. Aku ingin memastikan rumah tetap berdiri dan makanan mereka cukup.” Perempuan itu tersenyum kecil. “Lama-lama aku melihat mereka punya anak. Mereka menua, lalu akhirnya meninggalkan tempat ini. Tidak ada lagi yang membutuhkan rumah itu.”
Ia melepaskan sapunya. Sapu itu berubah menjadi serpihan cahaya.
“Sekarang Nenek mau ke mana?” tanya Jabang.
“Ke tempat yang tidak meminta kita mengingat.”
Sebuah jalan putih muncul di depan perempuan itu. Di ujung jalan terdapat cahaya yang tidak menyilaukan mata. Perempuan tua itu melangkah ke sana tanpa ragu.
“Apa Nenek tidak takut kehilangan semuanya?”
Ia menoleh untuk terakhir kali.
“Aku tidak kehilangan mereka. Aku sudah selesai menjaga.”
Tubuhnya semakin terang, lalu menghilang bersama jalan putih itu. Jabang berhenti di muka rumah kosong itu. Kalau mereka sudah aman dan tak lagi membutuhkannya, mungkin ia juga bisa pergi seperti perempuan itu. Tapi pikiran Jabang kembali kepada Paman Wira, Kebo, dan Sari. Jabang melanjutkan perjalanan. Di dekat sumur desa, seorang lelaki duduk sambil mengasah parang. Gerakannya kasar dan berulang-ulang. Bilah parang itu sudah sangat tipis, tetapi lelaki itu tidak berhenti.
Bekas luka besar melintang dari wajah hingga lehernya. Di sampingnya tergeletak pelindung tubuh yang dibuat dari kulit hewan. Jabang berhenti dalam jarak aman.
“Parangnya sudah cukup tajam.”
Lelaki itu mengangkat wajah. “Belum cukup untuk membelah cakar mereka.”
“Cakar siapa?”
“Makhluk dari gunung.”
Tatapan lelaki itu beralih ke sisi utara desa. “Mereka datang ketika pagar belum berdiri kuat. Membakar rumah dan membawa manusia seperti ternak. Aku mati sebelum sempat menyelamatkan keluargaku.”
Jabang memandangnya beberapa saat.
“Berapa lama kau berada di sini?”
Lelaki itu kembali mengasah parang. “Sampai mereka membayar.”
“Siapa yang harus membayar?”
“Semua yang memiliki cakar.”