Jabang Guntur : Pagar Terakhir Manusia

A.A.Pusung
Chapter #13

Bab 12 Petir di Atas Kuburan

Bab 12

Petir di Atas Kuburan

Guntur Jagat menyentuh dada Jabang.

Tidak ada ledakan atau sambaran yang langsung membuatnya jatuh. Cahaya putih kebiruan itu hanya menempel pada luka bekas tombak, lalu meresap sedikit demi sedikit ke dalam jiwanya.

Jabang menunduk.

Sebuah garis cahaya muncul di dadanya. Bentuknya menyerupai luka lama yang baru terbuka, memanjang dari depan hingga menembus punggung.

Rasa sakit datang sesaat kemudian.

Jabang terjatuh dan menekan dadanya dengan kedua tangan. Jantungnya sudah berhenti, tetapi tubuhnya kembali mengenali rasa sakit saat tombak Sangkara menembus dirinya.

Rasa sakit itu datang lagi, bahkan lebih jelas daripada saat ia mati.

“Apa ini bagian dari syaratnya?” tanyanya sambil menahan napas.

“Luka kematian harus mengenali jalan pulang,” jawab Sang Penunggu.

“Jalan pulangnya bisa sedikit lebih lembut.”

“Kematian tidak pernah lembut.”

Cahaya dari dalam dada Jabang menyebar ke bahu, lengan, perut, lalu turun hingga kedua kakinya. Setiap bagian yang dilalui terasa terbakar sekaligus membeku.

Suara guntur memenuhi Alam Antara.

Kuburan-kuburan tanpa nama bergetar. Batu nisan retak, sementara kabut putih berputar mengelilingi pohon hangus.

Jabang mencoba berdiri, tetapi tubuhnya kembali jatuh. Cahaya pada kedua tangannya bergerak liar. Jari-jarinya berkedut tanpa dapat dikendalikan.

“Aku harus melakukan apa?” tanyanya.

“Bertahan.”

“Hanya itu?”

“Kalau kau tidak mampu bertahan, jiwamu pecah sebelum mencapai tubuh.”

Jabang menoleh kepada Sang Penunggu dengan kesal.

“Bagian itu seharusnya dijelaskan sebelum aku setuju.”

“Kau tidak bertanya.”

“Aku bertanya soal harga kekuatan.”

“Belum saatnya kau tahu.”

“Dan sekarang aku merasa sedang dibakar dari dalam.”

“Itu sudah menjadi milikmu.”

Jabang ingin membalas, tetapi cahaya di dadanya kembali menyala. Rasa sakit membuat kata-kata tertahan.

Sang Penunggu menancapkan tongkat ke tanah.

Sebuah lingkaran berisi tujuh garis muncul di bawah tubuh Jabang. Enam garis memancarkan warna berbeda, sedangkan satu garis di tengah tetap gelap.

“Pagar Jagat dibentuk oleh sumpah tujuh pihak,” katanya. “Guntur yang kau bawa hanya mengenali bagian manusia. Jangan mencoba memakai bagian lain yang belum menerimamu.”

“Aku bahkan belum tahu cara memakai bagian manusia.”

“Karena itu, jangan merasa sudah menjadi orang kuat.”

Jabang memaksakan senyum.

“Aku tidak pernah punya masalah merasa terlalu kuat.”

“Kecerobohanmu lebih berbahaya daripada kesombongan.”

Lingkaran di tanah berputar.

Garis yang gelap menyala putih dan mengirimkan cahaya ke dada Jabang.

Alam Antara tiba-tiba terasa menjauh. Pohon hangus, kuburan, serta sosok Sang Penunggu berubah kabur.

Di balik semuanya, Jabang mendengar suara orang-orang menggali tanah.

Satu hantaman cangkul.

Lalu hantaman berikutnya.

Ia mengenali iramanya.

Kebo masih menggali makam.

“Tubuhmu sedang dikembalikan kepada tanah,” kata Sang Penunggu. “Jika kau terlambat, ikatan itu akan tertutup.”

“Kenapa tidak mengirimku sekarang?”

“Jiwamu belum menyatu dengan Guntur Jagat.”

“Apa yang kurang?”

“Nama.”

Kening Jabang berkerut.

Sang Penunggu mengangkat tongkat dan mengarahkannya kepada Jabang.

“Sebutkan namamu.”

“Jabang Guntur.”

Tidak terjadi apa-apa.

“Nama bukan hanya suara yang dipakai orang untuk memanggilmu,” kata Sang Penunggu. “Ingat alasan kau masih ingin memilikinya.”

Jabang menutup mata.

Ia menyaksikan Paman Wira berdiri dengan gulungan tali di depan lumbung. Wajah lelaki itu selalu terlihat kesal setiap kali menemukan Jabang bersembunyi dari pekerjaan.

Ia menyaksikan Sari berlari dari sawah sambil menangis karena bayangannya berhenti mengikutinya.

Lalu Kebo muncul bersama bungkusan daun pisang yang hampir selalu menjadi sasaran kelaparannya.

Kenangan itu terasa sederhana.

Tidak ada kekuatan, kerajaan, atau ramalan besar.

Hanya desa kecil dan orang-orang yang mengenalnya sebagai pemuda malas.

Kehidupan itulah yang ingin ia pertahankan.

“Namaku Jabang Guntur,” katanya lagi. “Aku keponakan Paman Wira, sahabat Kebo Lintang, dan orang yang masih berutang sandal kepada Sari.”

Cahaya di dadanya berhenti bergerak liar.

Akhirnya, cahaya itu mengikuti kemauan Jabang.

Sang Penunggu mencabut tongkatnya dari tanah.

“Jalanmu sudah terbuka.”

Di bawah tubuh Jabang muncul genangan air yang memperlihatkan Karangwuni.

Hari masih gelap, tetapi warna pucat mulai muncul di kaki langit.

Warga berkumpul di dekat pohon besar di sebelah timur desa. Sebuah lubang makam sudah selesai digali. Tubuh Jabang dibungkus kain dan diletakkan di atas usungan bambu.

Paman Wira berdiri di dekat kepala, sementara Kebo berada di bagian kaki.

“Kita belum menunggu matahari terbit?” tanya salah seorang warga.

Paman Wira mencermati langit yang masih gelap.

“Tanah dekat hutan belum aman. Kita selesaikan sebelum kabut turun lagi.”

Nyi Kembang mendekati tubuh Jabang untuk memeriksanya untuk terakhir kali. Ia menekan bagian leher, lalu menyentuh dada yang tertutup kain.

Tidak ada denyut.

Lihat selengkapnya