Guntur Jagat menyentuh dada Jabang. Tidak ada ledakan ataupun sambaran yang langsung menjatuhkannya. Cahaya putih kebiruan itu hanya menempel di bagian dada yang pernah ditembus tombak, lalu meresap sedikit demi sedikit ke dalam jiwanya. Jabang menunduk.
Sebuah garis cahaya muncul di dadanya.
Bentuknya menyerupai luka lama yang baru terbuka, memanjang dari dada hingga ke punggung. Rasa sakit datang sesaat kemudian.
Jabang terjatuh dan menekan dadanya dengan kedua tangan. Tubuhnya memang tidak lagi memiliki darah atau jantung, tetapi ia kembali merasakan tombak Sangkara menembus dirinya. Rasa sakit itu kembali, bahkan lebih nyata daripada saat ia mati.
“Apa ini bagian dari syaratnya?” tanyanya sambil menahan napas.
“Luka kematian harus mengenali jalan pulang,” jawab Sang Penunggu.
“Kalau bisa, jalan pulangnya jangan sesakit ini.”
“Kematian tidak pernah lembut.”
Cahaya dari dalam dada Jabang menyebar ke bahu, lengan, perut, lalu turun hingga kedua kakinya. Setiap bagian yang dilalui terasa terbakar sekaligus membeku. Suara guntur memenuhi Alam Antara. Kuburan-kuburan tanpa nama bergetar. Batu nisan retak, sementara kabut putih berputar mengelilingi pohon hangus.
Jabang mencoba berdiri, tetapi tubuhnya kembali jatuh. Cahaya pada kedua tangannya bergerak liar. Jari-jarinya berkedut tanpa dapat dikendalikan.
“Aku harus melakukan apa?” tanyanya.
“Bertahan.”
“Hanya itu?”
“Kalau kau tidak mampu bertahan, jiwamu pecah sebelum mencapai tubuh.”
Jabang menoleh kepada Sang Penunggu dengan kesal.
“Bagian itu seharusnya dijelaskan sebelum aku setuju.”
“Kau tidak bertanya.”
“Aku bertanya soal harga kekuatan.”
“Kau ingin tahu semuanya sekarang?”
“Dan sekarang aku merasa sedang dibakar dari dalam.”
“Sekarang sudah terasa, kan?”
Jabang ingin membalas, tetapi cahaya di dadanya kembali menyala. Nyeri itu membuatnya tak sempat berkata apa-apa.
Sang Penunggu menancapkan tongkat ke tanah. Sebuah lingkaran berisi tujuh garis muncul di bawah tubuh Jabang. Enam garis memancarkan warna berbeda, sedangkan satu garis di tengah tetap gelap.
“Pagar Jagat dibentuk oleh sumpah tujuh pihak,” katanya. “Guntur yang kau bawa baru mengenali sisi manusiamu. Jangan mencoba memakai bagian lain yang belum menerimamu.”
“Aku bahkan belum tahu cara memakai bagian manusia.”
“Makanya jangan sok kuat.”
Jabang memaksakan senyum.
“Aku tidak pernah punya masalah merasa terlalu kuat.”
“Kecerobohanmu lebih berbahaya daripada kesombongan.”
Lingkaran di tanah berputar. Garis yang gelap menyala putih dan mengirimkan cahaya ke dada Jabang. Alam Antara tiba-tiba terasa menjauh. Pohon hangus, kuburan, serta sosok Sang Penunggu berubah kabur. Di balik semuanya, Jabang mendengar suara orang-orang menggali tanah.
Satu hantaman cangkul.
Lalu hantaman berikutnya.
Ia mengenali iramanya. Kebo masih menggali makam.
“Tubuhmu sedang dikembalikan kepada tanah,” kata Sang Penunggu. “Jika kau terlambat, ikatan itu akan tertutup.”
“Kenapa tidak mengirimku sekarang?”
“Jiwamu belum menyatu dengan Guntur Jagat.”
“Apa yang kurang?”
“Nama.”
Kening Jabang berkerut. Sang Penunggu mengangkat tongkat dan mengarahkannya kepada Jabang.
“Sebutkan namamu.”
“Jabang Guntur.”
Tidak terjadi apa-apa.
“Nama bukan sekadar suara yang dipakai orang untuk memanggilmu,” kata Sang Penunggu. “Ingat kenapa kau masih ingin membawa nama itu.”
Jabang menutup mata.
Ia menyaksikan Paman Wira berdiri dengan gulungan tali di depan lumbung. Wajah lelaki itu selalu terlihat kesal setiap kali menemukan Jabang bersembunyi dari pekerjaan. Ia menyaksikan Sari berlari dari sawah sambil menangis karena bayangannya berhenti mengikutinya. Lalu Kebo muncul bersama bungkusan daun pisang yang hampir selalu menjadi sasaran kelaparannya.
Kenangan itu terasa sederhana.
Tidak ada kekuatan, kerajaan, atau ramalan besar. Hanya desa kecil dan orang-orang yang mengenalnya sebagai pemuda malas. Kehidupan itulah yang ingin ia pertahankan.
“Namaku Jabang Guntur,” katanya lagi. “Aku keponakan Paman Wira, sahabat Kebo Lintang, dan orang yang masih berutang sandal kepada Sari.”
Cahaya di dadanya berhenti bergerak liar. Akhirnya, Guntur Jagat bergerak seirama dengan keinginan Jabang. Sang Penunggu mencabut tongkatnya dari tanah.
“Jalanmu sudah terbuka.”
Di bawah tubuh Jabang muncul genangan air yang memperlihatkan Karangwuni. Hari masih gelap, tetapi fajar mulai mewarnai kaki langit dengan cahaya pucat. Warga berkumpul di dekat pohon besar di sebelah timur desa. Sebuah lubang makam sudah selesai digali.
Tubuh Jabang dibungkus kain dan diletakkan di atas usungan bambu. Paman Wira berdiri di dekat kepala, sementara Kebo berada di bagian kaki.
“Kita belum menunggu matahari terbit?” tanya salah seorang warga.
Paman Wira mencermati langit yang masih gelap.
“Tanah dekat hutan belum aman. Kita selesaikan sebelum kabut turun lagi.”
Nyi Kembang mendekati tubuh Jabang untuk pemeriksaan terakhir. Ia menekan bagian leher, lalu menyentuh dada yang tertutup kain. Tidak ada denyut. Tidak ada napas. Tubuh itu sudah semakin dingin. Jabang melihat semuanya dari Alam Antara.