Bisikan penolakan terdengar jelas di tengah kesunyian.
Jabang masih berada di dalam makam, kedua tangannya mencengkeram tepinya. Kakinya belum sepenuhnya kuat. Setiap kali berusaha naik, petir putih bergerak di bawah kulit dan membuat jemarinya menegang.
Di sekeliling makam, warga Karangwuni mengangkat parang, tombak, serta obor. Orang-orang yang kemarin mengenalnya kini menatap dengan ketakutan.
Paman Wira berdiri paling depan.
“Turunkan senjata,” katanya.
Semua tetap di tempat.
“Dia keluar dari kuburnya,” sahut seorang warga. “Kita melihat sendiri tubuhnya sudah mati.”
“Aku juga melihatnya.”
“Kalau begitu, bagaimana mungkin dia masih hidup?”
Paman Wira tidak mempunyai jawaban.
Jabang mencoba mengangkat tubuhnya sekali lagi. Tanah di tepi makam runtuh dan membuatnya kembali kehilangan pijakan.
“Kalau sudah selesai berdebat, mungkin ada yang bisa membantuku keluar.”
Seorang warga mundur.
Suara Jabang masih sama, tetapi setelah ia keluar dari dalam makam, suara yang biasa itu pun terdengar menakutkan.
Kebo duduk beberapa langkah dari lubang dengan rambut masih berdiri tidak beraturan. Ia menggerakkan bahu dan lengannya, memastikan sambaran tadi tidak membuat tubuhnya lumpuh.
Lalu ia memperhatikan Jabang.
“Kau benar-benar hidup?”
Jabang menekan bagian dadanya yang kembali sakit.
“Kalau mati rasanya begini, aku tidak mau lagi.”
Kebo berusaha bangkit. Paman Wira segera menahan lengannya.
“Nyi Kembang menyuruh kita tidak menyentuhnya.”
“Dia Jabang.”
“Tubuhnya sedang mengeluarkan petir.”
“Dia tetap Jabang.”
Kebo melepaskan pegangan Paman Wira, lalu mendekati makam.
Percikan putih masih muncul di sekitar tubuh Jabang, tetapi tidak sebesar sebelumnya.
“Kalau kau menyetrumku lagi, jangan pegang aku.”
“Aku juga tidak tahu cara menghentikannya.”
“Itu bukan jawaban yang menenangkan.”
Kebo berjongkok dan mengulurkan gagang cangkul.
“Pegang bagian kayunya.”
Jabang meraih ujung cangkul dengan hati-hati. Percikan kecil muncul, tetapi tidak sampai menyambar tubuh Kebo.
Dengan bantuan gagang itu, Jabang berhasil memanjat keluar dari makam.
Begitu kedua kakinya mencapai tanah, tubuhnya kembali kehilangan tenaga.
Kebo menangkap bahunya.
Petir kecil melompat di antara mereka.
Kebo meringis, tetapi tidak melepaskan pegangan.
“Masih sakit?” tanya Jabang.
“Seperti digigit... entahlah. Sakit.”
“Berarti tidak terlalu buruk.”
“Diam dan berdiri yang benar.”
Paman Wira mendekat perlahan. Parang masih berada di tangannya, tetapi ujungnya sudah diturunkan.
Ia mengamati wajah Jabang, lalu memeriksa luka di bagian dada.
Kain pembungkus tubuh Jabang robek tepat di bekas tusukan. Luka itu sudah tertutup, tetapi warna kulit di sekelilingnya berubah gelap menyerupai bekas terbakar. Garis putih bergerak sesaat di bawah permukaannya.
“Siapa kau?” tanya Paman Wira.
Jabang meliriknya.
Jabang terdiam.
“Jabang.”
“Buktikan.”
Jabang mengamati lumbung yang tinggal menyisakan arang.
“Waktu aku berumur sepuluh tahun, aku menjatuhkan tempayan milik Paman. Aku bilang kambing yang melakukannya.”
Paman Wira tidak bereaksi.
“Kambingnya diikat di kandang,” lanjut Jabang. “Paman tahu aku berbohong, tapi tetap memarahi kambing itu di depanku sampai aku mengaku.”
Beberapa warga bertukar pandang.
Paman Wira masih belum mendekat.
Jabang melanjutkan, “Paman juga menyimpan uang di bawah lesung dapur. Kalau aku benar-benar makhluk jahat, seharusnya bagian itu tidak perlu kukatakan di depan semua orang.”
Kebo menoleh kepada Paman Wira.
“Benar disimpan di sana?”
“Bukan urusanmu.”
Jabang tersenyum kecil.
“Berarti masih ada.”
Ketegangan di wajah Paman Wira belum sepenuhnya hilang. Ia akhirnya meletakkan parang di tanah.
“Bawa dia ke rumah.”
Seorang warga langsung menyela.
“Bagaimana kalau sesuatu masuk bersama tubuhnya?”
“Kalau kita membiarkannya di sini, kita juga tidak akan mendapat jawaban.”
Paman Wira memandang semua orang.
“Tidak ada yang menyentuhnya sampai Nyi Kembang memeriksa. Jaga jarak dan jangan bertindak sendiri.”
Kebo membantu Jabang berjalan menuju rumah.
Langkahnya lambat karena kedua kaki Jabang belum terbiasa menopang tubuh yang kembali hidup.
Tanah, udara pagi, dan suara warga terasa berbeda setelah Alam Antara.
Bahkan detak jantungnya sendiri terdengar terlalu keras.
Duk. Duk. Duk.
Setiap denyut disertai rasa nyeri pada bekas tusukan.
“Apa semua jantung memang berisik begini?” tanya Jabang.
Kebo mengamatinya.