Ancaman Sangkara masih bergaung dari dalam bayangan Jabang.
Jabang segera menarik tangan dan menjauh dari sinar matahari yang masuk melalui celah dinding. Bayangannya ikut bergeser, tetapi gerakannya terlambat sesaat.
Ia menahan napas.
Bentuk hitam di lantai kembali diam. Tidak ada tangan yang muncul, tidak ada kabut, dan suara Sangkara pun tidak terdengar lagi. Hawa dingin masih terasa pada luka di dadanya.
Kebo tertidur sambil bersandar di dekat pintu. Lengan kirinya masih dibalut, sedangkan tombak pendek diletakkan dalam jangkauan tangan kanan. Paman Wira dan Nyi Kembang tidak berada di dalam rumah.
Jabang mencoba bangun tanpa menimbulkan suara.
Baru mengangkat tubuh, rasa sakit langsung menyebar dari dada hingga punggung. Ia hampir mengerang, tetapi berhasil menahannya dengan menggigit bibir.
Kedua kakinya menyentuh lantai.
Petir kecil muncul di ujung jari kakinya.
Jabang membeku.
Percikan itu padam sebelum menyentuh tikar.
Ia menunggu sebentar, kemudian berdiri sambil berpegangan pada dinding. Tubuhnya masih lemah, tetapi sudah lebih mudah digerakkan daripada saat keluar dari makam.
Ia menatap lagi bayangannya.
“Kau masih di sana?” tanyanya pelan.
Tak ada sahutan.
“Kalau mau mengancam, jangan pas aku baru bangun.”
Bayangan itu tidak bergerak.
“Jabang.”
Suara Kebo membuatnya terkejut.
Petir putih keluar dari siku Jabang dan menyambar kendi di sudut ruangan.
Kendi itu pecah, menumpahkan air ke lantai.
Kebo langsung berdiri dan meraih tombaknya.
“Ada apa?”
Jabang menunjuk pecahan kendi.
“Aku tidak sengaja.”
“Kau bicara kepada siapa?”
“Bayanganku.”
Kebo menurunkan pandangan ke lantai.
“Kau baru hidup sehari sudah bicara sendiri.”
“Sangkara baru saja berbicara dari sana.”
Wajah Kebo berubah serius. Ia menutup pintu, lalu mendekati Jabang tanpa menyentuhnya.
“Apa yang dikatakannya?”
“Dia menemukanku.”
“Apakah dia bisa keluar melalui bayanganmu?”
“Entahlah.”
“Kau harus memberitahu Paman Wira.”
Jabang menggeleng.
“Warga sudah takut. Kalau mereka tahu Sangkara masih dapat berbicara melalui tubuhku, mereka akan menguburku lagi.”
“Kali ini mungkin makamnya diberi batu besar.”
“Karena itu, jangan beri mereka gagasan.”
Kebo melihat pecahan kendi.
“Kekuatanmu juga belum bisa dikendalikan.”
“Setidaknya aku berhasil mengalahkan kendi.”
“Hebat.”
Jabang mengambil kain untuk membersihkan air. Saat berjongkok, luka di dadanya kembali berdenyut. Cahaya putih muncul dari sela pakaiannya, lalu padam.
Kebo mengambil kain itu.
“Duduk. Aku yang membersihkan.”
“Aku bisa melakukannya.”
“Kalau kau menyambar air, kita bisa mati bersama.”
“Kau takut?”
“Aku pernah tersambar petir saat memegang tanganmu. Aku berhak takut.”
Jabang duduk lagi di atas tikar.
Kebo membersihkan air sambil sesekali memperhatikan bayangan sahabatnya. Bentuknya tidak lagi bergerak terlambat.
Sesaat kemudian, Paman Wira masuk bersama Nyi Kembang.
Mereka berhenti ketika melihat kendi pecah.
Paman Wira langsung memandangi Jabang.
“Bukan salahku,” kata Jabang.
Kebo masih memegang kain basah.
“Itu salahnya.”
“Pengkhianat.”
Nyi Kembang memeriksa Jabang. Denyut jantungnya masih tidak teratur, tetapi tubuhnya mulai menghangat seperti manusia hidup.
“Apa kau memakai Guntur Jagat?” tanyanya.
“Aku hanya terkejut.”
“Berarti kekuatan itu keluar mengikuti perasaanmu.”
“Bagaimana cara menghentikannya?”
“Jangan terkejut.”
Jabang memandangnya.
“Itu tidak membantu.”
“Aku tabib. Bukan penjinak petir.”
Paman Wira duduk di depan Jabang.
“Warga meminta jawaban. Mereka ingin tahu apakah kau masih aman tinggal di Karangwuni.”
Jabang menunduk.
Ia hampir menceritakan suara Sangkara, tetapi perkataan Kebo sebelumnya kembali teringat. Jika warga mengetahui panglima Bayang masih dapat menjangkaunya, ketakutan mereka akan semakin besar.
“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur.
Paman Wira menghela napas.
“Aku juga tidak bisa terus meminta mereka percaya tanpa bukti.”
“Kalau aku pergi sekarang, mereka akan merasa lebih aman.”
Kebo langsung menoleh.
“Kau bahkan belum bisa berjalan sampai lumbung.”
“Lumbungnya sudah tidak ada.”
“Kau tahu maksudku.”
Paman Wira memandangi keponakannya.
“Tidak ada yang pergi sebelum kita memahami keadaanmu.”
“Bagaimana caranya?”
Nyi Kembang menjawab, “Kita mencari seseorang yang mengetahui kekuatan di dalam tubuhmu.”
“Siapa?”
Sebelum ada jawaban, terdengar keributan dari luar rumah.
Beberapa warga berteriak dari arah jalan utara.
Paman Wira mengambil parang dan segera keluar.
Kebo mengikutinya sambil membawa tombak.
Jabang bangkit.
Nyi Kembang menahan bahunya.