Pada hari yang sama ketika Jabang memasuki Hutan Wulung, seorang penunggang kuda meninggalkan Karangwuni menuju Kota Surya Mandala.
Namanya Laga Pratama, petugas penghubung antara desa-desa perbatasan dan Kerajaan Surya Mandala.
Ia datang ke Karangwuni setelah melihat asap hitam dari jalan selatan. Di sana, ia menemukan lumbung terbakar, rumah-rumah rusak, serta jejak pertarungan yang tidak bisa dijelaskan sebagai serangan hewan biasa.
Paman Wira tidak menyukai kedatangannya.
Setelah Bangsa Bayang dan Siluman Harimau memasuki desa, menyembunyikan kejadian itu dari kerajaan bukan lagi pilihan.
Laga membawa surat dengan cap kepala desa, potongan tombak hitam, serta laporan kematian Jabang.
Ada satu bagian yang belum ditulis dalam surat itu.
Orang yang dinyatakan sudah mati itu hidup kembali ketika makamnya tersambar petir.
Paman Wira sengaja tidak memasukkannya. Ia hanya mengatakan ada kejadian lain yang masih diperiksa.
Sayangnya, tidak semua warga Karangwuni mampu menyimpan rahasia.
Sebelum Laga meninggalkan desa, Madun sempat menceritakan kebangkitan Jabang kepada dua penjaga jalan.
Menurut cerita yang sampai kepada Laga, seorang pemuda bangkit dari makam dengan tubuh diselimuti petir, melemparkan sepuluh orang hanya dengan satu tangan, lalu berbicara dalam bahasa orang mati.
Dua bagian terakhir itu tidak benar.
Kabar yang sudah keluar dari mulut Madun sulit kembali seperti semula.
Laga memacu kudanya melewati jalan berbatu.
Ia harus tiba di Surya Mandala dalam waktu dua hari, meskipun perjalanan biasanya membutuhkan tiga hari.
Kalau laporan itu benar, retakan Pagar Jagat bukan lagi masalah kecil.
Sesuatu telah menyeberang dan membawa kekuatan Alam Antara ke dalam tubuh manusia.
Kota Surya Mandala berdiri di tengah dataran luas yang dikelilingi parit serta tembok batu. Empat gerbang besar menghadap ke arah berbeda, masing-masing dijaga prajurit kerajaan.
Di balik tembok, rumah-rumah pedagang, bengkel besi, pasar kain, dan bangunan pemerintahan berdiri rapat. Jalan utamanya cukup lebar untuk dilewati tiga kereta sekaligus.
Di pusat kota terdapat istana Surya Mandala.
Atapnya bertingkat dan dihiasi lambang matahari berujung tujuh. Lambang itu dibuat jauh sebelum sebagian besar penduduk memahami arti tujuh ujung yang mengelilingi lingkaran tengah.
Bagi kebanyakan orang sekarang, lambang itu hanya berarti kekuasaan manusia.
Pada masa lalu, setiap ujung mewakili satu pihak yang pernah mengucapkan sumpah di hadapan Pagar Jagat.
Menjelang senja pada hari kedua, Laga tiba di gerbang timur.
Pakaiannya dipenuhi debu, sedangkan kudanya sudah kelelahan.
Penjaga menghentikannya.
“Tujuan?”
“Laporan perbatasan untuk istana.”
“Dari wilayah mana?”
“Karangwuni.”
Kepala penjaga memperhatikannya lebih serius saat mendengar nama desa itu.
Berita tentang asap dan gangguan di sekitar Hutan Wulung sudah sampai ke pos sehari sebelumnya.
“Ada cap kepala desa?”
Laga menunjukkan surat dari Paman Wira.
Setelah memeriksa cap, penjaga membiarkannya masuk.
Dua prajurit kemudian mengawal Laga menuju gedung laporan wilayah di sisi timur istana.
Malam sudah turun ketika surat Karangwuni sampai kepada pengurus istana.
Isinya dianggap cukup penting untuk dibawa langsung kepada Adipati Renggana. Pemimpin Kerajaan Surya Mandala itu masih berada di ruang pertemuan.
Usianya mendekati lima puluh tahun.
Rambut pada kedua pelipis mulai memutih, tetapi tubuhnya tetap tegak. Ia mengenakan pakaian resmi berwarna merah tua dengan lambang matahari pada bagian dada.
Di hadapannya terbentang peta wilayah manusia.
Beberapa penanda hitam diletakkan di sepanjang perbatasan utara dan timur.
Dalam sebulan terakhir, tujuh desa melaporkan suara dari hutan, ternak yang menghilang, serta bayangan yang bergerak tanpa pemilik.
Karangwuni menjadi desa pertama yang diserang secara terbuka.
“Berapa korban?” tanya Renggana.
Laga berdiri di seberang meja.
“Satu orang dipastikan meninggal. Beberapa warga terluka.”
“Hanya satu?”
“Warga berhasil menutup retakan sebelum lebih banyak makhluk keluar.”
“Dengan pasukan desa?”
“Dengan api dan merobohkan lumbung.”
Renggana membaca laporan Paman Wira.
“Manusia yang meninggal bernama Jabang Guntur.”
“Benar.”
“Siapa dia?”
“Pemuda desa. Bukan prajurit dan tidak memiliki kedudukan.”
“Bagaimana dia mati?”
Laga tampak ragu.
“Dia melindungi seorang anak dari tombak Panglima Bayang.”
“Panglima?”
“Makhluk Harimau yang berada di sana menyebut namanya Sangkara.”
Adipati Renggana mengangkat wajah.
“Siluman Harimau juga memasuki Karangwuni?”
“Empat ekor. Sebagian menyerang desa, tetapi seorang pengintai menghentikan mereka.”
Renggana meletakkan laporan.
Satu desa kecil kini menjadi tempat bertemunya tiga ras. Manusia, Bayang, dan Harimau.
Bunian Wulung juga berada tidak jauh dari sana.