Hutan Wulung menelan cahaya matahari sedikit demi sedikit.
Jabang berjalan di belakang Naya dengan bantuan tongkat. Kebo berada di sisinya, sesekali memeriksa luka di dada dan memastikan petir tidak kembali keluar dari tubuhnya.
Mereka baru meninggalkan Karangwuni beberapa saat, tetapi jalan pulang sudah tidak terlihat. Pepohonan tumbuh rapat di sekeliling mereka. Akar-akar besar menutup jalur yang sebelumnya dilewati, seolah hutan sengaja menghapus bekas langkah manusia.
Jabang berhenti dan menoleh.
“Jalannya hilang.”
Naya terus berjalan.
“Tidak hilang.”
“Aku tidak melihatnya.”
“Karena hutan tidak ingin kau kembali melalui jalan yang sama.”
Tatapan Jabang bergeser ke Kebo.
“Apa semua orang Bunian suka memberikan jawaban seperti itu?”
“Aku baru mengenal satu,” jawab Kebo.
“Sudah cukup untuk membuatku lelah.”
Naya menyingkirkan ranting di depannya.
“Kalau kau masih bisa mengeluh, keadaanmu belum terlalu buruk.”
“Tubuhku mati, hidup kembali, lalu dibawa masuk ke hutan yang mengubah jalan. Menurutmu apa yang disebut buruk?”
“Jatuh ke dalam akar pemakan.”
Jabang segera melihat tanah.
Naya terus berjalan tanpa menjelaskan apakah akar pemakan itu benar-benar ada.
Kebo menahan senyum.
“Sekarang kau diam.”
“Aku sedang memperhatikan jalan.”
“Kau takut dimakan akar.”
“Aku menghormati tumbuhan.”
Semakin dalam mereka berjalan, semakin asing bentuk pepohonan di sekeliling. Ada batang yang tumbuh saling melilit, daun sebesar tubuh manusia, dan bunga pucat yang menutup setiap kali Jabang melewatinya.
Sesekali terdengar langkah mengikuti dari balik semak.
Ketika Jabang berhenti, suara itu ikut berhenti.
“Penjaga hutan?” tanyanya.
“Penjaga hutan,” jawab Naya singkat.
“Berapa banyak?”
“Cukup.”
“Jawaban yang menenangkan.”
“Mereka belum menyerang.”
“Bagian ‘belum’ itu yang tidak menenangkan.”
Naya akhirnya berhenti di depan dua pohon besar yang tumbuh bersebelahan. Di antara kedua batangnya terdapat ruang sempit menyerupai gerbang. Akar di bawahnya membentuk tujuh lingkaran. Salah satu lingkaran menghitam.
“Inilah batas pertama wilayah kami,” kata Naya. “Setelah ini, manusia tidak boleh masuk tanpa izin Dewan Akar Tujuh.”
“Apakah akar penjaga berada di balik sana?” tanya Kebo.
“Tidak. Ki Akarma sudah menolak kedatangan kalian.”
Alis Jabang bertaut.
“Kami belum bertemu dengannya.”
“Hutan membawa berita lebih cepat daripada kaki.”
“Berarti kami berjalan sejauh ini hanya untuk ditolak?”
“Akar yang kita cari berada di sebelah timur. Kita tidak perlu memasuki Akarwangi.”
Naya berbelok mengikuti jalur sempit yang hampir tertutup pakis. Jabang dan Kebo mengikutinya.
Dari balik pohon gerbang, beberapa sosok Bunian mengawasi mereka. Tubuh mereka menyatu dengan warna batang dan daun. Hanya mata mereka yang terlihat.
Jabang pura-pura tidak menyadarinya.
Baru beberapa langkah, luka di dada Jabang terasa panas. Ia berhenti mendadak, seakan ada sesuatu yang menarik bayangannya dari belakang.
Jabang menekan dada.
Kebo langsung mendekat.
“Lukanya?”
Jabang tidak sempat menjawab.
Bayangan di bawah kakinya memanjang menuju pohon gerbang. Bentuk hitam itu bergerak melawan arah cahaya dan berusaha melewati akar.
Naya mengeluarkan tiga biji dari kantongnya, lalu melemparkannya ke tanah. Biji-biji itu tumbuh menjadi akar kecil yang melilit bayangan Jabang.
Suara Sangkara mendesis dari bawah tanah.
“Gerbang lain.”
Jabang menghentakkan tongkatnya pada bayangan sendiri.
“Tubuhku bukan pintu.”
Kabut hitam muncul sesaat, kemudian ditarik kembali oleh akar Naya.
Bekas luka Jabang mengeluarkan cahaya putih.
Dua kekuatan bertabrakan di dalam tubuhnya.
Jabang jatuh berlutut.
Kebo hendak menyentuhnya, tetapi Naya menahan lengannya.
“Jangan. Guntur sedang melawan penanda.”
“Apa aku harus membiarkannya kesakitan?”
“Kalau kau menyentuh sekarang, kekuatannya mencari jalan melalui tubuhmu.”
Kebo mengepalkan tangan, tetapi tetap menjaga jarak.
Naya berjongkok di depan Jabang. Ia menempelkan telapak tangan ke tanah, bukan ke tubuhnya.
“Dengarkan aku. Jangan melawan keduanya sekaligus.”
Jabang menahan napas.
“Kalau aku tidak melawan, Sangkara akan memakai bayanganku.”
“Biarkan akar menahan Sangkara. Kau hanya perlu menenangkan Guntur.”
“Aku tidak tahu caranya.”
“Ingat alasanmu kembali.”
Ucapan Naya mengulang pesan Sang Penunggu.
Jabang memejamkan mata. Ia memikirkan Karangwuni, Paman Wira, Sari, dan Kebo yang masih berdiri tidak jauh darinya.
Cahaya putih di dadanya mulai meredup.
Bayangannya kembali ke bentuk biasa.
Jabang membuka mata, lalu jatuh bertumpu pada satu tangan. Keringat dingin membasahi wajahnya.
Kebo berlutut setelah Naya memberikan izin.
“Kau masih hidup?”
Dada Jabang mengembang perlahan.
“Pertanyaan itu mulai sulit dijawab.”
Kebo membantu mengangkatnya.