Tangan putih itu merayap keluar dari luka Jabang.
Bentuknya tipis seperti kabut, tetapi kelima jarinya meninggalkan bekas dingin pada tanah. Perlahan, tangan itu bergerak menuju mangkuk yang menyimpan penanda Sangkara.
Naya masih berjaga di dekat pohon penjaga. Perhatiannya tertuju pada bayangan di dalam mangkuk. Ia tidak menyadari kabut putih sedang merangkak keluar dari tempat Jabang tidur.
Kebo tertunduk sambil memegang tombak. Rasa lelah membuat matanya beberapa kali terpejam.
Tangan putih itu semakin dekat.
Saat ujung jarinya hampir menyentuh mangkuk, mata Jabang terbuka.
Ia tidak tahu apa yang membangunkannya. Tidak ada suara atau guncangan. Hanya luka di dadanya yang tiba-tiba terasa sangat dingin.
Jabang menunduk.
Kabut memanjang dari balik balutan.
“Apa itu?”
Kebo tersentak bangun.
Tangan putih mencengkeram mangkuk. Naya langsung berdiri dan menancapkan tombak kayu di antara tangan itu dan wadah penanda. Cahaya hijau menyebar melalui ujung senjatanya.
Kabut putih tidak terbakar.
Bentuknya justru membesar dan merambat naik melalui tombak. Naya melepaskan senjata sebelum tangannya tersentuh.
“Mundur!”
Kebo menarik Jabang menjauh. Tubuh Jabang masih lemah sehingga keduanya jatuh di antara akar.
Mangkuk bergetar. Kabut hitam Sangkara di dalamnya bergerak liar, seolah mengenali roh yang sedang berusaha membebaskannya.
Ibu Rindang keluar dari tempat berlindung sambil membawa tongkat. Ia menghantam tanah. Akar-akar muncul dan melilit tangan putih itu, tetapi sebagian langsung mengering ketika bersentuhan dengannya.
“Bukan Bayang,” kata Naya.
“Roh dari Alam Antara,” jawab Ibu Rindang.
Jabang menekan luka di dadanya.
“Kenapa dia keluar dari tubuhku?”
“Karena jalan kematianmu masih terbuka.”
Tangan putih bergerak lagi.
Bentuk lengan dan bahunya ikut muncul dari luka Jabang. Tidak ada rasa sakit seperti sebelumnya. Sebuah kepala tanpa wajah menyusul.
Kebo menatap Jabang.
“Kau membawa roh pulang?”
“Aku tidak memeriksa barang bawaanku.”
“Sekarang bukan waktu bercanda.”
“Aku tahu.”
Roh itu mengeluarkan suara panjang.
Tidak terdengar seperti jeritan, tetapi semua daun di pohon penjaga langsung bergetar.
Mangkuk penanda Sangkara retak. Naya mengambilnya dan membungkusnya menggunakan akar. Kabut hitam di dalamnya berusaha keluar melalui celah.
“Kalau wadahnya pecah, Sangkara mendapat jalan baru,” katanya.
Ibu Rindang mengangkat tongkat.
“Roh itu tidak datang untuk menyerang Jabang. Ia mencari kekuatan yang dapat membawanya ke dunia hidup.”
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Jabang.
“Tutup jalan di dalam lukamu.”
“Katamu luka ini tidak bisa ditutup.”
“Bukan lukanya. Kehendak yang melewatinya.”
Jabang masih belum memahami perbedaannya.
Roh tanpa wajah sudah keluar sampai pinggang. Tubuh bagian bawahnya masih menyatu dengan kabut di dada Jabang. Ia mengulurkan tangan kepada Naya.
Bunian itu melompat mundur. Akar di bawah kakinya bergerak dan membentuk dinding.
Roh itu menembusnya tanpa kesulitan.
Kebo melangkah melindungi Naya sambil mengangkat tombak.
“Senjata biasa tidak bisa melukainya,” kata Jabang.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kau tetap berdiri di sana?”
“Karena ada sesuatu yang harus berdiri di depannya.”
Jabang tidak jadi menjawab.
Kebo tidak mempunyai cakar, sihir, akar, atau petir. Senjatanya hanya tombak pendek yang bahkan tidak mampu melukai roh.
Tetap saja, ia berdiri di depan Naya.
Seperti ketika ia melindungi Jabang dan Sari saat Sangkara datang.
Roh putih menerjang.
Tombak Kebo menembus tubuhnya tanpa meninggalkan luka. Hawa dingin menyambar lengan Kebo hingga pegangannya terlepas.
Sesaat kemudian, roh itu menghantam dadanya dan melemparkannya ke batang pohon.
Jabang mencoba berlari, tetapi kedua kakinya belum cukup kuat. Ia tersandung akar dan jatuh.
“Kebo!”
Sahabatnya tidak menyahut.
Guntur Jagat bereaksi terhadap ketakutannya.
Petir putih muncul dari luka di dada, lalu menjalar ke kedua lengan. Tanah di sekitar Jabang bergetar. Akar-akar kecil keluar dari permukaan dan langsung terbakar.
Naya menoleh.
“Jangan lepaskan seluruhnya!”
“Aku tidak tahu cara menahannya!”
“Pilih satu jalan. Jangan biarkan guntur masuk ke tanah.”