Derap kuda berhenti di luar Hutan Wulung.
Garu Cakar mengangkat kepala, lalu mencium udara. Telinganya bergerak mengikuti suara para prajurit yang turun dari tunggangan.
“Enam orang,” katanya. “Satu perempuan memimpin.”
Naya menyimpan bungkusan akar di balik pakaiannya. Mangkuk yang berisi penanda Sangkara bergerak pelan, seolah ikut merasakan kedatangan orang-orang dari kerajaan.
Jabang bersandar pada tongkat.
“Mereka datang membantu memperbaiki rumah?”
Garu memandangnya datar.
“Mereka membawa rantai.”
“Berarti bukan.”
Kebo berdiri di sisi Jabang sambil menahan nyeri di dada.
“Kita kembali ke akar penjaga.”
Naya menggeleng.
“Ki Akarma sudah melarang manusia masuk lebih jauh. Kalau pasukan kerajaan mengikuti, Bunian penjaga akan menganggapnya sebagai serangan.”
“Lalu kita keluar dan membiarkan mereka menangkap Jabang?”
“Mereka belum tentu datang untuk menangkap.”
Garu memperlihatkan taringnya.
“Manusia membawa rantai untuk berdagang?”
Jabang menatap jalur di depan mereka. Akar dan semak menutupi sebagian jalan keluar, sedangkan suara pasukan kerajaan terdengar semakin dekat.
“Kita tidak akan tahu kalau terus bersembunyi,” katanya.
“Kondisimu belum cukup kuat untuk bertarung,” kata Naya.
“Aku tidak berniat bertarung.”
Kebo menoleh.
“Biasanya masalah dimulai setelah kau mengatakan itu.”
Jabang mengabaikannya dan melanjutkan perjalanan.
Garu tidak mengikuti. Ia mundur ke balik pohon, lalu tubuhnya menyatu dengan bayangan hutan.
“Kau mau ke mana?” tanya Jabang.
“Aku tidak ingin kerajaan manusia mengetahui Harimau berada dekat desa.”
“Mereka mungkin sudah melihat jejakmu.”
“Melihat jejak dan melihat wajahku adalah dua hal berbeda.”
Sebelum menghilang, Garu melirik luka Jabang.
“Jangan gunakan Guntur. Darahmu masih berbau seperti kuburan terbuka.”
Jabang tidak menyukai cara Harimau itu menyampaikan peringatan, tetapi ia mengerti maksudnya.
Satu pukulan saja sudah membuka kembali luka kematiannya. Ia belum siap menggunakan kekuatan lagi.
Naya berjalan di depan dan menyentuh dua batang pohon.
Akar yang menutup jalan perlahan bergeser, membuka jalur menuju luar hutan.
Cahaya pagi masuk di antara pepohonan.
Enam prajurit kerajaan sudah menunggu di tanah lapang.
Perempuan yang berdiri paling depan mengenakan pelindung dada berwarna gelap dan mantel merah tua. Rambutnya diikat rapi ke belakang. Pedang pendek tergantung di pinggang, sedangkan tombak panjang berada di tangan kanan.
Dua prajurit membawa busur. Dua lainnya memegang tombak. Orang terakhir berdiri di dekat kuda sambil membawa gulungan rantai.
Garu benar.
Mereka memang datang untuk membawa seseorang secara paksa.
Perempuan itu memperhatikan Jabang, Kebo, dan Naya.
“Siapa di antara kalian Jabang Guntur?”
Jabang mengangkat sebelah tangan.
“Kalau ada utang, bukan aku.”
Kebo menunjuknya.
“Dia.”
Jabang menatap sahabatnya.
“Kau cepat sekali menyerahkanku.”
“Kau sendiri yang mengangkat tangan.”
Perempuan itu tidak terlihat terhibur.
“Aku Rara Sembagi, petugas pengawas perbatasan Kerajaan Mandala Surya. Aku membawa perintah Adipati Renggana.”
Ia mengeluarkan gulungan surat dari balik mantel, membuka segelnya, lalu membaca dengan suara jelas.
“Jabang Guntur dari Desa Karangwuni diperintahkan datang ke Kota Surya Mandala untuk menjalani pemeriksaan atas keterlibatannya dalam kerusakan Pagar Jagat, kebangkitan dari kematian, serta kepemilikan kekuatan yang disebut Guntur Jagat.”
Jabang mendengarkan sampai selesai.
“Keterlibatan dalam kerusakan pagar?” tanyanya. “Aku justru mati karena mencoba menutup retakannya.”
“Itulah salah satu hal yang akan diperiksa.”
“Aku baru hidup kembali. Bisa menunggu sampai tubuhku tidak terasa seperti dipukul kerbau?”
“Perintah kerajaan tidak menyebut waktu istirahat.”
Kebo melangkah maju.
“Dia terluka.”
Rara memperhatikan balutan pada dada Jabang. Darah baru terlihat di bagian tengahnya.
“Tabib kami akan memeriksa dalam perjalanan.”
“Nyi Kembang dan penyembuh Bunian sudah memeriksanya,” kata Kebo. “Lukanya tidak dapat sembuh.”
Rara menoleh kepada Naya.
“Apakah itu benar?”
Naya sempat diam sebelum menjawab.