Rara menyerang lebih dahulu.
Ujung tombaknya bergerak lurus menuju bahu Jabang, bukan dada. Serangan itu cukup cepat untuk menjatuhkan tanpa membunuh, tetapi Jabang tetap terlambat menghindar. Ia hanya sempat memiringkan tubuh.
Tombak menyambar pakaiannya dan meninggalkan goresan di kulit.
Jabang kehilangan keseimbangan, lalu jatuh dengan satu lutut menyentuh tanah. Rara menarik senjatanya.
“Menyerahlah. Tubuhmu tidak siap bertarung.”
Jabang memegangi bahu.
“Aku juga tidak mengajakmu bertarung.”
“Kau menolak perintah kerajaan dan mulai memakai kekuatan.”
“Aku mau kembali ke desa.”
“Setelah kekuatanmu dihentikan.”
Jabang memeriksa tangan kanannya. Cahaya putih bergerak di antara jari, tetapi belum membentuk serangan. Ia berusaha menahannya seperti yang diajarkan Ibu Rindang.
Ingat alasanmu kembali.
Kentongan masih berbunyi dari arah Karangwuni.
Ia tidak ingin melawan Rara. Ia juga tidak bisa berdiri diam saat warga mungkin kembali diserang.
Jabang bangkit.
“Aku akan pergi ke desa. Setelah keadaan aman, kita bisa berdebat sampai malam.”
“Kalau kubiarkan, kau bisa membawa penanda Sangkara masuk ke tengah warga.”
“Penandanya bersama Naya.”
Rara melirik perempuan Bunian itu. Bungkusan akar masih bergerak di balik pakaiannya.
“Benda itu juga harus diamankan.”
Akar-akar kecil muncul dari bawah kaki Naya.
“Cobalah mengambilnya.”
Dua pemanah kerajaan mengangkat busur.
Kebo menghadang Naya.
“Kalau ada yang melepas anak panah, semuanya akan menjadi lebih buruk.”
Salah seorang prajurit menjawab, “Minggir.”
“Tidak.”
“Kau melawan kerajaan?”
Kebo mengangkat tombaknya dengan tangan kanan.
“Aku sedang mencegah kalian membuat keputusan bodoh.”
“Semua tahan senjata!” perintah Rara.
Prajuritnya tidak menurunkan busur, tetapi tidak ada anak panah yang dilepaskan.
Rara kembali memusatkan perhatian pada Jabang.
“Hanya kau dan aku. Kalau kau berhasil melewatiku, aku membiarkanmu menuju Karangwuni.”
“Kalau aku kalah?”
“Kau ikut ke Surya Mandala.”
“Sekarang?”
“Setelah dua orangku memeriksa keadaan desa.”
Jabang mengembuskan napas pelan.
“Aku tidak pandai memakai senjata.”
“Bagus. Aku tidak perlu melukaimu terlalu parah.”
“Kau selalu bicara seperti itu kepada orang yang baru dikenal?”
“Tidak semua orang yang kukenal bangkit dari makam.”
Jabang mengambil tongkat yang tadi dijatuhkannya. Kayu itu tidak seimbang dan sama sekali tidak cocok digunakan melawan tombak, tetapi ia tidak punya pilihan lain.
Kebo mendekatinya.
“Jangan lakukan.”
“Dia sudah menawarkan jalan.”
“Dia prajurit kerajaan.”
“Dan aku pernah melawan kambing.”
Kebo menghela napas.
“Kambing itu juga mengalahkanmu.”
Jabang menatapnya.
“Kau tidak perlu mengingat bagian itu.”
Kebo memeriksa luka di dada Jabang. Darah sudah membasahi sebagian balutan.
“Kalau menggunakan Guntur lagi, lukamu terbuka.”
“Aku tahu.”
“Jangan mati untuk kedua kali hanya karena keras kepala.”
“Aku tidak berniat mati.”
“Kau juga tidak berniat mati pertama kali.”
Jabang tidak bisa membantah.
Ia menyerahkan bungkusan kecil kepada Kebo. Isinya hanya sepotong daun hitam yang masih tersisa sejak Naya mengirim tanda tujuh garis.
“Kalau aku pingsan, jangan biarkan mereka membawaku sebelum desa aman.”
Kebo menerima bungkusan itu.
“Kalau kau pingsan, aku akan memukulmu sampai bangun.”
Jabang berjalan menuju tengah jalan.
Rara memberi isyarat kepada prajuritnya untuk mundur. Naya menarik akar agar tidak melewati batas hutan.
Jalan tanah di antara pepohonan menjadi arena mereka.
Rara memegang tombak menggunakan kedua tangan. Kakinya terbuka selebar bahu, tubuhnya sedikit direndahkan. Tidak ada gerakan yang sia-sia.
Jabang memegang tongkat seperti sedang bersiap mengusir anjing dari dapur.
Rara memperhatikannya.