Jabang Guntur : Pagar Terakhir Manusia

A.A.Pusung
Chapter #21

Bab 20 Pergi dari Karangwuni

Sangkara belum kembali dalam wujud sempurna. Tubuhnya masih terbentuk dari kabut yang terikat pada tulang-tulang hitam di sekitar makam. Bagian dada dan kedua lengannya terlihat jelas, tetapi tubuh bawahnya menyatu dengan bayangan tanah.

Meski begitu, tombak hitam sudah berada dalam genggamannya.

Di sekeliling makam berdiri enam makhluk Bayang. Mereka menjaga lingkaran tulang sambil menghadap warga Karangwuni yang bertahan menggunakan obor dan bambu runcing. Paman Wira berada paling depan. Luka di bahunya kembali terbuka, tetapi ia masih memegang parang.

Ketika melihat Jabang datang bersama pasukan kerajaan, ketegangan di wajahnya sedikit berkurang.

“Jangan biarkan mereka menyelesaikan lingkaran!” teriak Naya.

Rara langsung memberi perintah.

“Pemanah, hancurkan tulangnya! Yang lain lindungi warga!”

Dua anak panah melesat.

Anak panah pertama mengenai salah satu tulang hitam, tetapi terpental. Anak panah kedua menembus makhluk Bayang tanpa menimbulkan luka.

“Senjata biasa tidak berguna,” kata Jabang.

“Kalau begitu, berikan api!” jawab Rara.

Warga menyerahkan obor kepada para prajurit. Kain berlapis minyak dililitkan pada anak panah, lalu dinyalakan.

Tembakan berikutnya mengenai tulang hitam. Api menjalar ke kabut di sekelilingnya. Makhluk Bayang menjerit, sementara bentuk Sangkara bergetar.

Rara mengangkat tombak.

“Serang dari tiga sisi!”

Para prajurit bergerak bersama warga. Mereka tidak mencoba menembus tubuh Bayang. Obor dipakai untuk membatasi gerakan, sementara tombak dan bambu mendorong makhluk-makhluk itu tetap dekat dengan api.

Jabang hendak ikut maju, tetapi kedua kakinya belum pulih setelah bergerak terlalu cepat. Kebo menahan bahunya.

“Kau bahkan belum bisa berdiri lurus.”

“Kalau Sangkara keluar sepenuhnya, semua orang akan lebih sulit berdiri.”

“Kau sudah memakai Guntur.”

“Belum cukup.”

“Lukamu mengatakan sebaliknya.”

Darah kembali merembes melalui balutan dada Jabang. Setiap denyut jantung membuat rasa sakit bergerak sampai punggung.

Naya berdiri di samping mereka sambil memegang mangkuk penanda. Retakan pada wadahnya semakin lebar.

“Wujud Sangkara di makam terhubung dengan penanda ini,” katanya. “Kalau kita menghancurkannya sekarang, panggilan dari makam bisa menarik bayangan terdekat sebagai pengganti.”

“Bayangan siapa?” tanya Kebo.

Naya mengamati warga yang bertarung.

“Siapa saja.”

Jabang memperhatikan lingkaran tulang. Satu bagian sudah terbakar, tetapi lima lainnya masih berdiri.

Sangkara mengangkat tombaknya, lalu mengayunkannya ke arah pasukan kerajaan.

Kabut hitam menyambar jalan.

Rara menancapkan tombak dan melompat ke samping. Dua prajurit di belakangnya tidak sempat menghindar. Mereka terlempar dan jatuh di dekat rumah yang rusak.

Makhluk Bayang bergerak hendak menghabisi keduanya. Paman Wira dan warga membentuk dinding api di depan prajurit yang jatuh.

“Bawa mereka pergi!”

Kebo melihat Jabang mengepalkan tangan.

“Jangan.”

“Aku cuma perlu satu pukulan.”

“Pukulan terakhirmu hampir membakar pohon penjaga.”

“Sekarang tidak ada pohon penjaga.”

“Ada rumah dan manusia.”

Jabang tahu Kebo benar.

Jika Guntur kembali menyebar melalui tanah, warga dapat ikut tersambar. Tanpa petir, mereka juga tidak mempunyai senjata yang benar-benar dapat menghancurkan tubuh Sangkara.

Jabang membuka kedua telapak tangannya.

Saat bertarung melawan roh, ia melepaskan kekuatan ke segala arah karena hanya memikirkan sasaran. Sekarang ia harus membuat petir berhenti pada satu tempat.

Ibu Rindang pernah berkata tubuh harus mengenali batas.

Jabang mengambil salah satu bambu dari tanah.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Naya.

“Memberi jalan pada petir.”

“Bambu tidak dapat menahan Guntur Jagat.”

“Tidak perlu menahan. Cukup mengarahkannya.”

Jabang berjalan menuju lingkaran dengan bantuan bambu.

Kebo mengikutinya.

“Kalau kau jatuh, aku tidak akan menggendongmu.”

“Aku tahu.”

“Kalau kau mati lagi, aku juga tidak akan menggali makam.”

“Aku belum meminta.”

“Aku sedang memastikan.”

Rara menyaksikan mereka mendekat.

“Kembali!”

“Aku bisa menghancurkan tulangnya,” jawab Jabang.

“Tubuhmu hampir jatuh.”

“Karena itu, jangan buat aku berjalan lebih jauh.”

Sangkara menoleh kepada Jabang. Kabut pada wajahnya membentuk celah panjang menyerupai senyum.

“Jiwa yang seharusnya tetap mati.”

Jabang menancapkan ujung bambu ke tanah.

“Kau juga belum sepenuhnya hidup. Kita sama-sama sedang kesulitan.”

Sangkara mengangkat tombak.

Rara bergerak lebih dahulu. Ia menyerang dari samping dan mengarahkan tombaknya pada tangan Sangkara.

Ujung logam menembus kabut tanpa melukai, tetapi gerakan itu berhasil membelokkan serangan. Tombak hitam menghantam tanah di samping Jabang.

“Sekarang!” teriak Rara.

Jabang memegang bambu dengan kedua tangan.

Guntur Jagat bergerak dari luka menuju lengan. Rasa sakit langsung membuka kembali bekas kematiannya, tetapi ia tidak membiarkan petir menyebar ke kaki atau tanah.

“Tubuh ini milikku,” bisiknya.

Lihat selengkapnya