Jabang Guntur : Pagar Terakhir Manusia

A.A.Pusung
Chapter #22

Bab 21 Hutan yang Tidak Ada di Peta

Desa Karangwuni semakin kecil di belakang mereka. Jabang berhenti di tanah yang sedikit lebih tinggi dan menoleh untuk terakhir kali. Dari tempat itu, rumah-rumah yang rusak, bekas lumbung yang terbakar, serta warga yang mulai mengumpulkan kayu masih tampak jelas. Paman Wira dan Sari sudah tidak terlihat. Hanya asap tipis dari dapur umum yang naik di antara pepohonan.

Jabang ingin kembali, meski hanya untuk memastikan keadaan di sana. Sejak kekuatannya muncul, Sangkara sudah dua kali datang ke desa itu. Ia tidak ingin menjadi alasan serangan berikutnya terjadi sebelum warga sempat beristirahat.

“Kalau terus menoleh, desanya tidak akan mendekat,” kata Kebo.

Jabang kembali menghadap jalan. “Aku hanya memastikan mereka tidak memanggilku pulang.”

“Kalau Paman Wira memanggil, kemungkinan besar untuk memperbaiki lumbung.”

“Kalau begitu, aku tidak dengar apa-apa.”

Kebo menggeleng, lalu menyerahkan botol air. Selain tombak, ia membawa tas berisi singkong, kain bersih, tali, dan beberapa ramuan dari Nyi Kembang. Sebagian besar barang itu sebenarnya untuk Jabang, tetapi Kebo tidak mengatakannya. Jabang minum beberapa teguk. Saat mengembalikan botol, rasa sakit muncul dari luka di dadanya. Darah sudah merembes pada bagian tengah balutan.

Setelah bergerak cepat saat melawan Rara, kedua kaki Jabang terasa berat. Sesekali ototnya menegang sendiri, seakan masih mengingat petir yang pernah memaksa tubuhnya bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia. Kebo memperhatikan cara berjalan Jabang.

“Istirahat?”

“Belum.”

“Kakimu terseret.”

“Itu gaya berjalan baru.”

“Gaya orang hampir roboh?”

Jabang memperbaiki pegangannya pada tongkat. “Kalau aku jatuh, baru kita istirahat.”

“Kalau kau jatuh, ya sudah. Aku cari makanan sendiri.”

Jabang segera memperhatikan tanah.

Kebo tersenyum tipis. “Ternyata kau masih takut.”

Rombongan mereka tidak besar. Selain Jabang, Kebo, Naya, dan Rara, hanya empat prajurit kerajaan yang ikut. Dua orang lain tetap berada di Karangwuni untuk menjaga prajurit yang terluka dan mengirim laporan kepada Surya Mandala. Naya berjalan paling depan. Ia tidak membawa peta ataupun penanda jalan. Sesekali ia berhenti untuk menyentuh batang pohon, memeriksa lumut, atau mendengarkan sesuatu di bawah tanah. Rara akhirnya kehilangan kesabaran. Ia mengeluarkan peta dari dalam tas kulit.

“Kalau kita terus bergerak ke utara, jalur ini seharusnya bertemu Sungai Wulung sebelum tengah hari.”

Naya tidak menoleh. “Tidak.”

Rara membuka peta lebih lebar. “Sungainya tercatat di sini.”

“Sungai di petamu belum tentu sama dengan sungai yang ada di sini hari ini.”

“Sungai tidak berjalan.”

“Di luar hutanmu, mungkin.”

Rara menghentikan langkah. “Aku tidak menyerahkan keselamatan rombonganku pada jawaban seperti itu.”

Naya ikut berhenti dan berbalik. “Kalau begitu, gunakan petamu.”

“Aku memang akan menggunakannya.”

“Silakan. Perintah kerajaan dan tombakmu tidak memiliki kekuasaan atas jalan di sini.”

Para prajurit bertukar tatap. Jabang berdiri di antara Rara dan Naya.

“Bagaimana kalau kita memakai peta Rara sambil mengikuti Naya?”

“Kita akan mempunyai dua arah,” kata Kebo.

“Ya, setidaknya kita tidak tersesat sendirian.”

“Itu tidak membuatku tenang.”

“Aku juga tidak.”

Naya melanjutkan perjalanan tanpa menunggu. “Kalau kalian ingin mencapai wilayah akar luar sebelum malam, tetaplah berjalan.”

Rara memasukkan petanya kembali ke tas, lalu memberi isyarat kepada para prajurit untuk mengikuti. Mereka memasuki bagian hutan yang lebih rapat. Tidak lama kemudian, Rara menggoreskan ujung pisau pada salah satu batang pohon. Ia membuat tanda silang kecil setinggi bahunya. Naya menyadarinya.

“Pohon tidak menyukai itu.”

“Aku membutuhkan penanda.”

“Tanda yang dibuat tanpa izin dapat berpindah.”

“Luka pada pohon tidak bisa berpindah.”

Naya tidak membantah. Ia hanya mengamati batang itu sebentar sebelum berjalan lagi. Tak lama kemudian, Jabang melihat tanda silang serupa pada pohon di sisi berlawanan. Tingginya tidak lagi sejajar dengan bahu Rara, melainkan hampir mendekati akar. Ia menunjuknya.

“Bukankah tadi tandanya lebih tinggi?”

Rara mendekat dan memeriksa goresan. “Bukan pohon yang sama.”

Lihat selengkapnya