Kalau waktu bisa diputar, mungkin Nara akan memilih pulang lebih cepat malam itu.
Atau mungkin tidak datang sama sekali.
Atau mungkin… tidak jatuh cinta.
**
Dua garis merah.
Tipis.
Tapi cukup untuk menghancurkan seluruh hidupnya saat itu, selamanya.
Nara menatap benda kecil di tangannya dengan pandangan kosong. Pintu kamar mandi kos yang kusam itu tertutup rapat. Lampunya redup. Air dari keran bocor menetes satu per satu.
Tik.
Tik.
Tik.
Tangannya dingin. Dia membaca lagi petunjuk yang sudah berkali-kali dibaca.
Dua garis.
Positif.
Tidak mungkin.
Tidak mungkin.
Dia baru dua puluh tahun.
Kuliah belum selesai.
Tabungan bahkan belum sampai dua juta.
Dan dia… belum siap menjadi apa pun.
Tidak untuk menjadi istri, apalagi ibu.
“Nggak mungkin.…” Suara itu keluar pelan.
Tangannya gemetar.
Dia menaruh test pack di wastafel lalu memegang pinggiran keramik seolah tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
Di luar kamar mandi, suara teman kosnya terdengar.
“Nara? Kamu gakpapa? Kok, lama banget!”
Nara buru-buru mengusap wajah.
“Iya! Gakpapa. Sebentar!”
Dia melihat bayangannya di cermin.
Mata sembab.
Bibir pucat.
Dan sekarang, entah kenapa dia takut pada dirinya sendiri. Pada apa yang bakal dia hadapi ke depannya.
**
Namanya Nara.
Anak kedua dari tiga bersaudara.
Bukan anak nakal.
Bukan juga anak yang suka bikin masalah.
Dia cuma… seorang wanita yang sedang jatuh cinta.
Dan seperti banyak orang seusianya—dia percaya cinta bisa menyelesaikan semuanya.
Sampai ternyata semua anggapan itu keliru dalam hidupnya.
**
Tiga bulan sebelumnya.