Jadi Cewek, Jangan Bodoh, ya!

Aroem Aziez
Chapter #2

Malam yang Seharusnya Tidak Terjadi

Nara selalu mengira hidup berubah karena satu kejadian besar. Padahal sering kali tidak.

Hidup berubah karena serangkaian keputusan kecil yang saat dijalani terasa biasa saja.

Membalas chat.

Mengiyakan ajakan.

Pulang sedikit lebih malam.

Percaya sedikit lebih banyak.

Lalu tiba-tiba—sudah terlambat untuk kembali.

**

Besok siang Nara dan Damar janjian bertemu. Tapi malam ini, Nara tidak bisa tidur. Dia membuka kembali percakapan lama mereka. Percakapan yang dulu membuatnya tersenyum.

Sekarang malah membuat dadanya sesak.

Damar.

Kontak dengan foto laki-laki berkaus hitam dan senyum setengah.

Awal chat mereka sangat biasa.

Damar:

Udah makan?

Nara:

Udah.

Damar:

Bohong.

Nara:

Kok tahu?

Damar:

Kalau orang capek jawabnya pendek.

Dulu Nara tertawa membaca itu.

Sekarang dia sadar—dia jatuh bukan karena rayuan.

Tapi karena merasa diperhatikan.

**

Tiga bulan sebelumnya.

Semester itu berat. Tugas menumpuk.

Nara mulai sering pulang larut dari kampus.

Di rumah, ayahnya sedang tidak stabil penghasilannya. Ibunya mulai sering menghitung uang sambil menghela napas.

Telepon dari rumah makin sering berisi pertanyaan: “Kapan lulus?”

“Kamu serius kuliahnya?”

“Jangan macam-macam di kota.”

Nara tahu mereka sayang.

Tapi kadang—sayang juga bisa terasa seperti tekanan.

Dia mulai sering diam. Sering melamun. Sering merasa tidak ada yang benar-benar mendengarkan dan perduli tentang dirinya.

Lalu Damar datang.

Bukan datang seperti tokoh utama film.

Tidak.

Mereka bahkan kenal karena hal sepele.

Lihat selengkapnya