Panas matahari menjelang siang terasa menyengat, tetapi telapak tangan Nara justru sedingin es, keringat membanjir punggungnya.
Ia berdiri di depan sebuah kedai kopi sederhana yang berada tidak jauh dari kampus. Kedai itu biasanya ramai oleh mahasiswa, tetapi karena masih hari kerja, hanya beberapa meja yang terisi.
Damar sudah menunggu.
Lelaki itu mengenakan kemeja kotak-kotak biru yang biasa dipakainya saat ingin terlihat rapi. Rambutnya disisir ke samping, tetapi wajahnya tampak lebih kusut daripada biasanya.
Begitu melihat Nara datang, Damar berdiri. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan hangat seperti biasanya.
"Ayo duduk." Perintah itu terasa dingin.
Nara mengangguk pelan, dengan ekspresi datar.
Pelayan datang membawa dua gelas es teh yang bahkan belum sempat mereka pesan. Rupanya Damar sudah memesannya lebih dulu.
Beberapa detik berlalu tanpa satu pun dari mereka berbicara.
Akhirnya Damar membuka suara. "Kamu benaran yakin? Udah diperiksa lagi?"
Nara mengeluarkan test pack dari dalam tas. Benda kecil itu masih terbungkus tisu.
"Aku juga ke klinik tadi pagi."
Damar mengangkat wajah.
"Gimana hasilnya?"
Nara menarik napas panjang.
"Positif."
Hanya satu kata.
Namun kata itu terasa seperti palu yang menghantam kepala mereka berdua.
Damar menunduk. Jemarinya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku nggak nyangka....."
"Aku juga."
Hening kembali memenuhi meja kecil itu.
Suara sendok beradu dengan gelas dari meja sebelah terdengar jauh lebih nyaring daripada napas mereka.
Beberapa menit kemudian, Damar berkata lirih,
"Bagaimana kalo kita gugurin aja?"
Kalimat itu membuat kepala Nara spontan terangkat.
"Apa?"
"Aku cuma….."
Damar mengusap wajahnya kasar.
"Kita belum siap, Nar."
Mata Nara mulai berkaca-kaca.
"Jadi menurut kamu... anak ini salah?"
"Bukan gitu."
"Lalu?"
"Aku takut."
"Aku juga takut."
Suara Nara mulai bergetar.
"Tapi dia sudah terlanjur ada, apakah kita bakal menambah dosa lagi dengan membunu hnya?"
Damar memejamkan mata.
Ia tahu ucapannya telah melukai perempuan yang selama ini selalu ia jaga.
"Maaf, Nara. Aku … cuma panik."
Nara mengusap air matanya cepat-cepat agar tidak menarik perhatian orang lain.
"Aku juga panik, Dam. Tapi aku nggak bisa pura-pura ini nggak pernah terjadi."
Damar tidak menjawab. Ia hanya menatap jalan raya yang mulai ramai.