Bus antarkota itu berhenti dengan bunyi rem yang melengking.
Nara menggenggam erat tas ransel di pangkuannya. Sejak berangkat dari kota tempatnya kuliah, ia hampir tidak memejamkan mata. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan, tetapi tak satu pun terasa menenangkan.
Di luar jendela, terminal kecil di kotanya tampak sama seperti terakhir kali ia pulang. Pedagang gorengan berteriak menawarkan dagangan. Seorang tukang ojek mengangkat tangan kepada setiap penumpang yang turun. Anak-anak yang selalu ramai berlarian, kali ini mereka tengah mengejar balon yang terlepas dari genggaman.
Semuanya tampak biasa.
Hanya hidup Nara yang tidak lagi sama.
Ia turun perlahan dari bus.
Baru beberapa langkah berjalan, sebuah motor tua berhenti di depannya.
"Nara."
Suara itu langsung dikenalnya.
Ayahnya.
Pak Mulyono masih mengenakan kemeja lengan panjang yang sedikit pudar. Wajahnya terlihat lelah, mungkin baru pulang bekerja.
"Kok bawa tas banyak? Bukannya libur masih minggu depan?" tanyanya sambil mengambil ransel dari pundak Nara.
Nara memaksakan senyum.
"Ada... ada yang ingin Nara bicarakan dengan Ayah dan Ibu."
Pak Mulyono menoleh sekilas. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari putrinya, tetapi memilih tidak bertanya lebih jauh.
"Ya sudah. Kita pulang saja dulu, nanti saja ceritanya."
Sepanjang perjalanan, tidak banyak percakapan. Nara memeluk tasnya erat.
Beberapa kali ia ingin membuka suara, tetapi setiap kali melihat punggung ayahnya, keberaniannya menghilang.
Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa putri yang selama ini dibanggakan telah membuat kesalahan sebesar itu?
**
Rumah sederhana itu masih sama.
Cat dindingnya mulai memudar. Pohon mangga di halaman depan semakin rindang. Aroma sayur bening dari dapur menyambut begitu ia melangkah masuk.
"Nara!"
Ibunya keluar sambil tersenyum lebar.
"Katanya minggu depan baru pulang."
Belum sempat menjawab, tubuh Nara sudah dipeluk erat. Pelukan yang biasanya membuatnya merasa aman. Kali ini justru membuat dadanya semakin sesak dan terjatuh dalam rasa sesal dan takut yang menghenyak.
"Kenapa kurusan begini?" tanya Bu Sri sambil mengusap pipi putrinya.
"Nggak apa-apa, Bu."
"Kamu sakit?"
Nara menggeleng cepat.
"Capek kuliah aja."
Bu Sri mengangguk, meski sorot matanya masih menyimpan tanda tanya.
Siang itu mereka makan bersama seperti biasa. Ayahnya bercerita tentang sawah tetangga yang gagal panen. Adiknya sibuk menceritakan kegiatan sekolah. Ibunya berkali-kali mengambilkan lauk untuk Nara.
Tak seorang pun tahu bahwa perempuan yang duduk di antara mereka sedang menahan tangis.
Setiap suapan terasa seperti duri yang terpaksa dia telan. Setiap tawa keluarga membuat rasa bersalahnya semakin besar.