JAIL AND E

Kukuh Ageng Pribowo
Chapter #1

Tamu Pagi #1

Hujan semalam meninggalkan udara yang bersih dan bau tanah basah yang masih menggantung tipis di koridor lantai dua belas ketika Jailani tiba di kantornya pukul tujuh kurang sepuluh. Lebih awal dari biasanya. Ia tidak menyebut alasannya kepada siapa pun — kebiasaan lama yang tidak pernah ia tinggalkan sejak dulu, bahwa ada hal-hal yang lebih baik dilakukan diam-diam daripada diumumkan.


Ia menggantung jasnya sendiri, menyeduh kopi sendiri dari mesin di sudut ruangan, dan duduk menghadap dokumen-dokumen yang sudah menunggu sejak kemarin. Di luar jendela, Jakarta baru saja bangun — lampu-lampu jalan masih menyala meski langit sudah terang, dan dari ketinggian ini kota itu tampak seperti sesuatu yang sedang memutuskan apakah akan benar-benar mau pagi atau tidak.


Jailani menyukai jam-jam ini. Sunyi yang produktif, sebelum rapat pertama, sebelum stafnya berdatangan, sebelum telepon-telepon yang tidak pernah benar-benar berhenti. Tiga tahun menjabat sebagai Menteri Inovasi dan Teknologi mengajarinya bahwa waktu yang paling jujur dalam sehari adalah waktu yang tidak dihadiri siapa pun.


Ia sedang membaca laporan akhir kuartal Program E ketika Sari, sekretarisnya, mengetuk pintu lima belas menit lebih awal dari jadwal masuknya.


"Pak Menteri, maaf mengganggu." Wajah Sari tidak biasa. Ada sesuatu di sana yang ia coba sembunyikan tapi tidak cukup berhasil. "Ada tamu dari BPKP. Mereka bilang sudah ada jadwal."


Jailani menutup dokumennya pelan. "Jadwal apa?"


"Audit, Pak. Mereka bilang surat pemberitahuannya sudah dikirim minggu lalu."


Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena terkejut — audit adalah rutinitas, bagian dari tata kelola yang ia justru selalu dorong agar dijalankan ketat. Tapi ada sesuatu dalam cara Sari mengucapkan kalimat itu yang membuat Jailani diam sebentar. *Mereka bilang.* Bukan *memang*. Bukan *sudah ada konfirmasi*.


"Berapa orang?"


"Tujuh, Pak. Sudah ada di lobi sejak setengah tujuh."


Jailani melirik jam di dinding. Setengah tujuh pagi. Sebelum kantor resmi buka. Ia mengangguk pelan, merapikan kancing jasnya dengan gerakan yang sudah menjadi refleks selama bertahun-tahun.


"Persilakan masuk."


---


Ada tujuh dari mereka, seperti yang Sari katakan. Semuanya berpakaian rapi, membawa tas kerja dan ekspresi yang sama — profesional tanpa kehangatan, sopan tanpa keramahan. Pemimpinnya memperkenalkan diri sebagai Hendra Kusuma, auditor senior, jabat tangan yang tepat tekanannya, mata yang tidak banyak bergerak.


"Terima kasih atas waktunya, Pak Menteri. Kami mohon maaf atas kedatangan yang agak mendadak."


"Tidak mendadak," kata Jailani. "Surat sudah diterima. Silakan."


Mereka menata diri di meja rapat. Jailani meminta Sari menyiapkan minuman, lalu duduk di ujung meja dengan punggung yang lurus — postur yang sudah ia latih bertahun-tahun, bukan karena ia sombong, tapi karena ia tahu bahwa di ruangan seperti ini, cara seseorang duduk adalah pernyataan.

Lihat selengkapnya