Anne tidak pernah membuang buku-buku lamanya.
Itu satu-satunya kebiasaan dari kehidupan sebelumnya yang berhasil ia pertahankan tanpa kompromi — di tengah perpindahan dari apartemen kecilnya yang penuh tumpukan jurnal ke rumah di Kebayoran yang lebih besar dari yang pernah ia bayangkan akan ia tinggali, di tengah pernikahan, dua kali pindah lagi mengikuti karier Jailani yang terus naik, dan akhirnya ke rumah dinas yang sekarang — buku-buku itu selalu ikut, selalu mendapat tempatnya sendiri, meski tempat itu kadang berubah dari rak penuh di ruang kerja menjadi dus kardus di gudang yang baru dibuka kalau Anne sedang mencari sesuatu yang spesifik.
Pagi ini ia sedang di gudang itu ketika teleponnya bergetar.
Nomor tidak dikenal. Ia tidak mengangkat — sudah tiga hari ini ada nomor tidak dikenal yang menelepon dengan jeda yang terlalu teratur untuk kebetulan, dan Anne sudah cukup lama jadi istri pejabat untuk tahu bahwa nomor-nomor seperti itu lebih baik dibiarkan berbicara sendiri dulu sebelum ia memutuskan apa yang ingin ia lakukan dengannya.
Ia kembali ke dus yang sedang ia buka — buku-buku dari masa S2-nya, sebagian besar tentang analisis kebijakan dan metodologi riset, beberapa tentang investigasi jurnalistik yang dulu ia tekuni sebelum beralih ke akademik. Di antara buku-buku itu ada beberapa jurnal tulis tangannya sendiri — catatan lapangan dari penelitiannya dulu, wawancara-wawancara yang ia transkripsi dengan tulisan tangan yang rapat dan cepat karena perekamnya sering kehabisan baterai di saat yang paling tidak tepat.
Ia mengambil satu jurnal, membukanya di halaman mana saja.
Tulisan tangannya sendiri menyambut — rapat, miring ke kanan, dengan tanda bintang dan garis bawah di tempat-tempat yang dulu ia anggap penting. Ia membaca beberapa baris, dan ada sesuatu yang aneh terjadi: ia tidak ingat dengan jelas kapan ia menulis ini, tapi ia ingat dengan sangat jelas bagaimana rasanya menulis ini — duduk di warung kopi dekat kampus, jam sepuluh malam, dengan perasaan bahwa ada sesuatu yang sedang ia dekati, sesuatu yang belum sepenuhnya terlihat tapi sudah bisa ia rasakan bentuk samarnya, dan rasa itu — rasa hampir menemukan sesuatu — adalah salah satu rasa terbaik yang pernah ia kenal.
Anne menutup jurnal itu.
Meletakkannya kembali ke dus.
Menutup dusnya.
---
Ia kenal Jailani di usia dua puluh delapan, di sebuah seminar kebijakan publik yang keduanya hadiri bukan untuk alasan yang sama — Anne sedang menyelesaikan tesisnya tentang efektivitas program inovasi pemerintah daerah, Jailani baru saja kembali dari luar negeri dan sedang diajak bicara di mana-mana oleh berbagai kalangan yang tertarik dengan pemikirannya tentang transformasi digital. Mereka duduk di meja yang sama saat makan siang, dan percakapan yang awalnya tentang data berubah menjadi sesuatu yang keduanya tidak berhenti sampai tiga jam kemudian ketika panitia mulai membereskan kursi-kursi di sekitar mereka.
Yang pertama kali menarik Anne bukan penampilannya, bukan latar belakangnya yang impresif, bukan pula cara ia berbicara yang terukur dan tidak boros kata. Yang menariknya adalah cara Jailani mendengarkan — dengan seluruh perhatiannya, tanpa melihat ke tempat lain, tanpa menyiapkan kalimat berikutnya sementara Anne masih berbicara. Di dunia seminar dan konferensi yang penuh dengan orang-orang yang mendengarkan hanya untuk menunggu giliran bicara, itu terasa seperti sesuatu yang langka dan sedikit mengejutkan.
Mereka menikah dua tahun kemudian. Anne waktu itu sedang di tengah proses melamar posisi peneliti di sebuah lembaga kajian kebijakan — proses yang sudah berjalan setengah jalan dan, semua orang yang mengenalnya bilang, hampir pasti akan berhasil. Posisi itu untuk penelitian jangka panjang, butuh mobilitas tinggi, kadang perlu tinggal di lapangan berbulan-bulan. Tidak kompatibel dengan kehidupan yang sedang mulai ia bangun bersama Jailani.
Ia menarik lamarannya sendiri. Tidak ada yang memaksanya. Jailani bahkan, ketika ia ceritakan, terdiam lama sebelum berkata bahwa ia tidak mau Anne memutuskan sesuatu yang besar karena tekanan apa pun dari luar — termasuk dari pernikahan mereka. Tapi Anne sudah memutuskan, dan keputusan itu saat itu terasa bukan seperti pengorbanan melainkan seperti pilihan yang masuk akal, seperti sesuatu yang ditukar dengan sesuatu yang lebih baik, bukan sesuatu yang dilepas tanpa pengganti.