JAIL AND E

Kukuh Ageng Pribowo
Chapter #4

Yang Tidak Suka Pada Orang Jujur #4

Gedung itu tidak punya nama di papan depannya.


Hanya nomor — sebuah angka empat digit yang tercetak kecil di plat besi di samping pintu masuk, cukup untuk keperluan administratif, tidak cukup untuk membuat siapa pun yang lewat merasa perlu memperhatikan. Ini bukan gedung yang ingin dilihat. Bukan gedung yang ingin dikenal. Ia berdiri di antara dua gedung perkantoran yang lebih baru dan lebih mencolok di kawasan Sudirman, dan justru karena itu ia tidak terlihat — seperti orang yang berdiri di antara dua orang berbadan besar dan memilih untuk tidak bergerak.


Di lantai tujuh gedung itu, pada suatu sore tiga bulan sebelum para auditor datang ke kantor Jailani, empat orang duduk mengelilingi meja bundar yang terlalu besar untuk ruangan itu.


Tidak ada yang mencatat pertemuan ini. Tidak ada agenda tertulis. Tidak ada undangan resmi yang dikirim atau diterima. Yang ada adalah empat orang yang saling mengenal cukup lama untuk tahu bahwa beberapa hal lebih baik dibicarakan tanpa jejak, dan cukup saling percaya untuk hadir meski tanpa jejak itu.


Pradipta duduk paling jauh dari pintu — kebiasaan lama yang tidak pernah ia jelaskan kepada siapa pun tapi yang selalu membuat siapa pun yang mengenalnya cukup lama mengerti: ia selalu ingin melihat siapa yang masuk sebelum yang masuk itu melihatnya. Bukan paranoia. Hanya kebiasaan orang yang sudah cukup lama berada di tempat-tempat di mana informasi tentang siapa yang ada di ruangan bisa lebih berharga dari isi pembicaraannya.


Yang lain: Hartono, pemilik grup konglomerasi yang sudah tiga generasi menguasai distribusi perangkat teknologi impor di Indonesia. Reza, mantan birokrat yang kini jadi konsultan — jenis konsultan yang kartunya tidak pernah menyebut dengan jelas ia konsultan apa tapi yang nomornya tersimpan di banyak telepon orang-orang penting. Dan seorang lagi yang nanti, dalam catatan-catatan Anne yang akan muncul berbulan-bulan kemudian, hanya disebut sebagai "orang keempat" karena tidak ada satu dokumen pun yang berhasil Anne temukan yang menyebut namanya dengan jelas.


"Program E sudah masuk fase tiga," kata Reza membuka pembicaraan. Ia tidak membawa dokumen — angka-angka itu sudah ada di kepalanya, dipersiapkan sejak kemarin. "Konsorsium teknologinya mulai membangun fasilitas produksi pertama di Batam. Kalau tidak ada yang menghentikannya sebelum fase empat, kita bicara soal lini produksi yang mandiri dalam tiga tahun."


Hartono mengetukkan jarinya pelan di atas meja. Satu ketukan. Dua. Ritme yang lebih mirip pikiran yang sedang diatur daripada kegelisahan.


"Tiga tahun," ulangnya. Bukan pertanyaan.


"Tiga tahun untuk komponen tier pertama. Lima untuk tier kedua. Kalau semuanya berjalan sesuai roadmap Jailani, dalam satu dekade kita tidak butuh impor untuk kategori yang selama ini jadi tulang punggung distribusi kita."


Tidak ada yang bicara sebentar. Di luar jendela, Sudirman sudah mulai macet — lampu-lampu merah dan kuning bergerak lambat di bawah sana, dan dari lantai tujuh itu semuanya tampak seperti arus yang tidak tahu ke mana perginya sendiri.


"Jailani tidak korupsi," kata Hartono akhirnya. Pernyataan, bukan pertanyaan.


"Tidak," jawab Reza. "Itu masalahnya."


---


Pradipta tidak berbicara selama dua puluh menit pertama.


Ia mendengarkan. Dengan cara yang sudah sangat ia kuasai selama bertahun-tahun — cara mendengarkan yang tidak memperlihatkan bahwa ia sedang menilai, yang tidak memberikan sinyal tentang ke mana penilaiannya mengarah, yang membuat orang yang berbicara di hadapannya cenderung berbicara lebih banyak dari yang mereka rencanakan karena ketiadaan respons selalu terasa seperti undangan untuk mengisi keheningan.


Sementara Hartono dan Reza membicarakan angka-angka dan kemungkinan-kemungkinan, Pradipta melihat ke luar jendela.


Ke arus lampu-lampu di bawah.


Tapi bukan benar-benar melihat ke luar — ada cara tertentu seseorang menatap ke arah yang jauh ketika yang sebenarnya sedang mereka lakukan adalah melihat ke dalam, ketika pandangan yang mengarah ke luar hanya adalah layar bagi proses yang terjadi di tempat lain.


Pradipta sedang menghitung.


Bukan angka-angka yang Reza bicarakan — itu sudah ia ketahui sebelum pertemuan ini dimulai, sudah ia ketahui sejak Program E pertama kali muncul sebagai sesuatu yang perlu dipantau. Yang sedang ia hitung adalah hal yang berbeda dan yang lebih tidak bisa dikomunikasikan dalam kalimat-kalimat pendek: kemungkinan-kemungkinan, jalur-jalur, titik-titik lemah dari setiap jalur, dan di balik semua itu, cara orang-orang tertentu akan bereaksi ketika sesuatu mulai bergerak.


Termasuk orang-orang yang belum terlibat hari ini tapi yang mungkin akan terlibat suatu hari nanti.


Termasuk orang-orang di luar ruangan ini.


---


Ia tahu tentang Anne bahkan sebelum pertemuan ini.


Bukan karena Anne melakukan sesuatu yang menarik perhatian — pada waktu itu Anne belum melakukan apa pun yang perlu diperhatikan oleh siapa pun. Tapi Pradipta sudah cukup lama melakukan apa yang ia lakukan untuk memahami bahwa mengetahui tentang seseorang sebelum ada alasan untuk mengetahui adalah investasi yang hampir selalu menghasilkan pengembalian lebih besar dari biayanya.

Lihat selengkapnya